Karhutla Ancam Pendaki, Sembilan Taman Nasional Ditutup Sementara
Kemenhut menutup sementara wisata pendakian di 9 taman nasional rawan karhutla. Kebijakan menyusul tingginya risiko kebakaran dan evakuasi 172 pendaki Semeru

Periskop.id - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengambil langkah pembatasan aktivitas wisata alam di tengah meningkatnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Wisata pendakian di sembilan taman nasional ditutup sementara, sementara empat kawasan lain hanya diperbolehkan beroperasi secara terbatas dengan pengawasan lebih ketat.
Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan, kebijakan tersebut diambil untuk melindungi keselamatan pendaki sekaligus menjaga agar personel dan armada pemadaman tidak terpecah ketika pemerintah sedang memusatkan penanganan karhutla di sejumlah wilayah prioritas.
"Secara resmi akan ada surat edaran dari Dirjen KSDAE (Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem), tapi saya bisa umumkan sementara ada penutupan sementara terhadap 9 taman nasional,” kata Menhut Raja Antoni seusai Rapat Koordinasi Penanganan Karhutla di Palembang, Sumatera Selatan, Senin (31/8/2026).
Penutupan tersebut terutama berlaku untuk aktivitas pendakian, bukan berarti seluruh objek wisata di dalam sembilan taman nasional otomatis ditutup. Rincian teknis dan ketentuan operasional selanjutnya akan dituangkan melalui surat edaran Direktorat Jenderal KSDAE.
Semeru hingga Lorentz Ditutup Sementara
Sembilan kawasan yang wisata pendakiannya ditutup sementara tersebar dari Sumatra hingga Papua. Sementara empat kawasan lainnya hanya dapat dikunjungi secara terbatas.
- Ditutup sementara: pendakian Gunung Semeru di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Taman Nasional Kerinci Seblat, Taman Nasional Gunung Ciremai, Taman Nasional Tambora, Taman Nasional Manusela, Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Taman Nasional Gunung Leuser, serta Taman Nasional Lorentz khusus jalur Ilaga, Tsinga, Sugapa, dan Ugimba.
- Dibuka terbatas: Taman Nasional Gunung Rinjani, Taman Nasional Gunung Merbabu, Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Hyang atau Argopuro, dan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Aktivitas di kawasan ini dilakukan dengan pengawasan ekstra ketat serta dibatasi pada zona yang dianggap aman.
Belum ada tanggal pembukaan kembali yang diumumkan secara umum. Status tiap kawasan akan bergantung pada kondisi kebakaran, cuaca, serta asesmen keamanan dari pengelola.
Kebakaran Taman Nasional Pecah Konsentrasi Pemadaman
Raja Juli menjelaskan kebakaran yang muncul di kawasan konservasi menjadi tantangan tersendiri bagi operasi nasional. Helikopter water bombing yang semestinya dapat difokuskan pada wilayah dengan risiko karhutla tinggi terpaksa dialihkan untuk menangani kebakaran di sejumlah taman nasional.
"Mengingat beberapa taman nasional kita juga terjadi kebakaran dan ini sangat menyulitkan kita untuk melakukan pemadaman, beberapa heli water bombing yang mestinya bisa dipergunakan, dimaksimumkan di enam provinsi prioritas, tapi karena ada kebakaran yang luar biasa di beberapa taman nasional akhirnya heli ini juga di-deploy ke taman-taman nasional tersebut," ujar Menhut.
Kementerian Kehutanan saat ini menetapkan Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Jambi, dan Riau sebagai enam provinsi prioritas pengendalian karhutla.
Pemantauan SiPongi Kemenhut bahkan mendeteksi 18.065 hotspot secara nasional pada 28 Agustus 2026, jumlah tertinggi dalam pemantauan harian sepanjang 1-28 Agustus. Perlu dicatat, hotspot merupakan indikasi anomali panas dari penginderaan satelit dan tidak seluruhnya dapat langsung disamakan dengan titik kebakaran yang telah terverifikasi di lapangan.
172 Pendaki Semeru Sempat Dievakuasi
Risiko terhadap wisatawan bukan sekadar potensi. Kebakaran di Gunung Semeru beberapa hari sebelumnya memaksa petugas mengevakuasi 172 pendaki yang berada di kawasan Ranu Kumbolo.
Api terdeteksi di kawasan Ranu Kembang, Blok Ayek-Ayek, serta Ledok Bedor yang berada di sekitar perbatasan Desa Argosari dan Ranupani. Medan terjal, tebing curam, angin, serta lokasi titik api yang sulit dijangkau membuat proses pemadaman tidak mudah.
