Periskop.id - Persaingan industri otomotif mulai bergeser. Tenaga mesin, efisiensi bahan bakar hingga desain kendaraan tak lagi menjadi satu-satunya ukuran. Kemampuan mobil mengenali bahaya dan membantu pengemudi menghindari kecelakaan kini mulai menjadi salah satu teknologi penting yang menentukan kendaraan masa depan.

Perubahan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam GAIKINDO Indonesia International Auto Show atau GIIAS 2026 yang berlangsung di ICE BSD City, Tangerang, pada 30 Juli hingga 9 Agustus 2026. Pameran tahun ini membawa tema "Eye of the Future" untuk menggambarkan perkembangan kendaraan menuju era yang semakin pintar, terkoneksi dan berkelanjutan.

Arah itu sejalan dengan pesan Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita saat membuka GIIAS 2026. Pemerintah menilai keputusan terkait investasi, teknologi dan pendalaman struktur industri yang dilakukan saat ini akan menentukan perkembangan industri otomotif Indonesia menuju 2035.

Pemerintah juga mendorong agar transformasi teknologi tidak membuat Indonesia sekadar menjadi pasar. Agus sebelumnya menegaskan pengembangan teknologi otomotif perlu berjalan bersama pendalaman industri dan peningkatan produksi komponen di dalam negeri.

Keselamatan Jadi Ukuran Baru Mobil Masa Depan

Vice Compartment Future Automotive Technology & Renewable Energy GAIKINDO Ardhana Wiranata mengatakan perkembangan industri otomotif kini tidak cukup hanya diukur dari peningkatan performa dan efisiensi.

Kemampuan kendaraan membantu mengurangi risiko kecelakaan dinilai akan semakin menentukan perkembangan mobil di masa depan. "Perkembangan teknologi terus mendorong budaya berkendara yang semakin aman, nyaman, dan efisien. Karena itu, tantangan industri ke depan bukan hanya menghadirkan teknologi yang semakin canggih, tetapi juga memastikan manfaatnya dapat dipahami dan dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat," ujarnya.

Teknologi tersebut diperlihatkan melalui Booth Safety & Advanced Technology yang dihadirkan GAIKINDO bersama Bosch Indonesia di GIIAS 2026. Di area tersebut, pengunjung dapat melihat bagaimana kamera, radar, sensor ultrasonik, perangkat lunak hingga sistem pengereman bekerja sebagai satu rangkaian untuk membantu kendaraan membaca kondisi di sekitarnya.

Perkembangan ini semakin relevan mengingat risiko kecelakaan dapat muncul dalam hitungan detik. Kendaraan di depan bisa mengerem mendadak, sepeda motor muncul dari titik buta atau pejalan kaki tiba-tiba menyeberang.

Director of Mobility Solution Bosch Indonesia Bernard Simanjuntak mengatakan, tantangan teknologi keselamatan tidak lagi sekadar memperbanyak fitur di dalam kendaraan.

"Perkembangan teknologi keselamatan bukan lagi sekadar tentang menambah fitur pada kendaraan. Tantangan berikutnya adalah memastikan teknologi dapat memberikan dukungan yang tepat pada situasi yang tepat, terutama ketika kondisi berkendara dan interaksi antar pengguna jalan semakin kompleks," ujar Bernard.

Bosch sebelumnya menjelaskan Advanced Driver Assistance Systems atau ADAS menggunakan kombinasi kamera, radar dan sensor untuk terus mengawasi kondisi lalu lintas di sekitar kendaraan. Sistem dapat memberikan peringatan dini dan bantuan tertentu ketika potensi bahaya terdeteksi, tetapi kendali dan tanggung jawab tetap berada pada pengemudi.

Dari Mata hingga "Refleks" Tambahan Kendaraan

Secara sederhana, sistem keselamatan modern bekerja melalui tiga proses utama, yakni Sense, Think dan Act.

Pada tahap Sense, kendaraan menggunakan kamera untuk mengenali marka jalan maupun pengguna jalan lain. Radar membantu mengukur jarak dan kecepatan objek, sementara sensor ultrasonik digunakan untuk mendeteksi benda yang berada dalam jarak dekat.

Perangkat tersebut berfungsi seperti "mata" tambahan bagi kendaraan untuk menjangkau area yang terkadang sulit diamati pengemudi.

