Periskop.id - Nilai tukar dolar Amerika Serikat menguat tajam terhadap rupiah pada pembukaan perdagangan awal pekan ini. Mengutip data Bloomberg, Senin (20/7), dolar AS naik 0,32% ke level Rp17.978.

Penguatan tersebut setara kenaikan sekitar 57 poin dari posisi sebelumnya. Posisi ini membuat dolar AS kian mendekati ambang psikologis Rp18.000.

Tak cuma terhadap rupiah, dolar AS juga tercatat menguat terhadap sebagian besar mata uang global lainnya pagi ini.

Penguatan itu terjadi seiring memanasnya konflik di Timur Tengah, dibarengi kenaikan harga minyak dunia yang cukup signifikan.

"Pasar valuta asing relatif tenang, dengan US$ secara umum stabil, sementara AU$ melemah terhadap dolar AS dan sebagian besar mata uang utama," tulis analis Westpac dalam risetnya, Senin (20/7).

Melansir Reuters, dolar AS naik 0,1% terhadap yen Jepang menjadi 162,48 yen per dolar AS. Kenaikan ini didorong ketegangan geopolitik yang membuat investor memburu aset safe-haven.

Level tersebut jadi yang terkuat bagi dolar AS sejak 9 Juli lalu.

Euro pun ikut melemah 0,1% terhadap dolar AS menjadi US$1,1426.

Sementara itu, poundsterling Inggris relatif stabil di level US$1,3445. Dolar Australia turun 0,1% menjadi US$0,6975, sedangkan dolar Selandia Baru melemah 0,2% ke US$0,5833.

Kondisi pasar keuangan global disebut masih rentan terhadap sentimen negatif, menurut catatan Westpac.

"Sentimen pasar terus memburuk karena kekhawatiran seputar valuasi semikonduktor membebani selera risiko, sementara ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah Iran menangguhkan komitmennya berdasarkan kesepakatan perdamaian sementara," sambung analis Westpac.