Purbaya Proyeksikan Pertumbuhan Ekonomi 6% Bisa Ciptakan 2,4 Juta Lapangan Kerja Baru
Pertumbuhan ekonomi 6% diperkirakan menciptakan 2,4 juta lapangan kerja, tetapi penyerapan tenaga kerja penuh membutuhkan pertumbuhan 6,5-6,7%.

Periskop.id - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa memperkirakan pertumbuhan ekonomi nasional 6% dapat menciptakan sekitar 2,4 juta lapangan kerja. Ia menyebut pertumbuhan ini masih belum cukup untuk menyerap seluruh penduduk usia kerja.
Purbaya menjelaskan, perkiraan itu dihitung dari kemampuan setiap pertumbuhan 1% produk domestik bruto (PDB) menciptakan sekitar 400 ribu lapangan kerja.
“Kalau 1 persen yang sekarang 400 ribu. Kalau 6 (persen), kali 4 (ratus ribu), berarti 2,4 juta lapangan kerja akan tercipta dari pertumbuhan 6 persen,” kata Purbaya kepada wartawan di kantor Kementerian Keuangan, Jakarta, Jumat.
Menurut Purbaya, penyerapan tenaga kerja secara lebih luas membutuhkan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dari 6%. Ia memperkirakan tingkat pertumbuhan 6,5-6,7% diperlukan agar seluruh tenaga kerja usia kerja dapat terserap.
Purbaya mengatakan pemerintah ingin meningkatkan laju pertumbuhan ekonomi secara bertahap. Menurutnya, percepatan tersebut diperlukan agar lebih banyak tenaga kerja terserap sekaligus mengurangi pengangguran.
“Makanya, kami ingin ekonominya pelan-pelan makin tumbuhnya makin cepat, sehingga orang yang masih berusia kerja terserap dan pengangguran terserap juga,” jelas Purbaya.
Ia menilai pertumbuhan ekonomi 5% belum memadai untuk mendorong penyerapan tenaga kerja secara optimal. Purbaya menyebut ekonomi Indonesia baru diarahkan menuju pertumbuhan 6% pada semester kedua tahun ini.
“Kalau pertumbuhan 5 persen nggak cukup, makanya kita gini-gini saja. Kita baru menuju 6 persen kan semester kedua ini. Tahun depan 6 persen, tahun depannya lagi kami desain akan lebih cepat lagi,” ujarnya.
Sejalan dengan itu, pemerintah menargetkan ekonomi Indonesia tumbuh 6% secara tahunan pada 2027. Target tersebut tercantum dalam Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2027.
Presiden Prabowo Subianto menyatakan target pertumbuhan 2027 tersebut lebih tinggi dibandingkan sasaran dalam APBN 2026 yang berada di level 5,4%.
Selain pertumbuhan ekonomi, pemerintah menetapkan sejumlah sasaran ekonomi makro untuk 2027. Inflasi ditargetkan berada di kisaran 2,5%, sedangkan imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) 10 tahun diperkirakan mencapai 6,9%.
Nilai tukar rupiah pada 2027 diproyeksikan berada di sekitar Rp17.500 per US$1. Pemerintah juga memperkirakan harga minyak mentah Indonesia berada pada US$75 per barel.
Di sektor energi, pemerintah menargetkan lifting minyak mencapai 610.000 barel per hari. Sementara itu, lifting gas ditargetkan sebesar 954.000 barel setara minyak per hari.
Pada sisi kesejahteraan, pemerintah menargetkan tingkat kemiskinan 2027 turun ke kisaran 6,0-6,5%. Sasaran tersebut lebih rendah dibandingkan target APBN 2026 yang berada pada rentang 6,5-7,5%.
Tingkat pengangguran terbuka 2027 juga ditargetkan turun menjadi 4,30-4,87%. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan target 2026 yang berada di kisaran 4,44-4,96%.
Pemerintah turut menargetkan rasio gini membaik menjadi 0,362-0,367 dari sasaran 2026 sebesar 0,377-0,380. Indeks modal manusia pada 2027 ditargetkan meningkat menjadi 0,575.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Purbaya Yudhi Sadewa, dan Pertumbuhan Ekonomi dengan mengeklik tautan.



Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.