Periskop.id – Pemerintah menyiapkan prototipe Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum khusus truk di Rest Area KM 88A Tol Cipularang. Fasilitas tersebut akan menjadi proyek percontohan untuk mendukung penggunaan kendaraan angkutan barang rendah emisi di jalur logistik antarkota.

Anggota Badan Pengatur Jalan Tol unsur pemangku kepentingan Sony Sulaksono mengatakan sejumlah tempat istirahat di jalan tol tengah dipertimbangkan sebagai lokasi pengisian daya kendaraan berat. KM 88 Tol Cipularang dipilih sebagai titik awal pengembangannya.

"Di rest area KM 88 Tol Cipularang itu akan dicoba dibuat SPKLU untuk truk. Itu sebagai prototipe," ujar Sony dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (24/7).

Proyek percontohan itu rencananya melibatkan PLN, Jasa Marga, Danantara, pengelola jalan tol, dan sejumlah perusahaan BUMN. Namun, pemerintah belum mengumumkan kapasitas pengisi daya, jumlah unit, nilai investasi, maupun jadwal fasilitas mulai digunakan.

Dorong Perusahaan Beralih ke Truk Listrik

Menurut Sony, keberadaan fasilitas pengisian khusus diperlukan untuk meningkatkan kepercayaan perusahaan logistik dan pelaku industri dalam menggunakan truk listrik. Ketersediaan kendaraan saja belum cukup apabila pengusaha masih kesulitan menemukan tempat pengisian daya di jalur distribusi.

Pembangunan prototipe di Tol Cipularang dinilai strategis karena ruas tersebut menghubungkan kawasan Jakarta dan Bandung serta dilalui kendaraan logistik menuju sejumlah kawasan industri di Jawa Barat.

"SPKLU untuk truk listrik dengan SPKLU yang buat mobil biasa sebenarnya hanya masalah dayanya saja dan juga mungkin ruang (space) buat manuver truk. Jadi sebenarnya tidak terlalu sulit secara teknologi, hanya masalah daya dan ruang untuk manuver," ucapnya.

Meski prinsip pengisian dayanya serupa, fasilitas untuk kendaraan berat membutuhkan perencanaan berbeda. Truk memiliki baterai berkapasitas lebih besar, sehingga membutuhkan daya listrik tinggi agar waktu pengisian tidak terlalu lama.

Lokasi juga harus menyediakan area parkir dan jalur keluar-masuk yang cukup luas. Selain itu, pengembang perlu memperhitungkan kapasitas jaringan listrik, jenis konektor, keselamatan operasional, durasi berhenti, dan kemungkinan antrean kendaraan.

Rest Area KM 88A sebenarnya telah memiliki sejumlah SPKLU untuk mobil penumpang dengan berbagai pilihan daya, termasuk pengisian cepat hingga 200 kilowatt. Fasilitas baru akan dikembangkan untuk menyesuaikan kebutuhan kendaraan niaga yang lebih besar.

Jadi Bagian Green Logistics Corridor

Prototipe SPKLU tersebut menjadi bagian dari rencana pengembangan Green Logistics Corridor atau koridor logistik hijau. Konsep ini menghubungkan kawasan industri, pelabuhan, jalan tol, pergudangan, pusat distribusi, dan jaringan energi bersih dalam satu ekosistem.

Kementerian Perhubungan menilai transformasi angkutan barang tidak dapat dilakukan hanya dengan mengganti kendaraan diesel menjadi kendaraan listrik. Pemerintah juga harus membangun fasilitas pengisian daya, kebijakan pendukung, pembiayaan, teknologi, serta sistem operasional logistik yang terintegrasi.

Sektor angkutan barang dipandang penting karena menjadi tulang punggung distribusi nasional sekaligus menyumbang emisi dari konsumsi bahan bakar fosil. Karena itu, Kemenhub mendorong penggunaan Zero Emission Heavy-Duty Vehicle atau kendaraan berat tanpa emisi.

Peralihan tersebut juga membutuhkan kerja sama pemerintah pusat dan daerah, operator jalan tol, PLN, pelabuhan, produsen kendaraan, perusahaan logistik, serta lembaga pembiayaan.

Harga kendaraan masih menjadi salah satu tantangan utama. Analisis World Resources Institute Indonesia yang dikutip Katadata menyebut harga truk listrik di Indonesia dapat mencapai dua hingga 3,5 kali harga truk konvensional. Ketersediaan SPKLU dan skema pembiayaan pun diperlukan agar investasi perusahaan lebih layak secara ekonomi.

Infrastruktur SPKLU Terus Bertambah

Pembangunan pengisi daya truk akan menambah jaringan SPKLU nasional yang selama ini masih didominasi kebutuhan kendaraan penumpang.

Kementerian ESDM mencatat Indonesia telah memiliki sekitar 4.892 unit SPKLU roda empat hingga Mei 2026. Pemerintah terus mendorong pemerataan lokasinya agar tidak hanya terkonsentrasi di kota besar dan kawasan komersial.

Di jaringan jalan tol yang dikelola Jasa Marga, sebanyak 49 titik SPKLU di rest area telah disiapkan untuk mendukung perjalanan Lebaran 2026. Sebelas titik di antaranya ditingkatkan dari pengisian normal menjadi pengisian cepat.

Jaringan itu belum secara khusus dirancang untuk kendaraan berat. Karena itu, proyek KM 88 akan digunakan untuk menguji kebutuhan daya, tata letak, pola pengisian, dan model operasional sebelum fasilitas serupa dikembangkan di koridor logistik lainnya.

Pelaku industri sebelumnya juga telah menggunakan SPKLU KM 88 dalam perjalanan truk listrik antara Balaraja dan kawasan industri Bandung. Pengalaman tersebut menunjukkan jaringan pengisian di jalan tol dibutuhkan agar kendaraan dapat menjalankan perjalanan pulang-pergi tanpa sepenuhnya bergantung pada fasilitas di depo perusahaan.

Apabila uji coba berjalan baik, BPJT membuka peluang pembangunan SPKLU truk di rest area lain. Penentuan lokasinya kemungkinan mempertimbangkan kepadatan angkutan barang, kedekatan dengan kawasan industri, kapasitas listrik, dan ketersediaan ruang.

Prototipe di Tol Cipularang menjadi langkah awal menuju elektrifikasi kendaraan berat. Namun, keberhasilannya akan bergantung pada keandalan fasilitas, kecepatan pengisian, tarif listrik, harga armada, dan kepastian bahwa pengoperasian truk listrik tetap memenuhi kebutuhan waktu distribusi perusahaan.

Meta description: BPJT menyiapkan prototipe SPKLU khusus truk listrik di Rest Area KM 88A Tol Cipularang untuk mendukung koridor logistik rendah emisi.