Periskop.id - Kementerian Pertanian (Kementan) memastikan kesiapan infrastruktur pengairan untuk menjaga produksi pangan nasional menjelang musim kemarau. Koordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) disebut sudah berjalan, mencakup irigasi, embung, pompanisasi, hingga waduk dan bendungan.
Menteri Pertanian Amran Sulaiman menyebutkan, pemerintah sudah mengantisipasi datangnya kemarau yang biasanya berlangsung Agustus hingga Oktober. Ia memperkirakan hujan mulai turun pada akhir Oktober, mengikuti pola musim di tahun-tahun sebelumnya.
"Setiap Agustus, September, Oktober itu kemarau. November biasanya sudah hujan, seingat saya tanggal 26 Oktober sudah turun hujan. Tapi kita sudah antisipasi, pompa ada 100 ribu lebih," kata Amran saat ditemui di kantornya, Jakarta, Senin (27/7).
Amran menambahkan, sinergi antara Kementan dan Kementerian PU dalam menjaga fasilitas pengairan seperti waduk dan bendungan sudah berjalan sejak dua tahun lalu.
"Koordinasi dengan PU sudah jalan, sudah dua tahun. Irigasi, embung, pompanisasi, irpom, waduk, sampai bendungan yang baru diresmikan Bapak Presiden, semua sudah jalan," ujarnya.
Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (LIP) Kementan Hermanto senada dengan Amran. Ia menegaskan koordinasi lintas kementerian sudah terjalin sejak awal, terutama untuk merespons wilayah yang rawan kekeringan ekstrem.
"Dalam menghadapi musim kemarau ini, Kementan melalui Ditjen LIP dengan PU sudah terkoordinasi dari awal. Setiap ada titik kekeringan ekstrem, kami langsung turun bersama," ujar Hermanto ditemui terpisah.
Selain koordinasi dengan PU, Hermanto menjelaskan Kementan juga menjalankan sejumlah program pendukung pengairan di tingkat petani, mulai dari irigasi perpompaan, irigasi perpipaan, hingga bangunan konservasi air.
"Kita sudah punya program menangani irigasi seperti irpom, irigasi perpompaan, irigasi perpipaan, sampai bangunan konservasi seperti embung dan long storage yang terus berjalan, dikerjakan kelompok tani," kata dia.
Meski begitu, Hermanto mengungkapkan sejumlah wilayah di Pulau Jawa sudah mulai mengalami kekeringan di beberapa titik. Kementan disebut bakal menggelar rapat koordinasi lanjutan agar penanganan di lapangan bisa lebih cepat.
"Ada beberapa titik, khususnya di Pulau Jawa, yang sudah mulai kekeringan, tapi kita terus bantu. Rencananya Rabu ini kita rakor lagi untuk konsolidasi supaya respons di lapangan bisa lebih cepat," ujarnya.
Hermanto menjelaskan pembagian kewenangan antara dua kementerian dalam urusan pengairan. Menurutnya, pemeliharaan bendungan, waduk, serta jaringan irigasi primer dan sekunder merupakan tanggung jawab Kementerian PU lewat Balai Wilayah Sungai (BWS), sementara Kementan fokus menjalankan program pendukung di level petani.
"Kementan terus menambah pompa, terutama untuk daerah yang airnya sangat kurang tapi masih punya sumber air yang bisa dipompa," pungkas Hermanto.
Tinggalkan Komentar
Komentar