banner-sheroes-yoga
Energi

Pengembangan Bioetanol Nasional Berpotensi Hemat Devisa Rp500 Triliun

Amran menyebut pengembangan bioetanol nasional berpotensi menghemat devisa Rp500 triliun per tahun dengan bahan baku pertanian Indonesia.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman. (Dok. BPMI Setpres)
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong pengembangan bioetanol nasional untuk menghemat devisa hingga sekitar Rp500 triliun per tahun.

Program tersebut diarahkan agar nilai ekonomi energi terbarukan dapat berputar di dalam negeri.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan pengembangan bioetanol akan bertumpu pada potensi komoditas pertanian Indonesia.

Menurutnya, pemerintah menyiapkan tebu, singkong, dan jagung sebagai bahan baku utama.

"Karena yang terpenting adalah etanol diproduksi negara lain, itu nilainya energi, ya, biofuel, itu nilainya Rp500 triliun. Kalau Rp500 triliun ini berputar di petani Indonesia," kata Amran, Senin (21/9).

Amran menjelaskan, pemerintah menyiapkan kawasan produksi bahan baku bioetanol dengan luasan sekitar 1 juta hingga 2 juta hektare. Lahan tersebut akan menjadi salah satu basis pengembangan bioetanol nasional.

Menurut Amran, pengembangan kawasan bioetanol membutuhkan kerja sama lintas sektor.

Pemerintah pusat dan daerah akan berkolaborasi dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) serta pihak swasta untuk mempercepat pelaksanaan program.

Sebanyak 44 bupati yang mengikuti rapat tersebut, kata Amran, telah menyatakan dukungan terhadap konsolidasi awal pengembangan kawasan bioetanol.

Dukungan itu mencakup penyiapan potensi wilayah, lahan, dan komoditas yang sesuai dengan kebutuhan industri.

Amran menyebut pemerintah akan mengutamakan pemanfaatan lahan yang sudah tersedia.

Lahan yang telah dilepaskan serta kawasan yang dinilai sesuai untuk tanaman energi akan diarahkan untuk mendukung pengembangan bahan baku bioetanol.

Selain penyediaan lahan, pemerintah juga akan melibatkan BUMN dan swasta dalam pembangunan industri bioetanol.

Amran mengatakan skema investasi akan disusun untuk mempercepat pengembangan kawasan sekaligus mendorong keterlibatan dunia usaha.

"Anggarannya mungkin 30 persen dari BUMN, 70 persen dari swasta, dan pasti swasta mau, karena tanahnya disiapkan oleh negara, pasti berbondong-bondong," tutur Amran.

Amran menilai pengembangan bioetanol menjadi tahap lanjutan setelah pemerintah memperkuat sektor pangan dan protein.

Menurutnya, potensi pertanian nasional dapat dimanfaatkan untuk mendukung target kedaulatan energi.

"Intinya adalah bagaimana kita berdaulat energi, pangan, protein. Insya Allah, Indonesia menjadi negara besar, negara super power ke depan. Sekarang, pangan selesai, protein sudah selesai. Sekarang, etanol kita kejar," imbuhnya.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Andi Amran Sulaiman, dan bioetanol dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.