periskop.id - Kehadiran kecerdasan buatan membuat banyak aktivitas terasa lebih praktis. Pekerjaan yang dulu memakan waktu berjam-jam, kini bisa selesai hanya dalam hitungan menit. Mesin bisa bekerja tanpa lelah, memberikan layanan kapan saja, serta memproses data dengan akurasi dan kecepatan yang sulit ditandingi manusia. Efisiensi meningkat, hasil kerja menjadi semakin rapi dan konsisten.
Namun, kemajuan ini juga membawa sisi lain yang perlu dipikirkan. Ketika teknologi mampu mengambil alih tugas yang selama ini dilakukan manusia, persaingan di dunia kerja pun berubah. Tugas rutin dan administratif bukan lagi sesuatu yang sulit untuk digantikan. Bahkan pekerjaan yang melibatkan kreativitas seperti desain atau penulisan konten mulai dipelajari dan dikuasai oleh sistem berbasis AI generatif.
5 Pekerjaan Paling Rawan Digantikan AI
Transformasi digital kini sudah jauh melampaui status tren. Banyak profesi sekarang merasakan dampak nyata dari kemajuan teknologi. Ketika kecerdasan buatan semakin canggih dan otomatisasi menjadi norma, tugas-tugas yang dulunya hanya bisa dilakukan manusia kini bisa dilaksanakan oleh mesin. Berikut lima jenis pekerjaan di Indonesia yang berada dalam zona risiko tinggi tergantikan oleh AI berdasarkan Survei Populix dalam laporan berjudul AI Everyday Life:
1. Customer Service (35%)
Chatbot dan voice-assistant berbasis AI bisa melayani pelanggan 24/7 tanpa lelah. Respons cepat dan konsisten membuat banyak perusahaan mulai mengandalkan otomatisasi sehingga posisi manusia mulai tersingkir.
2. Desainer Grafis (27%)
Generative AI sekarang sudah mampu membuat ilustrasi, poster, logo, bahkan konsep visual dari prompt sederhana. Untuk pekerjaan desain dasar, tanpa kebutuhan kreativitas mendalam, AI menawarkan solusi cepat dan murah.
3. IT / Analis Data (24%)
Meski terdengar paradoks, tetapi pekerjaan di bidang teknologi ternyata juga terancam. Hal ini terjadi karena AI dapat otomatisasi tugas-tugas rutin atau berbasis data, terutama yang repetitif. Banyak perusahaan kini memanfaatkan AI untuk efisiensi.
4. Content Writer (22%)
Berkat AI generatif yang mampu menulis artikel, deskripsi produk, posting media sosial, penulis konten tradisional semakin mendapat tantangan. Untuk konten sederhana atau volume besar, AI dianggap lebih efisien.
5. Administratif / Admin Kantor (16%)
Tugas-tugas administratif, seperti entri data, penerimaan dokumen, pengarsipan, pengolahan data, semua itu semakin mudah diotomatisasi. Bot dan sistem otomatis dapat menangani pekerjaan administratif dengan cepat, akurat, dan tanpa istirahat.
Respons Masyarakat Indonesia terhadap Ancaman AI
Seiring perkembangan teknologi yang begitu cepat, kehidupan dan dunia kerja di Indonesia kini berada di persimpangan baru. Kecerdasan buatan (AI) tidak lagi sekadar wacana futuristik, ia telah merambah ke banyak aspek pekerjaan sehari-hari, dari layanan pelanggan hingga manajemen data. Di satu sisi, hadirnya AI membawa janji kemudahan, efisiensi, dan produktivitas. Namun di sisi lain, ada rasa cemas yang tumbuh tentang pekerjaan manusia yang akan tergantikan oleh mesin.
Berdasarkan hasil riset dari Populix, sebanyak 62% responden menyatakan khawatir pekerjaannya bisa tergantikan teknologi. Alasan utama ketakutan ini pun cukup masuk akal, sebanyak 72% responden menyebut bahwa teknologi digolongkan mesin yang lebih baik, cepat, dan murah dibanding manusia. Tak hanya itu, 62% responden khawatir tak bisa bersaing dengan mesin yang bisa bekerja terus-menerus tanpa lelah, sementara 60% beranggapan bahwa perkembangan AI yang terlalu pesat bisa jadi ancaman serius.
Akan tetapi, bukan berarti semua akan suram. Bahkan di tengah kekhawatiran itu ada fakta menarik, survei Populix (2025) menunjukkan bahwa sekitar 57% pekerja di Indonesia dilaporkan sudah menggunakan AI untuk membantu pekerjaan mereka, bukan sebagai ancaman, melainkan sebagai alat produktivitas.
Teknologi akan terus berjalan maju. Pilihannya hanya dua, diam dan tersingkir, atau terus berkembang dan menjadi bagian dari masa depan. Maka, mari gunakan AI sebagai alat untuk memperkuat, bukan menggantikan peran kita sebagai manusia.
Tinggalkan Komentar
Komentar