banner-sheroes-yoga
Pasar Modal

IHSG Diprediksi Konsolidasi, Cermati Saham Pilihan Analis

IHSG diproyeksikan masih konsolidasi awal pekan ini, dengan sejumlah saham tambang dan konglomerasi jadi incaran analis.

IHSG Diprediksi Konsolidasi, Cermati Saham Pilihan Analis
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (8/6/2026). Periskop/Arief Rachman
Ukuran teks
Sedang

Periskop.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi masih bergerak dalam fase konsolidasi pada perdagangan Senin (21/9/2026). Pelaku pasar disebut mencermati arus dana asing, arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat, hingga situasi geopolitik yang berpotensi memicu volatilitas indeks.

Founder Republik Investor Hendra Wardana menyoroti pelemahan IHSG pada penutupan Jumat (18/9) ke level 6.441,16, turun 0,33% dari perdagangan sebelumnya. Pelemahan itu terjadi saat mayoritas bursa Asia justru mencatat penguatan, yang menurutnya mengindikasikan tekanan terhadap IHSG tidak semata dipicu sentimen dari luar negeri.

"IHSG masih berada dalam fase konsolidasi dengan kecenderungan volatil. Penutupan Jumat di level 6.441 setelah kembali melemah 0,33%, di saat mayoritas bursa Asia justru menguat, menunjukkan bahwa persoalan IHSG saat ini bukan semata-mata berasal dari sentimen eksternal," kata Hendra dalam analisisnya, dikutip Sabtu (21/9).

Peluang technical rebound IHSG dinilai Hendra masih terbuka, meski penguatan tersebut belum cukup jadi sinyal perubahan menuju tren bullish yang solid. Pengamat pasar modal sekaligus founder WH-Project William Hartanto pun sependapat, memperkirakan IHSG bergerak sideways pada rentang 6.400 hingga 6.512 di perdagangan Senin.

Dari sisi teknikal, Hendra menyebut level 6.400 sebagai support awal IHSG, dengan area 6.350 sebagai support penting yang wajib dijaga. Di sisi atas, penembusan level 6.500 dinilai perlu agar indeks berpeluang menguat ke kisaran 6.550 hingga 6.600.

Hendra menambahkan, sentimen global masih menjadi salah satu faktor penentu arah pergerakan IHSG. Kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin membuat pelaku pasar terus mencermati kebijakan moneter Amerika Serikat, terutama perkembangan inflasi.

Di sisi lain, penurunan harga minyak dinilai memberi ruang bagi pasar untuk bernapas. Harga Brent berada di sekitar US$102,68 per barel, sedangkan WTI di kisaran US$100,08 per barel, kondisi yang menurutnya berpotensi meredakan kekhawatiran atas tekanan inflasi global.

Risiko dari konflik dan ketegangan geopolitik di Timur Tengah pun tetap menjadi perhatian pelaku pasar. Dari dalam negeri, pergerakan rupiah di kisaran Rp17.758 per dolar AS turut menjadi faktor yang perlu diperhatikan investor.

Selain nilai tukar, arus dana asing yang mencatat net sell sekitar Rp2,9 triliun sepanjang pekan, perkembangan kebijakan suku bunga, serta isu terkait MSCI berpotensi memengaruhi sentimen pasar saham domestik.

William turut mencermati sejumlah saham dari sektor pertambangan dan kelompok emiten konglomerasi, khususnya yang berkaitan dengan sosok Haji Isam. Dua saham yang disebutnya antara lain PT Bayan Resources Tbk (BYAN) dan PT Tugu Pratama Indonesia Tbk (TUGU).

Sementara itu, Hendra mencermati empat saham lain, yakni PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI), PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), dan PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL). Ia menyebut target harga INCO di level 5.200, MAPI di 1.650, MBMA di 580, dan MTEL di 550.

"Selama mampu bertahan di atas 6.350, peluang technical rebound masih terbuka, sedangkan penembusan 6.600 akan menjadi sinyal yang lebih positif bagi perubahan momentum," ujar Hendra.

Baca berita dan informasi lainnya mengenai Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dengan mengeklik tautan.

Gimana reaksimu soal berita ini?

Rekomendasi untukmu

Komentar (0)

Harus masuk dulu untuk berkomentar. Komentar tayang setelah dimoderasi.

Belum ada komentar.