Harga Minyak Melonjak 2,5% Usai AS Serang Iran di Larak
Brent tembus US$90 per barel usai AS gempur peluncur rudal Iran di Pulau Larak. Iran mengancam balas dendam lewat Garda Revolusi.

Periskop.id - Harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari 2% pada perdagangan awal sesi Asia, Senin (31/8) pukul 05.30 WIB. Brent kembali menembus level US$90 per barel usai pasukan Amerika Serikat menyerang dua peluncur rudal Iran di Pulau Larak, Selat Hormuz.
Brent kontrak pengiriman Oktober 2026 naik US$2,22 atau 2,52% menjadi US$90,32 per barel. WTI untuk kontrak yang sama menguat US$2,01 atau 2,41% ke level US$85,41 per barel.
"Serangan itu menewaskan dan melukai beberapa tentara dan warga sipil," kata Garda Revolusi Iran, sebagaimana dilaporkan media pemerintah Iran usai insiden di Pulau Larak, Minggu (30/8/2026).
Serangan tersebut tercatat sebagai aksi militer AS pertama yang diketahui di kawasan Teluk sejak akhir Juli 2026. Garda Revolusi menyebutkan aksi tersebut bakal mendapat balasan dari Teheran.
"Tanggapan dan hukuman" dijanjikan Garda Revolusi Iran akan diberikan kepada AS atas serangan tersebut.
Kantor berita semi-resmi Iran, Tasnim, melaporkan serangan itu dilakukan menggunakan drone yang menyasar Pulau Larak. Insiden ini menambah ketegangan di jalur pelayaran minyak strategis Selat Hormuz.
Kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak dari kawasan tersebut kembali muncul menyusul insiden ini. Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran penting bagi distribusi minyak mentah global.
Pekan lalu, Presiden AS Donald Trump menyatakan seluruh ranjau di perairan internasional Selat Hormuz telah diledakkan atau disingkirkan. Trump juga menegaskan Iran telah diberi peringatan bahwa kapal atau perahu yang memasang ranjau baru akan dihancurkan.
Pernyataan Trump tersebut disampaikan di tengah upaya AS menjaga keamanan jalur pelayaran minyak di kawasan Teluk. Ketegangan antara AS dan Iran di Selat Hormuz belakangan kembali meningkat usai serangan di Pulau Larak.
Lonjakan harga minyak pagi ini mencerminkan kekhawatiran pelaku pasar atas potensi eskalasi konflik di kawasan penghasil minyak utama dunia. Pergerakan Brent dan WTI ke depan diperkirakan masih akan dipengaruhi perkembangan situasi di Selat Hormuz.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Donald Trump, Garda Revolusi Iran, harga minyak dunia, Brent Crude, dan West Texas Intermediate (WTI) dengan mengeklik tautan.



Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.