Karhutla Nabire Meluas 396 Hektare, Water Bombing Dibutuhkan untuk Tangani Titik Api yang Sulit Dijangkau
Karhutla di Nabire telah membakar 396,13 hektare lahan di tujuh distrik. Pemda meminta dukungan water bombing karena sejumlah titik api sulit dijangkau

Periskop.id - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Nabire, Papua Tengah, terus menjadi perhatian setelah luas area terbakar mencapai 396,13 hektare. Sejumlah titik api bahkan belum berhasil dipadamkan karena berada di kawasan yang sulit dijangkau armada darat, sehingga pemerintah daerah meminta dukungan helikopter water bombing dan tambahan kendaraan pemadam.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat kebakaran berlangsung sejak 18 Juli hingga 23 Agustus 2026 dan tersebar di tujuh distrik, yakni Teluk Kimi, Nabire Kota, Nabire Barat, Wanggar, Nabire, Makimi, dan Yaur.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan kondisi cuaca ikut memperbesar risiko penyebaran kebakaran.
"Kebakaran diduga dipicu oleh kondisi cuaca panas, angin kencang, serta banyaknya semak dan ilalang kering di wilayah tersebut," kata Berton.
Berdasarkan pendataan BPBD Kabupaten Nabire, empat kepala keluarga tercatat terdampak langsung dan mendapatkan pendampingan dari petugas gabungan.
Persoalan utama kini berada pada sejumlah titik kebakaran yang tidak dapat dijangkau menggunakan kendaraan pemadam. Kondisi medan membuat operasi dari darat belum cukup untuk menjangkau seluruh kawasan terdampak.
"Sebagian titik api masih belum dapat dipadamkan, karena tidak dapat dijangkau armada pemadam kebakaran, membutuhkan dukungan lebih lanjut berupa water bombing dan tambahan armada pemadam," ucapnya.
Nabire Catat Lebih dari Seribu Hotspot
Besarnya ancaman karhutla juga terlihat dari pemantauan titik panas. BMKG mencatat 1.923 hotspot di seluruh Papua Tengah sepanjang 10-22 Agustus 2026, dengan Kabupaten Nabire menyumbang jumlah terbesar mencapai 1.069 titik.
Dari keseluruhan hotspot Papua Tengah, sebanyak 273 titik berada pada tingkat kepercayaan rendah, 1.537 kategori sedang, dan 113 titik kategori tinggi.
Kepala BMKG Nabire Husain Kamadi menjelaskan kondisi kering menjadi salah satu faktor yang membuat vegetasi semakin mudah terbakar.
"Kondisi saat ini, kita bisa lihat bahwa curah hujan sangat rendah. Sumber air khususnya di wilayah Kabupaten Nabire sangat rendah sehingga potensi kebakaran sangat mudah terjadi manakala terpicu oleh api," katanya.
Analisis BMKG menunjukkan curah hujan di Nabire dalam tiga dasarian terakhir berada pada kondisi sangat rendah. Berkurangnya sumber air membuat proses pemadaman juga menjadi semakin menantang ketika kebakaran berlangsung jauh dari sumber air maupun akses jalan.
BMKG turut mengingatkan banyaknya hotspot berpotensi menurunkan kualitas udara. Papua Tengah saat ini belum memiliki stasiun Global Atmosphere Watch untuk mengukur kualitas udara secara langsung, tetapi kondisi asap sudah terlihat secara visual di Nabire.
"Selama tidak ada hujan di wilayah Kabupaten Nabire, asap akan selalu bertahan. Partikel-partikel udara ini akan terus bertahan di atmosfer," kata Husain.
Asap Sempat Lumpuhkan Penerbangan
Dampak karhutla sebelumnya sudah merambat ke sektor transportasi udara. Pada Jumat (21/8), dua penerbangan di Bandara Douw Aturure Nabire dibatalkan setelah asap menurunkan jarak pandang hingga di bawah 70 meter.
Penerbangan Nam Air rute Nabire-Makassar dan Wings Air rute Timika-Nabire menjadi dua layanan yang terdampak. Bandara sempat ditutup sekitar pukul 15.30 WIT untuk menjaga keselamatan penerbangan.
