periskop.id - Di media sosial, komentar tentang tubuh perempuan sering kali muncul dengan nada santai dan dianggap sekadar candaan. Kalimat seperti, “Kok sekarang gemukan?” atau “Kurus banget, nggak makan ya?” terdengar ringan, padahal bisa meninggalkan luka yang dalam. 

Di balik dalih “cuma bercanda”, body shaming terus berulang dan perlahan membentuk ruang digital yang tidak ramah bagi perempuan, membuat mereka merasa diawasi, dihakimi, dan dipaksa memenuhi standar penampilan tertentu.

Supaya kamu memahami persoalan ini lebih jauh, penting mengetahui apa itu body shaming, apa saja bentuk-bentuk yang muncul, dampak yang ditimbulkan, serta cara menghindari dan menghentikannya.

Apa Itu Body Shaming?

Body shaming adalah sikap atau ucapan bernada negatif yang menyoroti penampilan seseorang. Bentuknya bisa macam-macam, mulai dari komentar soal berat atau tinggi badan, warna dan kondisi kulit, hingga bentuk wajah atau bagian tubuh lainnya. 

Tidak jarang, body shaming disampaikan lewat gurauan, sindiran, atau bahkan pertanyaan yang terdengar sepele. Meski sering dibungkus sebagai candaan, body shaming pada dasarnya adalah ejekan baik yang diucapkan secara langsung maupun secara halus yang menyasar kondisi fisik seseorang.

Menurut data mengenai pengalaman body shaming pada perempuan Indonesia ini bersumber dari ZAP Beauty Index 2020, sebuah survei yang dilakukan oleh ZAP Clinic bersama MarkPlus, Inc. Survei ini merekam bagaimana tubuh perempuan kerap menjadi sasaran penilaian, terutama di ruang sosial dan digital.

Hasilnya menunjukkan bahwa hampir setengah responden perempuan mengaku pernah mengalami body shaming karena tubuh mereka dianggap terlalu berisi (47,0 persen). Selain itu, kondisi kulit berjerawat (36,4 persen) dan bentuk wajah yang dinilai tembem (28,1 persen) juga menjadi alasan yang cukup sering muncul. Tidak sedikit pula perempuan yang mendapat komentar negatif terkait warna kulit yang lebih gelap (23,3 persen) maupun tubuh yang dianggap terlalu kurus (19,6 persen).

Temuan ini menggambarkan bahwa standar tubuh yang sempit masih membayangi perempuan, membuat berbagai kondisi fisik apapun bentuknya rentan dinilai dan dikomentari.

Bentuk Bentuk Body Shaming Terhadap Perempuan

Body shaming bisa terjadi pada siapa saja, tanpa melihat usia. Situasinya pun beragam, mulai dari lingkungan keluarga, pertemanan, sekolah, kampus, hingga tempat kerja.

Dalam keseharian, ada beberapa kondisi fisik yang kerap dijadikan bahan pembicaraan atau komentar bernada merendahkan terhadap orang lain, antara lain:

1. Berat Badan
Berat badan sering jadi hal pertama yang dikomentari ketika seseorang mengalami body shaming. Tubuh yang dianggap terlalu kurus atau terlalu berisi kerap dibahas seolah hal yang wajar. Padahal, komentar seperti “Kamu bakal lebih cantik kalau kurusan” atau “Coba deh badan kamu digemukin” bisa membuat seseorang merasa tidak nyaman, bahkan malu dengan tubuhnya sendiri.

2. Usia
Setiap orang tetap punya hak untuk mengekspresikan diri, apa pun usianya. Namun, mereka yang memasuki usia dewasa sering kali lebih rentan mendapat komentar bernada merendahkan. Misalnya, anggapan bahwa seseorang sudah terlalu tua untuk memakai pakaian tertentu.

3. Rambut
Kondisi dan jenis rambut setiap orang tentu berbeda. Sayangnya, perbedaan ini nggak jarang dijadikan bahan komentar negatif. Saat rambut dicela atau dibanding-bandingkan, hal tersebut juga termasuk bentuk body shaming.

4. Kulit
Komentar tentang kulit juga sering menjadi bentuk celaan fisik. Warna kulit yang lebih gelap, misalnya, kerap dijadikan bahan ejekan atau panggilan tertentu yang bisa melukai perasaan.

5. Tinggi badan
Selain berat badan, tinggi badan juga sering menjadi sasaran body shaming. Komentar semacam ini cukup umum terjadi dan tidak jarang menyasar laki-laki, seolah tinggi badan menjadi ukuran ideal yang harus dipenuhi.

