Nasional

Update: Gempa NTT Tewaskan 111 Orang, Gempa Susulan Tembus 8.794 Kali

BNPB mencatat 111 korban meninggal dan 175.909 pengungsi akibat gempa NTT. BMKG merekam 8.794 gempa susulan dengan kekuatan terbesar M6,2

20 jam yang lalu · 5 mnt baca
gempa bumi, NTT
Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian meninjau lokasi terdampak gempa di NTT. dok. Kemendagri
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Dua pekan setelah gempa magnitudo 7,7 mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), dampak bencana masih jauh dari selesai. Sebanyak 111 orang meninggal dunia dan 175.909 warga masih mengungsi, sementara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah merekam 8.794 gempa susulan hingga Jumat (28/8/2026).

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut jumlah korban meninggal tidak bertambah dari pembaruan sebelumnya. Korban terbanyak berada di Kabupaten Manggarai sebanyak 45 orang, disusul Manggarai Timur 38 orang dan Nagekeo 13 orang. Wilayah lain yang mencatat korban meninggal ialah Sikka enam orang, Ngada lima orang, Ende tiga orang dan Manggarai Barat satu orang.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan aktivitas seismik masih tinggi setelah gempa utama pada 15 Agustus lalu.

"Hingga hari ini setelah gempa 7,7 magnitudo tanggal 15 Agustus 2026 yang lalu, BMKG sudah mencatat adanya 8.794 kali gempa susulan," kata dia.

Dari ribuan gempa tersebut, BNPB mencatat 152 di antaranya dirasakan masyarakat, sementara kekuatan terbesar mencapai magnitudo 6,2. BMKG dalam pembaruan pukul 05.00 WIB pada Jumat juga memastikan jumlah gempa susulan telah mencapai 8.794 kejadian.

Gempa Susulan Mulai Menurun, tapi Belum Berakhir

Meski jumlahnya terus bertambah, BMKG melihat kecenderungan aktivitas susulan mulai menurun. Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan pola penurunan sudah terlihat, meskipun dalam 24 jam terakhir sempat terjadi peningkatan kecil.

BMKG memperkirakan gempa susulan masih dapat berlangsung beberapa pekan setelah gempa utama.

"Aktivitas seismik susulan diprakirakan oleh para ahli masih berlanjut selama 3 hingga 4 minggu sejak gempa utama," cetus Berton.

Perkiraan tersebut konsisten dengan penjelasan BMKG sejak pekan pertama pascabencana. Pada 21 Agustus, ketika jumlah susulan baru mencapai 4.258 kejadian, BMKG sudah memperkirakan rangkaian aftershock dapat berlangsung hingga empat minggu.

Aktivitas itu masih terasa hingga Jumat. Data gempa real-time BMKG memperlihatkan beberapa gempa di kawasan Flores pada 28 Agustus, antara lain M4,1 di sekitar Flores Region pada pukul 06.55 WIB dan sejumlah gempa lebih kecil sepanjang pagi hingga sore.

Masyarakat karena itu diminta tidak langsung menganggap kondisi telah sepenuhnya aman hanya karena intensitas guncangan secara umum mulai menurun.

Lansia Dominasi Korban Meninggal

Profil korban menunjukkan kelompok rentan menanggung dampak besar. Dari 111 korban meninggal, 56,4% merupakan perempuan dan 43,6% laki-laki. Berdasarkan usia, sekitar 45% merupakan lansia, 37% kelompok dewasa, 12% anak-anak dan remaja, sementara sisanya bayi dan balita.

Sebaran korban meninggal terbesar berada di Manggarai dan Manggarai Timur. Dua daerah tersebut menyumbang 83 korban atau hampir tiga perempat dari keseluruhan korban jiwa yang tercatat BNPB.

Data itu menjadi perhatian karena kelompok lansia umumnya memiliki keterbatasan mobilitas ketika harus menyelamatkan diri dari bangunan, menghadapi gempa susulan maupun bertahan dalam kondisi pengungsian.

Hingga Jumat, jumlah warga yang mengalami luka atau sakit juga tercatat 1.674 orang.

Pengungsi Turun Jadi 175.909 Jiwa

Di sisi lain, jumlah warga yang bertahan di pengungsian mulai menurun. BNPB mencatat sebanyak 712 warga di Kabupaten Sikka telah kembali ke rumah, sehingga jumlah keseluruhan pengungsi turun menjadi 175.909 jiwa. Mereka tersebar di pos pengungsian terpusat maupun lokasi pengungsian mandiri.

