Pariwisata

Tanggap Darurat Gempa yang Diperpanjang Tak Hentikan Roda Pariwisata di NTT

Tanggap darurat gempa Flores diperpanjang hingga 12 September 2026. ASITA NTT menyebut belum ada pembatalan tur, meski sejumlah destinasi masih ditutup

1 hari yang lalu · 6 mnt baca
Tanggap Darurat Gempa yang Diperpanjang Tak Hentikan Roda Pariwisata di NTT
Ilustrasi - Wisatawan mengabadikan pemandangan di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. dok. Kemenpar
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Perpanjangan masa tanggap darurat gempa Flores hingga 12 September 2026 sejauh ini belum menghentikan roda pariwisata di Nusa Tenggara Timur (NTT). Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA) NTT menyebut belum menerima laporan pembatalan perjalanan dari para anggotanya, meski sejumlah destinasi masih ditutup dan ribuan gempa susulan terus tercatat.

Ketua ASITA NTT Oyan Kristian mengatakan, kegiatan wisata di kawasan yang telah dinyatakan aman tetap berjalan. Pelaku perjalanan juga terus memperbarui informasi kepada wisatawan dan mitra agen mengenai kondisi setiap destinasi.

"Untuk perpanjangan masa tanggap darurat ini tidak sama sekali mempengaruhi kegiatan dan aktivitas pariwisata yang sedang berjalan saat ini. Jadi tidak ada pembatalan, setidaknya ini dari anggota ASITA NTT yang sampai saat ini memang tidak menginformasikan kepada kami tentang ada tur yang batal," tuturnya. 

Pemerintah Provinsi NTT sebelumnya memperpanjang masa tanggap darurat selama 14 hari, mulai 29 Agustus hingga 12 September 2026. Keputusan itu diambil karena aktivitas gempa susulan masih terjadi di wilayah terdampak.

Data terbaru yang dihimpun hingga Senin (31/8/2026) pukul 05.00 WIB mencatat 10.232 gempa susulan setelah gempa magnitudo 7,7 mengguncang Flores pada 15 Agustus. Magnitudo terbesar dari rangkaian susulan mencapai 6,2, sebanyak 35 gempa tercatat di atas magnitudo 5, dan 157 gempa dirasakan masyarakat. Pola aktivitasnya mulai menunjukkan penurunan dan diperkirakan masih berlangsung sekitar tiga hingga empat minggu.

Kondisi tersebut membuat pemulihan pariwisata tidak dilakukan seragam di seluruh Flores. Destinasi yang dinilai aman dapat kembali menerima kunjungan, sedangkan wilayah yang masih berisiko tetap ditutup.

Kelimutu dan Taman Nasional Komodo Kembali Beroperasi

Salah satu destinasi yang telah kembali menerima wisatawan adalah Taman Nasional Kelimutu di Kabupaten Ende. Kunjungan wisata alam ke kawasan tiga danau kawah tersebut dibuka kembali sejak 25 Agustus 2026.

"Beberapa destinasi wisata sudah dibuka selama beberapa hari terakhir ini, seperti Danau Kelimutu itu sudah dibuka dari tanggal 25 Agustus. Kami pikir ini langkah yang baik untuk tetap mendorong agar kegiatan pariwisata tetap berjalan," ujar Oyan.

Di Manggarai Barat, aktivitas wisata di Taman Nasional Komodo juga berjalan normal, termasuk pelayaran wisata menuju kawasan tersebut. Gua Rangko telah beroperasi, sementara Bandara Internasional Komodo dan Pelabuhan Waterfront Labuan Bajo juga menjalankan pelayanan secara normal dengan tetap menerapkan pemantauan keselamatan.

Bahkan sehari setelah gempa, yakni pada 16 Agustus, BPOLBF mencatat 308 kapal wisata berangkat dari Labuan Bajo membawa 3.651 penumpang, terdiri atas 2.840 wisatawan mancanegara dan 811 wisatawan nusantara. Pada hari yang sama, kunjungan tercatat sekitar 1.381 wisatawan di Padar Selatan, 328 di Loh Liang Pulau Komodo, 277 di Loh Buaya Pulau Rinca, dan 54 di Gili Lawa.

Akses udara menuju Flores juga berangsur normal. Hingga 26 Agustus, enam bandara telah kembali beroperasi, yakni Bandara Internasional Komodo Labuan Bajo, Frans Seda Maumere, H. Hasan Aroeboesman Ende, Soa Bajawa, Gewayantana Larantuka, dan Frans Sales Lega Ruteng. Sejumlah ruas utama Trans-Flores yang menghubungkan Labuan Bajo, Ende, dan Maumere juga sudah dapat dilalui.

Wae Rebo dan Liang Bua Masih Ditutup

Meski pariwisata mulai bergerak, kondisi setiap wilayah berbeda. Karena itu, status tanggap darurat tidak bisa diterjemahkan bahwa seluruh Flores telah tertutup bagi wisatawan, tetapi juga tidak berarti seluruh destinasi sudah aman untuk dikunjungi.

Data BPOLBF per 26 Agustus menunjukkan dari 87 desa wisata yang tercatat dalam Jaringan Desa Wisata atau JADESTA, baru 57 yang telah diverifikasi. Sebanyak 29 desa wisata dibuka, sedangkan 28 lainnya masih ditutup sementara.

Di Kabupaten Manggarai, Desa Adat Wae Rebo, Todo, dan Liang Bua masih ditutup. Kampung Adat Ruteng Pu'u mengalami kerusakan sedang. Aktivitas wisata di sejumlah wilayah Manggarai Timur dan Nagekeo juga masih dihentikan sementara.

