iklan periskop
Nasional

Korban Gempa NTT Tembus 100 Jiwa, 180 Ribu Warga Masih Mengungsi

Korban meninggal gempa M7,7 NTT bertambah menjadi 100 jiwa. BNPB mencatat 1.603 orang terluka dan 180.327 warga masih mengungsi

12 jam yang lalu · 5 mnt baca
BNPB
Proses bongkar muat di Pos Dukungan Logistik Nasional (POSDUKLOGNAS) PDB Gempabumi Nusa Tenggara Timur , Jakarta (18/8) dok. BNPB/ Beratria Sukisno
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Jumlah korban meninggal akibat gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus bertambah. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 100 orang meninggal dunia hingga Senin (24/8/2026), sementara 1.603 orang mengalami luka-luka dan 180.327 warga masih bertahan di pengungsian.

Penambahan korban tidak seluruhnya berasal dari temuan baru di lokasi reruntuhan. Kepala BNPB Suharyanto menjelaskan sebagian korban merupakan pasien luka berat yang sebelumnya masih menjalani perawatan, tetapi akhirnya tidak dapat diselamatkan.

"Untuk jumlah meninggal, ini perlu kami tegaskan, bahwa yang meninggal seratus ini adalah korban gempa yang semula luka berat, yang dirawat di fasilitas kesehatan, ini tidak berhasil diselamatkan, sehingga yang semula di hari pertama, hari kedua ada 48 yang meninggal dunia, angka per hari ini total menjadi seratus yang meninggal dunia," katanya.

Angka terbaru tersebut meningkat dari 91 korban meninggal yang dilaporkan pada Minggu (23/8). Pada saat itu, jumlah pengungsi tercatat 161.084 orang. Artinya, dalam satu hari jumlah warga yang tercatat mengungsi bertambah lebih dari 19 ribu orang seiring proses pendataan dan masih tingginya kekhawatiran masyarakat terhadap gempa susulan.

Hoaks Tsunami Bikin Warga Mengungsi ke Perbukitan

Besarnya jumlah pengungsi tidak semata-mata dipengaruhi kerusakan rumah. BNPB menemukan banyak warga tetap meninggalkan tempat tinggalnya karena takut terhadap gempa susulan serta informasi tidak benar mengenai kemungkinan tsunami baru.

Sebagian warga bahkan mendirikan titik pengungsian secara mandiri di perbukitan yang jauh dari posko terpusat. Kondisi tersebut membuat distribusi makanan, air, layanan kesehatan, dan kebutuhan dasar menjadi lebih sulit bagi petugas.

Suharyanto meminta masyarakat tidak menjadikan informasi yang beredar tanpa sumber resmi, sebagai dasar mengambil keputusan. Karena itu, ada beberapa langkah yang pihaknya lakukan. "Pertama kami imbau kepada masyarakat yang mengungsi mandiri karena takut gempa susulan, ada isu tsunami susulan, semua itu tidak betul, karena setiap pagi instansi yang berwenang, sekali lagi Kepala BMKG selalu meng-update, menginformasikan perkembangan gempa, dan dalam delapan hari ini tidak pernah ada satupun gempa susulan yang melebihi gempa utama. Nah ini juga kami suarakan supaya masyarakat tidak percaya kepada isu-isu hoaks yang tidak bertanggung jawab," beber Suharyanto.

BMKG pada Senin juga kembali meminta masyarakat tetap tenang dan hanya menggunakan informasi dari kanal resmi. Gempa M5,2 yang terjadi pada Senin dini hari di kawasan Manggarai Timur dinyatakan tidak berpotensi tsunami dan merupakan bagian dari rangkaian gempa susulan gempa utama M7,7.

6.409 Gempa Susulan Tercatat

Aktivitas seismik di Flores memang masih sangat tinggi. BMKG mencatat 6.409 gempa susulan hingga Senin pukul 05.00 WIB. Gempa terbesar mencapai M6,2, sedangkan yang terkecil M1,1. Sebanyak 33 gempa tercatat berkekuatan M5 atau lebih dan 139 di antaranya dirasakan masyarakat.

"Susulan yang terbesar ada 6,2 magnitudo. Kemudian, yang terkecil 1,1. Yang sama dengan atau lebih besar dari 5 magnitudo ada 33 kali. Dan gempa susulan, ya tentu saja yang 33 kali itu pasti dirasakan masyarakat. Tetapi dari 6.409 kali gempa itu ada 139 kali yang dirasakan oleh masyarakat," kata Suharyanto.

Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan aktivitas tersebut masih diperkirakan berlangsung beberapa pekan sebelum kondisinya kembali lebih stabil.

“Aktivitas gempa susulan pada beberapa hari pertama masih relatif tinggi dan belum menunjukkan pola peluruhan yang signifikan,” kata Wijayanto.

