Periskop.id - Insinyur kimia dari Stanford University di California berhasil menciptakan virus bakteriofag pertama di dunia yang dirancang menggunakan teknologi AI generatif.
Inovasi bioteknologi ini difokuskan untuk mengatasi infeksi bakteri E. coli yang telah resisten terhadap pengobatan medis konvensional.
Brien Hie, insinyur Stanford University yang memimpin studi tersebut, memaparkan bahwa penggunaan model bahasa genom AI memungkinkan perancangan genom bakteriofag yang dapat berfungsi penuh.
Menurutnya, temuan ini dipublikasikan dalam jurnal Science dan menjadi bukti awal kemampuan AI merancang genom virus hidup.
"Kemampuan merancang genom secara cepat dan menyesuaikannya melawan bakteri tertentu dapat mentransformasi terapi bakteriofag sekaligus memperluas jangkauan alat bioteknologi," tulis Hie dan tim dalam laporan penelitian mereka di California dikutip pada Jumat (7/8).
Ia melanjutkan, pengujian dilakukan dengan memanfaatkan model AI bernama Evo1 dan Evo2 yang dilatih menggunakan data genetik dari dua juta bakteriofag.
Menurut penjelasan tim peneliti, data genetik virus pembawa penyakit pada manusia, hewan, dan tumbuhan telah disingkirkan dari sistem pelatihan untuk mencegah risiko keamanan biologi.
Melalui proses evaluasi tersebut, AI memproduksi ribuan usulan genom sebelum akhirnya dipilah menjadi 300 calon terbaik untuk diproduksi di laboratorium.
Tim memaparkan bahwa kode genetik pilihan tersebut dimasukkan ke dalam sel bakteri guna merangsang pembentukan jenis virus baru.
Meski tahap produksi belum sepenuhnya efisien dan hanya menghasilkan 16 bakteriofag hidup dari ratusan percobaan, pengujian membuktikan hasilnya tetap optimal. Menurut hasil uji laboratorium, kombinasi virus buatan ini efektif melumpuhkan dua varian bakteri E. coli yang membal terhadap bakteriofag alami.
Pengembangan teknologi genom sintetis ini dinilai memunculkan perhatian serius mengenai aspek biosekuritas dan keselamatan laboratorium.
Pihak peneliti mengimbau setiap perancang genom utuh untuk berkoordinasi secara ketat dengan ahli keamanan hayati sepanjang proses riset.
Profesor Tom Inglesby dan Moritz Hanke dari Center for Health Security di Johns Hopkins University menegaskan bahwa penemuan ini membawa tantangan biosekuritas yang mendesak.
Menurut mereka, ketersediaan teknologi merangkai genom AI saat ini belum diimbangi oleh regulasi serta tata kelola tata kelola keamanan yang memadai.
Profesor rekayasa genom sintetis dari Imperial College London, Tom Ellis, menyatakan bahwa pembatasan akses data genetik berbahaya menjadi langkah krusial untuk mencegah penyalahgunaan AI.
Menurutnya, potensi ancaman penyalahgunaan AI untuk merancang patogen berbahaya sejauh ini masih sering dibesar-besarkan oleh publik.
"Ancaman dari AI yang merancang dan menulis utuh genom virus atau bakteri sebenarnya masih terlalu dibesar-besarkan, terutama jika dibandingkan dengan fakta bahwa memodifikasi patogen yang sudah ada secara langsung jauh lebih mudah dilakukan," kata Ellis.
Di sisi lain, pakar sains dan keamanan internasional dari King's College London, Filippa Lentzos, menilai titik pengawasan utama harus difokuskan pada tahap sintesis DNA.
Menurut pertimbangannya, pemerintah perlu menerapkan aturan berlapis yang mencakup peninjauan riset, penyaringan sintesis DNA, hingga pengetatan standar laboratorium.
"Pendekatan berlapislah yang paling masuk akal, yaitu mencakup perlindungan pada pengembangan dan akses model AI, peninjauan riset yang bertanggung jawab, penyaringan proses sintesis DNA, serta penerapan standar keselamatan dan keamanan laboratorium yang ketat," ujar Lentzos.
Sebagai informasi, bakteriofag merupakan jenis virus khusus yang menyerang sel bakteri dan telah lama dimanfaatkan dalam dunia medis untuk mengobati infeksi kronis.
Penggunaan teknologi AI ini berpotensi membuka ruang terapi baru, meski para ahli menyarankan agar eksperimen pada patogen pembawa penyakit bagi manusia dan hewan tidak dilanjutkan.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar