Periskop.id - Kementerian Agama (Kemenag) telah menyiapkan gereja, pura, dan rumah ibadah Buddha (Wihara) yang terdapat di jalur mudik, sebagai tempat istirahat sementara yang beroperasi 24 jam selama periode arus mudik dan balik.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Kristen Jeane Marie Tulung mengatakan, kehadiran gereja di tengah masyarakat diharapkan dapat membawa nilai kasih dan solidaritas kemanusiaan. “Kegiatan pelayanan ini merupakan panggilan iman untuk menghadirkan kasih Tuhan secara nyata di tengah masyarakat serta memperkuat solidaritas dan harmoni kehidupan berbangsa,” ujar Jeane di Jakarta, Selasa (17/3). 

Sebanyak 106 gereja di berbagai wilayah Indonesia membuka fasilitas singgah bagi pemudik menjelang arus mudik Idulfitri 1447 Hijriah/Lebaran 2026. Layanan ini dikemas dalam Program Gereja Ramah Pemudik yang digerakkan Ditjen Bimas Kristen Kemenag.

Gereja-gereja tersebut menyediakan fasilitas bagi pemudik seperti tempat beristirahat, air minum, toilet, tempat ibadah, serta fasilitas pengisian daya telepon genggam.

Beberapa gereja yang tercatat dalam program ini antara lain HKBP Pasaman Barat, GPDI Bukit Sion Bangko Sempurna, GPT Mawar Saron, serta sejumlah gereja dari jaringan Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI), dan Gereja Pentakosta Indonesia (GPI).

Di Manado misalnya, gereja yang berada di jalur strategis seperti Gereja Pentakosta di Indonesia Batas Kota Malalayang Dua dan Gereja Masehi Injili di Minahasa Abraham Sario, turut membuka fasilitas gereja sebagai tempat singgah bagi pemudik.

Sementara itu Direktorat Jenderal Bimas Hindu Kemenag menyiapkan tujuh pura di jalur utama mudik sebagai rest area yang beroperasi 24 jam selama periode arus mudik dan balik.

Direktur Jenderal Bimas Hindu I Nengah Duija mengatakan langkah ini merupakan tindak lanjut dari arahan Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar, agar rumah ibadah lintas agama di sepanjang jalur mudik dapat dimanfaatkan sebagai tempat istirahat yang aman dan nyaman bagi masyarakat.

“Rumah ibadah tidak hanya menjadi tempat beribadah, tetapi juga dapat menjadi ruang singgah bagi para pemudik yang membutuhkan tempat istirahat selama perjalanan,” ujar Duija.

Tujuh pura yang berada di jalur strategis perjalanan mudik dan siap menjadi tempat singgah bagi para pemudik yakni di Jawa Barat Pura Agung Tirta Bhuana, Bekasi, berada di titik awal strategis jalur Pantura dan Kalimalang.

Di Jawa Timur, Pura Jala Siddhi Amertha, Sidoarjo, menjadi akses penting bagi pemudik di jalur timur Pulau Jawa. Di Bali, Pura Goa Lawah Klungkung, Pura Majapahit Jembrana, Pura Agung Jagatnatha Buleleng, Pura Ponjok Batu Buleleng, Pura Pulaki Buleleng.

Tak hanya itu, Kemenag juga menyiapkan 45 rumah ibadah Buddha yang siap menjadi tempat singgah dalam perjalanan mudik. “Ada 45 rumah ibadah Buddha yang tersebar di wilayah Pulau Jawa, Sumatera, Bali, dan Nusa Tenggara Barat, yang siap untuk menjadi tempat singgah,” ujar Dirjen Bimas Buddha Supriyadi.

Sebanyak 45 rumah ibadah itu tersebar di Provinsi Aceh (3 lokasi), Kepulauan Riau (2), Kepulauan Bangka Belitung (1), Sumatera Selatan (1), Bengkulu (1), Lampung (10), DKI Jakarta (4), Jawa Tengah (14), DI Yogyakarta (2), Jawa Timur (4), Bali (2), dan Nusa Tenggara Barat (1).

Siagakan 6.859 Masjid
Sebelumnya, Kementerian Agama (Kemenag) memastikan sebanyak 6.859 masjid telah siap digunakan oleh para pemudik untuk beristirahat yang tersebar di berbagai jalur mudik di seluruh Indonesia pada libur Lebaran 2026.

“Kita ingin mengubah wajah masjid yang selama ini terkesan hanya dibuka untuk pelaksanaan shalat lima waktu. Masjid harus kembali pada fungsinya memberikan pelayanan kepada masyarakat,” ujar Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo Muhammad Syafii.

Program yang dinamai Masjid Ramah Pemudik ini diluncurkan dalam kegiatan kick off Ekspedisi Masjid Indonesia di Jakarta. Program ini menjadi bagian dari upaya Kemenag memperluas fungsi masjid sebagai pusat pelayanan masyarakat.

Pihaknya ingin menghidupkan kembali peran masjid agar tidak hanya digunakan untuk kegiatan ibadah rutin, tetapi juga memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Menurut Wamenag, keberadaan masjid di sepanjang jalur mudik dapat menjadi tempat singgah yang aman dan nyaman bagi para musafir selama perjalanan menuju kampung halaman.

“Masjid tidak hanya menjadi tempat shalat, tetapi juga tempat singgah yang memberikan berbagai kemudahan bagi para pemudik,” tuturnya. 

Berbagai layanan disiapkan di masjid-masjid tersebut untuk mendukung kebutuhan pemudik. Antara lain akses masjid dan mushala yang dibuka selama 24 jam, area parkir, toilet bersih, ruang istirahat, layanan kesehatan untuk pertolongan pertama, serta ketersediaan air bersih.

Selain itu pengelola masjid juga diharapkan menyediakan fasilitas pengisian daya baterai ponsel dan perangkat komunikasi, pusat informasi bagi pemudik, serta air minum dan makanan ringan.

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat (Bimas) Islam Abu Rokhmad mengatakan, Program Masjid Ramah Pemudik menambahkan masjid-masjid yang terlibat dalam program tersebut berada di jalur mudik strategis. Hal ini telah dikoordinasikan dengan Kantor Wilayah (Kanwil) Kemenag di berbagai daerah untuk memastikan kesiapan fasilitasnya.

Untuk memudahkan masyarakat menemukan masjid selama perjalanan, Kemenag menyediakan informasi lokasi masjid melalui aplikasi Pusaka Super Apps, dimana pemudik dapat mencari masjid terdekat dari lokasi mereka, sekaligus melihat rute perjalanan menuju tempat ibadah tersebut.

“Melalui aplikasi Pusaka, masyarakat dapat dengan mudah mencari masjid terdekat dari lokasi mereka sehingga tetap dapat beribadah dengan nyaman selama perjalanan,” kata Abu Rokhmad.

Selain masjid, berbagai rumah ibadah lintas agama juga membuka diri sebagai tempat singgah, bagi para pemudik yang membutuhkan tempat beristirahat selama perjalanan.