Setelah kondisi sekitar terbaca, sistem memasuki tahap Think. Informasi dari kamera dan sensor diproses perangkat lunak untuk membaca perubahan situasi, memperkirakan risiko dan menentukan apakah kendaraan perlu memberikan peringatan atau bantuan.

Pengolahan data tersebut dapat berlangsung dalam hitungan milidetik.

Tahap terakhir adalah Act. Ketika sistem mendeteksi risiko tabrakan semakin tinggi dan waktu reaksi pengemudi semakin terbatas, teknologi pengereman seperti Integrated Power Brake dapat membantu menghasilkan pengereman yang cepat dan presisi untuk mengurangi kecepatan maupun dampak benturan.

Meski demikian, teknologi tersebut tidak dirancang untuk menggantikan pengemudi. Bosch menegaskan kewaspadaan dan penilaian manusia tetap menjadi bagian utama dalam keselamatan berkendara.

Indonesia Catat 141 Ribu Kecelakaan dalam Setahun

Perkembangan teknologi keselamatan menjadi penting jika melihat masih tingginya angka kecelakaan lalu lintas di Indonesia.

Korlantas Polri mencatat 141.608 kecelakaan lalu lintas sepanjang 2025. Jumlah tersebut memang turun 6,16% dibandingkan 2024 yang mencapai 150.096 kejadian.

Fatalitas juga mengalami penurunan. Pada 2024 terdapat 26.839 korban meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas, sementara sepanjang 2025 jumlah tersebut turun 19,8%.

Kepala Korlantas Polri Irjen Pol Agus Suryonugroho sebelumnya menilai edukasi keselamatan menjadi salah satu faktor penting dalam menekan kecelakaan.

“Jadi, daripada kita mengejar-ngejar pelanggaran, kita datang ke komunitas, pesantren, sekolahan. Nanti impact-nya (manfaatnya), ternyata ketika kita bicara keselamatan lalu lintas, pelayanan masyarakat, itu ada penurunan yang cukup signifikan,” tuturnya.

Persoalan yang sama masih menjadi tantangan global. WHO dalam pembaruan Juli 2026 memperkirakan sekitar 1,16 juta orang meninggal setiap tahun akibat kecelakaan lalu lintas. Kecelakaan jalan juga masih menjadi penyebab kematian utama anak dan kelompok usia muda 5-29 tahun. Lebih dari separuh korban meninggal merupakan pengguna jalan rentan seperti pejalan kaki, pesepeda dan pengendara sepeda motor.

Target keselamatan jalan global pun mendorong seluruh kendaraan baru maupun bekas memenuhi standar keselamatan berkualitas tinggi pada 2030, termasuk standar yang mengacu pada regulasi keselamatan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Teknologi Canggih Tetap Butuh Perawatan

GAIKINDO dan Bosch menilai perkembangan teknologi keselamatan juga harus diikuti pemahaman pengguna dan kemampuan industri dalam menguasai teknologi tersebut.

Pemeliharaan kendaraan ikut menjadi bagian penting. Kamera atau radar yang canggih tidak menghilangkan kebutuhan terhadap komponen dasar yang bekerja dengan baik, mulai dari sistem pengereman, lampu, wiper hingga berbagai komponen penunjang lainnya.

Melalui divisi Mobility Aftermarket, Bosch turut membawa produk seperti wiper, klakson, busi, filter dan lampu pada GIIAS 2026.

Perusahaan juga menjalankan program sosial selama pameran. Setiap pembelian satu pasang Bosch Advantage dan Clear Advantage Wiper dikonversikan menjadi donasi untuk mendukung program peremajaan 100 ambulans di sejumlah wilayah Indonesia. Program tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas isu keselamatan dari teknologi kendaraan pribadi hingga kendaraan yang digunakan dalam pelayanan kegawatdaruratan.

Perubahan yang terlihat di GIIAS 2026 menunjukkan teknologi keselamatan berpotensi menjadi medan persaingan baru industri otomotif. Mobil masa depan tidak lagi cukup hanya cepat, hemat atau memiliki desain menarik, tetapi juga dituntut mampu membaca lingkungan, memperingatkan pengemudi dan membantu merespons bahaya sebelum kecelakaan terjadi.

Namun, teknologi tetap berfungsi sebagai pendamping. Keselamatan pada akhirnya bergantung pada kombinasi kendaraan yang semakin cerdas, kondisi kendaraan yang terawat, infrastruktur yang aman dan pengemudi yang tetap bertanggung jawab.