Nagekeo memiliki jumlah pengungsi terbesar dengan 51.284 jiwa, disusul Manggarai 50.556 jiwa, Manggarai Timur 31.372 jiwa dan Manggarai Barat 27.564 jiwa. Sikka masih menampung 7.557 pengungsi, Ende 4.317 jiwa dan Ngada 3.259 jiwa.

BNPB tetap meminta warga yang belum yakin rumahnya aman tidak memaksakan diri untuk pulang. Pos pengungsian terpusat dinilai lebih mudah dijangkau untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti air bersih, makanan, dapur umum, fasilitas mandi, cuci dan kakus (MCK), serta pelayanan kesehatan.

Hampir 88 Ribu Rumah Terdampak

Skala kerusakan fisik juga terus bertambah seiring pendataan. Data penanganan darurat BNPB per Jumat mencatat 88.993 bangunan terdampak, dengan rumah warga mendominasi sebanyak 87.828 unit. Selain itu, kerusakan tercatat pada fasilitas kesehatan, kantor dan rumah ibadah.

Kerusakan juga ditemukan pada 206 titik jalan dan jaringan irigasi, dengan Manggarai Timur mencatat jumlah titik terdampak terbanyak. Angka rumah rusak masih dapat berubah karena pemerintah melakukan verifikasi by name, by address dan penilaian kategori rusak ringan, sedang atau berat di lapangan. BNPB sendiri mengakui data kerusakan masih bersifat dinamis.

Pemerintah sebelumnya menyiapkan bantuan Rp15 juta untuk rumah rusak ringan dan Rp30 juta untuk rusak sedang, sementara hunian rusak berat akan ditangani melalui pembangunan atau penggantian rumah.

BRIN dan BMKG Mulai Pikirkan Rekonstruksi Tahan Gempa

Penanganan kini mulai bergerak dari fase tanggap darurat menuju persiapan rehabilitasi dan rekonstruksi. BMKG telah menerjunkan tim ahli untuk melakukan survei mikroseismik dan makroseismik di Flores. Hasilnya akan digunakan membuat peta mikrozonasi yang menunjukkan perbedaan respons tanah terhadap guncangan gempa di setiap kawasan.

Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani mengatakan, hasil survei nantinya diberikan kepada pemerintah daerah, Kementerian PU dan Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman sebagai dasar penyusunan tata ruang serta desain bangunan tahan gempa.

Langkah tersebut penting karena kerusakan bangunan tidak hanya ditentukan besarnya magnitudo. Kondisi tanah lokal, kualitas konstruksi dan standar struktur juga memengaruhi seberapa besar sebuah bangunan menerima guncangan.

BRIN pada Jumat juga menyatakan tengah menyiapkan komersialisasi rumah modular tahan gempa setelah tiga prototipe di Manggarai Barat tetap berdiri ketika gempa M7,7 terjadi.

Logistik Sudah Lebih dari 1.900 Ton

Selain hunian, distribusi logistik masih menjadi pekerjaan besar karena lokasi pengungsian tersebar di tujuh kabupaten dan sebagian wilayah sulit dijangkau kendaraan. BNPB hingga Jumat telah menyalurkan sekitar 1.911 ton bantuan logistik. Pemerintah juga mulai mengirim 126 ton bantuan melalui jalur darat menuju Surabaya untuk kemudian dilanjutkan dengan kapal ke NTT, masing-masing 63 ton menuju pusat distribusi Labuan Bajo dan Maumere.

Pengiriman udara tetap dilakukan selama perjalanan logistik darat-laut berlangsung.

“Selama 8 hari ini kami juga akan mengirimkan, tentunya melalui udara, dan kami menjamin bahwa pemenuhan kebutuhan warga tetap terjaga,” ujar Berton.

Di sejumlah titik terpencil, distribusi bahkan harus dilakukan dengan berjalan kaki karena kendaraan roda dua maupun roda empat tidak dapat mencapai permukiman.

Dengan 111 korban meninggal, hampir 176 ribu orang masih mengungsi dan puluhan ribu rumah terdampak, pemulihan gempa Flores diperkirakan berlangsung panjang. Ribuan gempa susulan yang masih terjadi membuat fase rehabilitasi juga harus berjalan hati-hati, terutama sebelum masyarakat kembali menempati atau membangun rumah secara permanen.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), korban jiwa, gempa bumi, dan Gempa NTT dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.