6. Wajah

Mengomentari bentuk wajah atau bagian-bagian wajah seperti hidung, bibir, dan mata bahkan ketika orang tersebut sedang mengalami masalah kulit seperti jerawat juga termasuk bentuk body shaming yang cukup sering terjadi. Padahal, standar tentang wajah ideal bisa berubah-ubah mengikuti tren. Meski begitu, ada beberapa kondisi yang hampir selalu dijadikan bahan ejekan, seperti pipi tembam, gigi tonggos, atau hidung pesek.

Dampak Body Shaming bagi Perempuan

Walaupun sering dianggap cuma bercanda, bertanya iseng, atau bentuk perhatian, body shaming tetap berisi komentar tentang fisik yang bisa bikin orang merasa nggak nyaman. Ucapan seperti ini bisa menyentuh perasaan dan tanpa sadar menurunkan rasa percaya diri orang yang dikomentari.

Sebuah penelitian dari International Journal of Environmental Research and Public Health mengamati dampak body shaming pada sekitar 1.443 mahasiswa tahun pertama. Dari hasilnya terlihat bahwa remaja yang sering menerima komentar negatif tentang tubuhnya cenderung lebih mudah mengalami gejala depresi dalam waktu yang cukup lama.

Dampaknya terasa lebih besar pada remaja dengan berat badan berlebih. Selain itu, cara pandang yang negatif terhadap tubuh juga bisa memicu munculnya gangguan makan.

Selain mengalami depresi dan gangguan makan, body shaming bisa berdampak cukup serius pada kesehatan mental. Beberapa masalah yang bisa muncul antara lain:

  • Kecemasan, misalnya merasa gugup, tidak nyaman, atau takut saat harus bertemu orang lain atau berada di tempat ramai.
  • Gangguan Dismorfik Tubuh, yaitu kondisi ketika seseorang merasa sangat tidak puas dan malu dengan bentuk tubuhnya sendiri sampai menarik diri dari lingkungan, menjalani diet atau olahraga berlebihan, bahkan melakukan prosedur kecantikan secara ekstrem.
  • Menyakiti Diri Sendiri, dalam kasus tertentu bisa berkembang menjadi keinginan untuk melukai diri, bahkan muncul pikiran untuk mengakhiri hidup.

Cara Menghadapi Body Shaming

Menerima komentar negatif soal tubuh atau penampilan memang nggak mudah. Tapi tenang, ada beberapa langkah sederhana yang bisa kamu lakukan untuk menghadapi orang-orang yang sering melontarkan body shaming.

1. Sadari Kelebihan Diri Sendiri
Coba perlahan lepaskan pikiran negatif tentang diri kamu. Ingat kembali hal-hal baik, kemampuan, dan kelebihan yang kamu punya. Menghargai diri sendiri dan bersyukur atas apa yang kamu miliki bisa membantu membangun rasa percaya diri. Ingat, penampilan fisik bukan satu-satunya penentu nilai diri seseorang.

2. Lakukan Perawatan Diri
Merawat diri adalah bentuk menghargai diri sendiri. Luangkan waktu untuk hal-hal yang bikin kamu rileks, entah itu perawatan tubuh, istirahat cukup, makan makanan sehat, atau olahraga ringan. Tubuh dan pikiran yang terawat bisa membantu kamu merasa lebih positif.

3. Pilih Lingkungan yang Mendukung
Kamu berhak berada di lingkungan yang membuatmu nyaman. Usahakan untuk dekat dengan orang-orang yang menerima kamu apa adanya, tanpa komentar yang merendahkan soal fisik.

4. Cerita ke Orang yang Kamu Percaya
Jangan dipendam sendiri. Ceritakan perasaan kamu ke teman dekat, keluarga, atau pasangan. Dukungan dan pengertian dari mereka bisa membantu meringankan beban dan membuatmu merasa tidak sendirian.

5. Berhenti Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Setiap orang punya perjalanan dan keunikan masing-masing. Hindari membandingkan diri dengan standar yang nggak realistis. Lebih baik fokus menghargai dan mencintai diri sendiri apa adanya.

6. Jaga Kesehatan Mental dan Emosional
Lakukan hal-hal yang bisa menenangkan pikiran, seperti meditasi, relaksasi, atau aktivitas yang kamu suka. Kalau kamu merasa butuh bantuan lebih, nggak ada salahnya mencari dukungan dari psikolog atau konselor.

7. Lawan Stigma dengan Cara Positif
Kamu juga bisa ikut berperan dalam melawan body shaming dengan menyebarkan kesadaran. Ajak orang-orang di sekitarmu untuk lebih menghargai keberagaman bentuk tubuh dan mendukung citra tubuh yang sehat dan positif.

Pelan-pelan saja, kamu nggak harus kuat setiap saat. Yang penting, kamu tetap berusaha menjaga diri dan kesehatan mentalmu.