Seluruh 172 pendaki akhirnya berhasil turun dalam kondisi selamat dan jalur pendakian Semeru ditutup total.
Peristiwa itu kemudian menjadi salah satu contoh yang disinggung Raja Juli ketika menjelaskan alasan pemerintah membatasi pendakian.
“Ini sekali lagi maksudnya adalah bukan kita membatasi keinginan para pendaki untuk menaiki taman nasional kita, tapi karena risiko yang sangat tinggi seperti yang terjadi terakhir di Bromo Tengger dan Semeru yang akhirnya mengakibatkan ada 170-an pendaki yang terjebak,” kata Menhut Raja Juli.
Pada penanganan kebakaran Semeru, tim gabungan bahkan harus memadamkan api secara manual di sejumlah titik karena kondisi medan sulit. Helikopter water bombing kemudian dipertimbangkan dan dikerahkan sebagai tambahan untuk operasi udara.
Kasus kebakaran kawasan konservasi juga tidak hanya terjadi di Semeru. Pada Agustus, kebakaran sempat melanda sekitar 600 hektare kawasan Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Sekitar 250 personel bersama masyarakat diterjunkan sebelum api dinyatakan berhasil dikendalikan.
Lebih dari 200 Ribu Hektare Terbakar Sepanjang 2026
Pembatasan pendakian dilakukan ketika luas karhutla nasional kembali meningkat.
Data Kementerian Kehutanan mencatat sekitar 202 ribu hektare lahan mengalami kebakaran sepanjang Januari-Juli 2026. Sekitar 57% di antaranya berada di dalam kawasan hutan, sementara 43% terjadi di Area Penggunaan Lain (APL).
Kalimantan Barat, Papua Selatan, Nusa Tenggara Timur, Nusa Tenggara Barat, dan Riau tercatat sebagai beberapa wilayah dengan luas kebakaran terbesar hingga Juli.
Angka tersebut melonjak cukup cepat dibanding posisi akhir Juni. Data SiPongi mencatat luas karhutla Januari-Juni masih sebesar 107.465,47 hektare, yang berarti penambahan luas area terbakar berlangsung signifikan sepanjang Juli.
Kondisi cuaca turut memperbesar risiko tersebut. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut hampir 80% wilayah Indonesia telah mengalami musim kemarau menjelang akhir Agustus. Sebagian besar wilayah bahkan berada di sekitar puncak kemarau.
Pada periode 25-27 Agustus saja, BMKG mencatat setidaknya 15 laporan kejadian karhutla di delapan provinsi. Sebaran asap juga terdeteksi antara lain di Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Maluku, serta sejumlah wilayah Papua.
BMKG sebelumnya memperkirakan puncak kemarau 2026 banyak terjadi pada Juli hingga September. Pada Agustus, puncak kemarau diproyeksikan meliputi Sumatra bagian tengah, sebagian besar Jawa dan Kalimantan, Bali, NTB, sebagian NTT, Sulawesi, Maluku hingga Papua.
Penutupan Bukan Larangan Permanen
Kemenhut menekankan pembatasan tersebut bersifat sementara dan berorientasi pada keselamatan, bukan untuk menutup akses masyarakat terhadap wisata alam secara permanen. Bagi kawasan yang masih dibuka terbatas seperti Rinjani, Merbabu, Argopuro, dan Halimun Salak, pengawasan akan diperketat dengan aktivitas hanya diperbolehkan di zona yang dinilai aman.
Kebijakan serupa sebenarnya bukan hal baru dalam pengelolaan kawasan konservasi. Kemenhut sebelumnya telah menggunakan penutupan sementara dan pembatasan jumlah pengunjung ketika terdapat risiko bencana, kebutuhan pemulihan ekosistem maupun potensi aktivitas wisata melampaui kemampuan kawasan. Pada Maret 2026, Raja Juli juga meminta pengelola taman nasional mengutamakan prinsip zero accident, kesiapan tenaga medis, serta penerapan kuota pengunjung.
Dengan ancaman karhutla yang masih tinggi, pemerintah kini memilih memprioritaskan keselamatan dan pemadaman. Pendaki yang berencana mengunjungi kawasan konservasi juga perlu memeriksa pengumuman resmi balai taman nasional sebelum berangkat karena status pendakian dapat berubah mengikuti perkembangan titik api, cuaca, dan hasil asesmen lapangan.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Raja Juli Antoni, Kementerian Kehutanan (Kemenhut), pendakian gunung, dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) dengan mengeklik tautan.



Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.