Periskop.id - Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto menegaskan komitmen pemerintah, untuk bergerak bersama dalam merehabilitasi sawah yang terdampak bencana di wilayah Sumatera.

Ia menjelaskan, pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah mengambil langkah-langkah signifikan dalam pemulihan lahan pertanian. Di antaranya dengan memanfaatkan teknologi yang didukung oleh berbagai pemangku kepentingan, seperti Badan Urusan Logistik (Bulog) dan sektor pupuk.

Upaya itu dinilai krusial mengingat sektor pertanian memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian nasional. "Sumatera ini menyumbang 22% dari PDB (produk domestik bruto) Indonesia. Tentu, pemulihan (sawah) ini juga akan berdampak signifikan," kata Bima dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (15/1).

Hal itu disampaikan Bima saat memberikan sambutan pada kegiatan Groundbreaking Rehabilitasi Sawah Terdampak Bencana Aceh-Sumatera di Desa Pinto Makmur, Kecamatan Muara Batu, Kabupaten Aceh Utara, Aceh. Kegiatan tersebut turut dihadiri oleh Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman, Ketua Komisi IV DPR RI Titiek Soeharto serta Wakil Gubernur Aceh Fadhlullah.

Bima menyampaikan, berdasarkan hasil peninjauan dan dialog dengan para kepala daerah di wilayah terdampak bencana di Sumatera, terdapat kesamaan testimoni. Salah satunya, dampak bencana kali ini dirasakan lebih luas dan berkepanjangan dibandingkan dengan tsunami Aceh.

"Dampaknya lebih dahsyat daripada tsunami, dalam hal cakupan luasan, lamanya bencana, dan juga dampak ekonomi. Terlebih seperti Bapak Presiden Prabowo selalu ingatkan kepada kegiatan kami, bergerak cepat, bergerak bersama-sama. Kita melihat bahwa hari ini, semua turun," ujarnya.

Lebih lanjut, Bima menegaskan peran Kemendagri, dalam memastikan seluruh kepala daerah terdampak tidak berjalan sendiri dalam proses pemulihan.

Pendampingan dilakukan secara langsung dengan pembagian peran yang jelas dan berkelanjutan. Pihaknya juga berupaya memastikan tidak ada celah yang terlewat dalam penanganan di lapangan.

"Saya sendiri sudah berusaha bolak-balik, Aceh Tamiang, Langsa, sekelilingnya untuk mendampingi bersama-sama dengan kepala daerah, memastikan celah-celah apa saja yang masih belum tersentuh," jelasnya.

Tanggung Jawab Pemerintah
Kementerian Pertanian sendiri menyatakan mulai merehabilitasi dan menanam kembali sawah terdampak banjir serta longsor di wilayah Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Hal ini guna memulihkan produksi pangan, menjaga pendapatan petani, dan memastikan musim tanam berjalan normal.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan, pemulihan sawah menjadi tanggung jawab pemerintah dengan perhatian penuh sejak bencana terjadi. Hal ini demi memastikan respons cepat dan keberlanjutan bantuan bagi masyarakat terdampak.

"Hari ini saatnya kita rehabilitasi sawah, irigasi, dan seterusnya. Kami lihat laporan total kerusakan kurang lebih total ketiga provinsi kurang lebih 100 ribu hektare. Insya Allah kita kerjakan mulai yang ringan, sedang, baru terakhir yang berat," kata Mentan dalam peninjauan rehabilitasi sawah yang dipusatkan di Desa Pinto Makmur, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, Aceh, Kamis.

Pemerintah kini memasuki tahap rehabilitasi sawah, irigasi, dan sarana pendukung, dengan total kerusakan sekitar 100 ribu hektare di tiga provinsi, diprioritaskan dari kategori ringan hingga berat. Amran menyebutkan, sekitar 90–95% lahan terdampak ringan dan sedang ditargetkan segera dipulihkan, disertai bantuan benih gratis agar petani dapat kembali menanam tepat waktu.

Program rehabilitasi sendiri, lanjutnya, dilakukan melalui padat karya, melibatkan langsung petani pemilik lahan, dengan upah harian dibayar pemerintah pusat untuk menciptakan lapangan kerja lokal.

"Di sini kami hitung tadi ada kurang lebih 10 ribu hektare (sawah terdampak). Ini membutuhkan HOK, Hari Orang Kerja, kurang lebih 200 ribu. Dan itu digaji harian. Jadi mengerjakan lahannya sendiri," ucapnya.

Sebagai keseriusan pemerintah, Amran menugaskan pejabat teknis dan direktorat terkait untuk siaga di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, memastikan pendampingan berkelanjutan hingga rehabilitasi tuntas.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian, sawah terdampak bencana di wilayah Aceh secara keseluruhan mencapai 54.233 hektare tersebar di 21 kabupaten/kota. Rinciannya kategori ringan 23.893 hektare, sedang 8.759 hektare, berat 21.851 hektare.

Sementara di Sumatera Utara sawah terdampak mencapai 37.318 hektare dengan rincian kategori ringan 22.274 hektare, sedang 10.690 hektare, berat 4.354 hektare. Sedangkan di Sumatera Barat total sawah terdampak 6.451 hektare dengan rincian kategori ringan 2.802 hektare, sedang 822 hektare, dan berat 2.827 hektare.

Untuk tahap awal rehabilitasi dilakukan seluas 13.707 hektare tersebar di Aceh 6.530 hektare, Sumatera Utara 6.593 hektare, dan Sumatera Barat 3.624 hektare. Dalam rehabilitasi dan penanaman tahap awal Kementerian Pertanian menerjunkan alat mesin 43 unit alat mesin pertanian, mulai dari traktor hingga pesawat tanpa awak (drone), 836 bibit padi, dan 200 ton pupuk urea.

Diketahui, dalam kunjungannya Amran turut didampingi Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi atau yang akrab disapa Titiek Soeharto, bersama Anggota Komisi IV DPR RI lainnya, Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani dan penjabat lainnya.