Plt Kepala UPBU Kelas II Douw Aturure Nabire Alrido Simanjuntak mengatakan kondisi tersebut jauh di bawah jarak pandang yang dibutuhkan untuk penerbangan.
"Jarak pandang tadi sudah kabur di bawah 70 meter, padahal jarak pandang untuk penerbangan seharusnya 5 kilometer. Karena kondisi tersebut, ada dua penerbangan yang terdampak akibat asap ini," katanya.
Titik kebakaran ketika itu dilaporkan hanya sekitar 70 meter dari pagar perimeter bandara. Petugas melakukan penyemprotan terhadap vegetasi di sekitar pagar untuk mencegah api merambat menuju landasan.
Dalam kondisi normal, Bandara Douw Aturure melayani sekitar 40 pergerakan pesawat atau 20 hingga 25 penerbangan setiap hari. Gangguan akibat asap karena itu berpotensi berdampak langsung terhadap konektivitas Nabire dengan daerah lain.
Papua Tengah Bentuk Satgas di Delapan Kabupaten
Pemerintah Provinsi Papua Tengah kini memperkuat koordinasi penanganan melalui pembentukan Satgas Penanggulangan Karhutla di delapan kabupaten. Satgas dibentuk berdasarkan Keputusan Gubernur Papua Tengah Nomor 100.3.1.144 Tahun 2026 dan dipimpin Gubernur Papua Tengah Meki Nawipa.
Setiap bupati bertindak sebagai ketua satgas di daerah masing-masing. Pemerintah provinsi meminta kabupaten memiliki data perkembangan kebakaran, kebutuhan peralatan, serta langkah tanggap darurat yang telah dilakukan agar dukungan dapat diarahkan sesuai kondisi lapangan.
Polda Papua Tengah juga telah mengerahkan ratusan personel gabungan bersama Brimob untuk membantu pemadaman dan mencegah api mendekati permukiman. Pemantauan dilakukan bersamaan dengan patroli terhadap titik api dan koordinasi dengan masyarakat.
“Penanganan karhutla tidak boleh hanya berorientasi pada pemadaman ketika api telah membesar, tetapi harus mengutamakan upaya pencegahan sejak dini,” kata Wakapolda Papua Tengah Kombes Pol. Gustav Robby Urbinas saat apel kesiapsiagaan Satgas Karhutla, Senin (24/8).
Operasi Udara Jadi Kebutuhan Mendesak
Permintaan water bombing dari Nabire menunjukkan operasi darat mulai menghadapi keterbatasan geografis. Dukungan udara memungkinkan air dijatuhkan ke lokasi yang tidak dapat dijangkau kendaraan pemadam, meskipun penggunaannya tetap harus dipadukan dengan pemadaman dan pendinginan dari darat.
BNPB sendiri telah menerapkan kombinasi operasi serupa di wilayah karhutla lain. Di Kalimantan Barat pada Minggu (23/8), empat helikopter water bombing melakukan 223 kali penjatuhan dengan total sekitar 1,05 juta liter air. Di Kalimantan Selatan, dua helikopter menjatuhkan sekitar 1,03 juta liter air dalam 243 kali penjatuhan.
Pengalaman tersebut memperlihatkan dukungan udara dapat memperluas jangkauan pemadaman, tetapi keberhasilannya tetap bergantung pada akses air, kondisi angin, cuaca, serta operasi darat untuk memastikan bara benar-benar padam.
Dengan 396,13 hektare lahan telah terbakar dan lebih dari seribu hotspot terdeteksi di Nabire dalam kurang dari dua pekan, fokus penanganan kini tidak hanya memadamkan titik api yang tersisa. Pemerintah juga perlu mencegah munculnya kebakaran baru, menjaga kualitas udara, melindungi permukiman dan fasilitas strategis, serta memastikan dukungan water bombing segera tersedia apabila operasi darat tidak lagi mampu menjangkau medan terdampak.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla), dan Nabire dengan mengeklik tautan.







Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.