Kemenhut Tutup Sementara Pendakian di 9 Taman Nasional
Sembilan kawasan taman nasional berisiko tinggi karhutla ditutup mulai Selasa (1/9), sementara empat gunung lain masih bisa didaki dengan pengawasan ketat.

Periskop.id - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menutup sementara aktivitas pendakian di sembilan kawasan taman nasional berisiko tinggi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai Selasa (1/9). Kebijakan ini diambil menjelang puncak musim kemarau 2026 di seluruh kawasan konservasi Indonesia.
Direktur Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE) Kemenhut Satyawan Pudyatmoko menjelaskan, penutupan diatur lewat surat edaran bernomor SE.4/KSDAE/SKSDAE/KSA.02.02/B/8/2026. Aturan itu sekaligus jadi panduan pengelolaan wisata pendakian gunung di Kawasan Suaka Alam (KSA) dan Kawasan Pelestarian Alam (KPA) se-Indonesia.
"Kebijakan ini diambil sebagai langkah proaktif dan terukur demi melindungi keutuhan ekosistem serta menjamin keselamatan para pendaki," kata Satyawan dalam keterangan di situs resmi Kemenhut, Selasa (31/8).
Menurutnya, status setiap jalur pendakian tidak dipukul rata. Penentuannya mengacu pada pemetaan risiko yang mempertimbangkan kerentanan kawasan, keberadaan bahan bakar kering di permukaan, dampak ekologis, hingga kesiapan tim pengendali di lapangan.
Sembilan kawasan yang masuk kategori risiko tinggi dan ditutup total meliputi Gunung Semeru di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, Taman Nasional Kerinci Seblat, Taman Nasional Gunung Ciremai, dan Taman Nasional Tambora. Empat kawasan lain yang juga disetop adalah Taman Nasional Manusela, Taman Nasional Bukit Baka Bukit Raya, Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, Taman Nasional Gunung Leuser, serta jalur Ilaga, Tsinga, Sugapa, dan Ugimba di Taman Nasional Lorentz.
Sementara itu, empat kawasan berisiko sedang masih bisa didaki dengan pembatasan zonasi dan pengawasan ekstra ketat. Keempatnya adalah Taman Nasional Gunung Rinjani, Taman Nasional Gunung Merbabu, Suaka Margasatwa Dataran Tinggi Hyang (Argopuro), dan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.
Layanan pemesanan tiket daring untuk kawasan yang ditutup ikut ditangguhkan sampai kondisi dinyatakan aman. Namun pendaki yang sudah membayar sebelum 1 September tetap mendapat haknya sesuai penyesuaian teknis di lapangan.
"Namun, bagi para calon pendaki yang telah melakukan transaksi pembayaran sebelum tanggal 1 September 2026, hak pelayanannya tetap diakomodasi sesuai dengan ketentuan dan penyesuaian teknis di lapangan," tegas Satyawan.
Beberapa agenda yang sudah terjadwal sebelumnya tetap boleh berlangsung, seperti Merbabu Trail Run di Taman Nasional Gunung Merbabu serta acara tertentu di Taman Nasional Gunung Merapi dan Taman Nasional Kerinci Seblat. Kegiatan tersebut akan dikawal penuh oleh tim gabungan.
Selama masa penyesuaian ini, seluruh Kepala Balai Besar dan Balai Taman Nasional maupun KSDA diminta memperketat patroli, memeriksa barang bawaan pendaki yang berpotensi memicu api, serta menggandeng BNPB/BPBD, TNI/Polri, dan masyarakat lokal untuk kesiapsiagaan karhutla.
Isu kebakaran hutan sendiri tengah jadi sorotan setelah Balai Penegakan Hukum Kehutanan Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara mendalami dugaan pidana kebakaran di Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Dua ahli dari IPB University, Bambang Hero Saharjo dan Basuki Wasis, turut mengambil sampel tanah dan tumbuhan di lokasi terdampak di Desa Sariwani, Kabupaten Probolinggo untuk diuji laboratorium.
Penanganan karhutla di kawasan itu melibatkan 540 personel dengan pemadaman lewat jalur darat dan udara. Total area yang terdampak diperkirakan mencapai 921 hektare.
"Kebijakan ini bersifat dinamis dan akan terus dievaluasi berkala mengikuti perkembangan iklim dan tingkat kerawanan di lapangan. Kami mengajak seluruh pecinta alam dan masyarakat untuk bersama-sama memahami langkah ini demi menjaga kelestarian bentang alam nusantara agar tetap aman dan lestari," ujar Satyawan.
Baca berita dan informasi lainnya mengenai Kementerian Kehutanan (Kemenhut), IPB University, dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) dengan mengeklik tautan.




Komentar (0)
Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.
Belum ada komentar.