Periskop.id - Dalam satu dekade terakhir, dunia kerja mengalami pergeseran yang cukup membingungkan bagi para pencari kerja.
Banyak posisi pekerjaan yang secara historis bisa dijalankan oleh lulusan sekolah menengah, kini mulai menutup pintu bagi mereka yang tidak memiliki ijazah sarjana. Fenomena inilah yang dikenal dengan istilah inflasi gelar atau degree inflation.
Istilah ini mulai mencuat ketika Burning Glass Technologies pada tahun 2015 melakukan analisis terhadap jutaan iklan lowongan kerja di Amerika Serikat.
Mereka menemukan sebuah anomali yang signifikan yaitu di banyak jenis pekerjaan, pemberi kerja mulai mencantumkan syarat gelar sarjana empat tahun, padahal sebelumnya pekerjaan tersebut sama sekali tidak memerlukan kualifikasi tersebut.
Akar Masalah
Jauh sebelum analisis tersebut, pada tahun 2014, Accenture bersama Burning Glass dan U.S. Competitiveness Project dari Harvard Business School telah menerapkan sebuah pendekatan daya saing untuk menganalisis pasar pekerjaan tingkat menengah.
Pekerjaan tingkat menengah didefinisikan sebagai posisi yang membutuhkan pendidikan lebih dari SMA tetapi kurang dari gelar sarjana penuh.
Hasil riset yang tertuang dalam laporan berjudul Bridge the Gap: Rebuilding America’s Middle Skills menunjukkan fakta miris. Ketidaksesuaian pasar tenaga kerja ini tidak hanya merugikan jutaan warga kelas menengah, tetapi juga menghambat pertumbuhan serta daya saing perusahaan di pasar global.
Laporan pendukung lainnya, Moving the Goalposts, memperjelas bagaimana perusahaan semakin menuntut gelar sarjana meskipun sifat pekerjaannya tidak berubah secara historis.
Realita di Lapangan
Bukti paling nyata dari inflasi gelar ini ditemukan dalam publikasi penelitian tahun 2017 berjudul Dismissed by Degrees: How degree inflation is undermining U.S. competitiveness and hurting America’s middle class. Penelitian yang disusun oleh Accenture, Grads of Life, dan Harvard Business School ini membedah data dari tahun 2015.
Kala itu, terdapat lebih dari 1,4 juta orang yang bekerja sebagai pengawas lini pertama untuk pekerja pendukung kantor dan administrasi. Menariknya, dari jumlah total tersebut, hanya sekitar 34% yang memiliki gelar sarjana.
Namun, pada tahun yang sama, sebanyak 70% iklan lowongan kerja untuk jabatan serupa justru mensyaratkan gelar sarjana sebagai syarat mutlak.
Jika tren ini terus berlanjut tanpa kendali, proporsi tenaga kerja bergelar sarjana dalam jabatan ini akan dipaksa meningkat hingga mendekati angka 70%.
Hal ini berarti sekitar 527.000 pekerjaan berisiko mengalami inflasi gelar. Posisi yang hari ini diisi dengan sangat baik oleh tenaga kerja tingkat menengah, di masa depan akan didominasi oleh lulusan perguruan tinggi, meskipun tugas pokoknya tetap sama.
Paradoks Keterampilan
Kondisi ini menciptakan masalah besar bagi pemberi kerja. Mereka mempersempit kumpulan pelamar berpengalaman hanya pada 34% pekerja aktif yang memiliki gelar sarjana. Di saat yang sama, perusahaan menutup akses terhadap lebih dari 500.000 pengawas lini pertama yang sudah terbukti berpengalaman namun tidak memiliki gelar formal.
Fenomena ini mungkin akan terdengar masuk akal bila perusahaan menambahkan tanggung jawab baru pada peran tersebut. Namun, hasil perbandingan iklan lowongan kerja menunjukkan fakta yang mengejutkan. Sekitar 9 dari 10 keterampilan yang dibutuhkan ternyata identik antara iklan yang mensyaratkan gelar dan yang tidak.
Keduanya sama-sama mencari kualifikasi sebagai berikut:
- Keterampilan supervisi dan manajemen staf.
- Layanan pelanggan.
- Penguasaan Microsoft Excel dan Microsoft Office.
- Kemampuan akuntansi dan penganggaran.
- Penjadwalan dan manajemen kantor.
Biaya Tersembunyi di Balik Syarat Gelar
Hasil survei dalam penelitian ini menunjukkan bahwa inflasi gelar justru memicu peningkatan berbagai biaya tersembunyi bagi perusahaan. Berikut adalah beberapa temuan utamanya:
1. Kesulitan Pengisian Posisi
Persyaratan gelar sarjana sebagai kualifikasi minimum membuat pencarian kandidat yang memenuhi syarat menjadi jauh lebih sulit. Mayoritas responden dari pihak perusahaan (67%) menyatakan bahwa syarat gelar perguruan tinggi justru membuat posisi middle skills menjadi sangat sulit untuk diisi.
2. Inflasi Upah
Perusahaan secara konsisten membayar upah premium kepada pemegang gelar untuk melakukan pekerjaan yang identik dengan pekerja tanpa gelar. Sebanyak 55% pimpinan mengakui lulusan baru menerima kompensasi lebih tinggi.
Mayoritas pemberi kerja (68%) bahkan melaporkan membayar upah lebih tinggi sebesar 11% hingga 30% bagi lulusan perguruan tinggi.
3. Tingkat Perputaran Karyawan (Turnover) yang Tinggi
Lulusan perguruan tinggi sering kali memiliki ekspektasi gaji dan kualitas hidup yang lebih tinggi. Data menunjukkan tingkat pengunduran diri sukarela dari kelompok sarjana mencapai 39%, jauh lebih tinggi dibandingkan non lulusan yang hanya 21%. Selain itu, mereka 49% lebih cenderung berpindah ke perusahaan pesaing.
4. Rendahnya Keterlibatan Karyawan
Sebanyak 40% pemberi kerja percaya bahwa lulusan sarjana lebih berpotensi merasa tidak terlibat atau merasa kurang dimanfaatkan dibandingkan pekerja non bergelar yang hanya 23%. Hal ini sering terjadi karena mereka merasa melakukan pekerjaan yang "di bawah" level pendidikan mereka.
Mengapa Perusahaan Tetap Melakukannya?
Meskipun data menunjukkan pekerja non gelar memiliki efisiensi yang setara, perusahaan tetap terjebak dalam pola ini. Berdasarkan wawancara mendalam dengan 20 pemimpin bisnis, ditemukan beragam pandangan mengenai alasan mempertahankan syarat gelar.
Beberapa pemimpin bisnis berpendapat bahwa gelar sarjana menandakan bahwa seseorang telah menempuh pendidikan perguruan tinggi selama empat tahun, sehingga memiliki pengalaman hidup tertentu, tingkat komitmen, dan kemampuan organisasi.
Namun, riset membuktikan bahwa dalam hal masa orientasi (onboarding), pemegang gelar sarjana justru dianggap membutuhkan sedikit lebih banyak pelatihan tambahan dan pengawasan dibandingkan pekerja non bergelar yang mungkin sudah memiliki jam terbang praktis.
Pada akhirnya, inflasi gelar menjadi tantangan bagi semua pihak. Mahasiswa dipaksa berutang untuk gelar yang mungkin tidak benar-benar dibutuhkan secara teknis oleh pekerjaan mereka, sementara perusahaan justru membebani diri mereka sendiri dengan biaya upah yang lebih tinggi untuk produktivitas yang serupa.
Tinggalkan Komentar
Komentar