Meski demikian, BNPB menyebut perkembangan dalam dua hari terakhir mulai menunjukkan penurunan. Dalam 24 jam terakhir sebelum konferensi pers, hanya satu gempa susulan yang dilaporkan dirasakan masyarakat. Rangkaian gempa diperkirakan masih berlangsung tiga sampai empat minggu dengan kecenderungan menurun.

baznas
Korban bencana gempa bumi memanfaatkan layanan kesehatan gratis yang disediakan oleh Badan Amil Zakat Nasional (Baznas RI) di Pondok Pesantren Pancasila, Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). dok. Baznas RI

Rumah Rusak Tembus 73 Ribu Unit

Dampak gempa juga terus bertambah seiring verifikasi lapangan. Dalam pembaruan terbaru yang disampaikan BNPB, sebanyak 73.818 rumah tercatat mengalami kerusakan, terdiri atas 23.276 rumah rusak berat, 17.563 rusak sedang, dan 32.979 rusak ringan. Selain itu, sebanyak 1.915 fasilitas umum seperti sekolah, tempat ibadah, kantor pemerintahan dan infrastruktur lainnya ikut terdampak.

Angka tersebut meningkat dibandingkan data per 22 Agustus yang mencatat 53.971 rumah rusak. BNPB sebelumnya menjelaskan pendataan memang dilakukan secara paralel di tujuh kabupaten dan terus melalui proses verifikasi serta validasi hingga tingkat desa. Karena itu, jumlah kerusakan masih dapat berubah selama asesmen berjalan.

"Tentu saja ini data sementara, seiring berjalannya waktu, data ini akan semakin lengkap. Data dikumpulkan secara berjenjang bottom-up, dari mulai tingkat yang paling kecil, kampung, rukun tetangga, naik lagi ke atas sampai tingkat desa, camat, bupati, dan di tingkat nasional, baik oleh BPS maupun oleh BNPB," ujar Suharyanto.

relawan, baznas, gempa NTT
Relawan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI membagikan makanan kepada penyintas bencana gempa bumi di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). dok. Baznas RI

Logistik Terus Dikirim, tetapi Pengungsi Mandiri Jadi Tantangan

Pemerintah terus mengirim logistik ke wilayah terdampak melalui jalur udara dan laut. Hingga 23 Agustus, BNPB mencatat 1.226 ton bantuan telah didistribusikan melalui 77 sorti penerbangan dan satu kapal laut, masing-masing menuju titik logistik Labuan Bajo dan Maumere.

Pada Senin dini hari, pemerintah kembali memberangkatkan tiga pesawat TNI AU menuju NTT dengan membawa 31 ton makanan siap konsumsi, antara lain biskuit, wafer, protein bar, roti, kebutuhan pangan lain serta mainan untuk anak-anak.

Namun, Suharyanto mengakui distribusi bantuan belum sepenuhnya menjangkau seluruh warga, terutama mereka yang memilih mengungsi secara mandiri jauh dari akses kendaraan.

"Apakah semuanya sudah ter-cover, apakah semuanya sudah dapat, apakah semuanya sudah cukup, kami jawab belum cukup. Tetapi seiring dengan berjalannya waktu, kami akan berusaha sekuat tenaga agar para pengungsi mandiri yang tetap bertahan di tempat-tempat yang jauh (atau) tidak mau merapat ke titik-titik pengungsian terpusat, tetap dilayani kebutuhan logistik dan kebutuhan dasar manusia lainnya," ucap Suharyanto.

BNPB sebelumnya menyebut bantuan masih dibutuhkan dalam bentuk tenda keluarga, terpal, kasur lipat, selimut, matras, genset, perlengkapan kebersihan, kebutuhan bayi, makanan siap saji, air mineral, beras hingga obat-obatan.

Gempa utama M7,7 mengguncang Flores pada 15 Agustus pukul 04.58 WIB dengan kedalaman 15 kilometer dan pusat gempa berada sekitar 30 kilometer timur laut Nagekeo. BMKG mengidentifikasi gempa tersebut sebagai gempa dangkal yang berkaitan dengan aktivitas Flores Back-arc Thrust.

Dengan korban meninggal kini mencapai 100 jiwa dan lebih dari 180 ribu warga mengungsi, tantangan penanganan mulai bergeser. Pemerintah tidak hanya harus memenuhi kebutuhan korban dan memperbaiki puluhan ribu rumah yang rusak, tetapi juga mengembalikan rasa aman masyarakat di tengah ribuan gempa susulan dan maraknya informasi palsu yang mendorong warga menjauh dari pos-pos pengungsian resmi.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Letjen TNI Suharyanto, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), gempa bumi, dan Gempa NTT dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.