Wae Rebo sendiri ditutup sejak gempa terjadi karena jalur trekking menuju desa adat itu berpotensi longsor. Ketua Lembaga Pelestari Budaya Wae Rebo Mikael Tonso sebelumnya menjelaskan bahwa pengelola harus memeriksa jalur pendakian dan rumah adat Mbaru Niang sebelum wisatawan kembali diizinkan masuk.

Oyan menilai, mempertahankan penutupan destinasi berisiko bukan tindakan berlebihan. Keselamatan wisatawan harus menjadi dasar sebelum pemerintah atau pengelola memutuskan membuka kembali sebuah objek wisata.

"Kami membutuhkan validasi dari pemerintah melalui informasi-informasi yang benar dan resmi. Seperti saat ini kami mendapat informasi terkini dari BPOLBF yang secara reguler, hampir setiap hari kami mendapat informasinya," jelasnya. 

Pelaku Wisata Minta Trans-Flores dan Bangunan Diperiksa

Selain destinasi, ASITA memberi perhatian khusus terhadap jalur Trans-Flores. Infrastruktur jalan menjadi bagian penting bagi wisatawan yang memilih paket Flores Overland, yaitu perjalanan darat melintasi sejumlah kabupaten dan destinasi dari satu sisi Pulau Flores ke sisi lainnya.

ASITA mendorong pemerintah mempercepat perbaikan ruas yang mengalami kerusakan akibat gempa maupun longsor. Bangunan yang menjadi fasilitas wisata juga diminta tidak langsung digunakan hanya karena destinasi telah dibuka.

"Untuk fasilitas gedung-gedung di destinasi wisata yang mungkin digunakan untuk wisatawan beristirahat atau mendapat penjelasan tentang sebuah destinasi wisata, kami mohon agar dipastikan bangunan-bangunan itu sudah diasesmen, sudah dinyatakan aman, baru wisatawan boleh masuk," ujarnya.

BPOLBF juga mengingatkan pemulihan aktivitas wisata tidak berarti kondisi seluruh Flores sudah sama. Wisatawan diminta mengecek status destinasi, jalan, penerbangan, pelabuhan dan akomodasi sebelum berangkat serta tidak memaksakan kunjungan ke kawasan yang belum dinyatakan aman.

“Pemulihan aktivitas wisata di sejumlah wilayah merupakan perkembangan positif,” kata Plt Direktur Utama BPOLBF Andhy MT Marpaung. Namun, kondisi setiap destinasi tetap harus menjadi pertimbangan utama wisatawan.

Wisatawan Pulau Padar, Labuan Bajo, NTT t
Wisatawan Pulau Padar, Labuan Bajo, NTT turut merasakan gempa. dok. Instagram @nttfolks

Pariwisata NTT Punya Momentum Besar Sebelum Gempa

Upaya menjaga kepercayaan wisatawan menjadi penting karena industri pariwisata NTT sedang berada dalam tren positif sebelum gempa Flores.

Badan Pusat Statistik (BPS) NTT mencatat kunjungan wisatawan mancanegara melalui pintu masuk utama pada Juni 2026 mencapai 29.152 kunjungan, meningkat 40,73% dibandingkan periode sama tahun sebelumnya.

Perjalanan wisatawan nusantara menuju NTT pada bulan yang sama mencapai 963.291 perjalanan, naik 6,33%. Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel berbintang juga mencapai 50,72%, meningkat 20,81% secara tahunan.

Momentum tersebut kini berusaha dipertahankan melalui pemulihan secara bertahap.

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana yang mengunjungi Labuan Bajo pada 28 Agustus mengatakan pemerintah berfokus menjaga keberlanjutan industri sekaligus memperkuat ketangguhan destinasi setelah bencana.

“Kami Kementerian Pariwisata hadir di Labuan Bajo dengan fokus pada pemulihan dan keberlanjutan sektor pariwisata.”

Pemerintah juga berencana memperkuat SOP tanggap darurat, jalur evakuasi, mitigasi bencana, hingga sistem komunikasi krisis bagi wisatawan dan pelaku industri. Langkah tersebut diperlukan agar pemulihan tidak hanya mengejar kembalinya jumlah wisatawan, tetapi juga membuat destinasi lebih siap menghadapi bencana pada masa depan.

ASITA pada saat yang sama meminta promosi Flores tetap berjalan, terutama untuk destinasi yang telah dinyatakan aman. Informasi kepada calon wisatawan, menurut Oyan, harus positif tetapi tidak menutupi kondisi sebenarnya di lapangan.

“Tentunya promosi perlu terus dilakukan dengan menyampaikan informasi yang positif sekaligus sesuai dengan kondisi dan fakta terbaru di lapangan agar wisatawan mendapat gambaran yang jelas mengenai destinasi yang sudah siap menerima kunjungan pascagempa Flores,” ujar dia.

Dengan demikian, perpanjangan tanggap darurat hingga 12 September bukan berarti pariwisata Flores berhenti. Taman Nasional Komodo, Kelimutu, dan sejumlah destinasi lain sudah dapat dikunjungi, sedangkan kawasan seperti Wae Rebo dan Liang Bua masih harus menunggu lampu hijau keselamatan. 

Strategi pemulihan kini bertumpu pada satu keseimbangan penting: menjaga ekonomi pariwisata tetap bergerak tanpa mengurangi kehati-hatian di tengah gempa susulan.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Pariwisata, NTT, Gempa NTT, dan darurat bencana dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Geser →

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.