Periskop.id - Perubahan gaya hidup masyarakat urban dalam satu dekade terakhir memunculkan berbagai simbol baru yang dianggap mewakili identitas, gaya hidup, bahkan status sosial. Salah satu simbol yang tampak sederhana, tetapi memiliki makna sosial yang berkembang pesat adalah tumbler kopi. 

Dari sekadar wadah minum, tumbler kini menjadi simbol gaya hidup sehat, peduli lingkungan, sekaligus bagian dari budaya konsumsi modern. Fenomena ini kembali mengemuka setelah viralnya kasus tumbler Kopi Tuku yang hilang di kereta rel listrik (KRL) yang menunjukkan bagaimana sebuah benda kecil dapat memicu perdebatan publik dan sentimen sosial dalam skala besar.

Kasus ini bermula ketika seorang penumpang KRL bernama Anita Dewi melakukan perjalanan dari Tanah Abang menuju Rangkasbitung. Ia secara tidak sengaja meninggalkan sebuah tas berisi tumbler Kopi Tuku di dalam gerbong. Tas tersebut kemudian ditemukan oleh petugas dan diamankan di stasiun sesuai prosedur.

Saat Anita kembali untuk mengambil barangnya, ia mengaku bahwa tumbler yang berada di dalam tas itu sudah tidak ada. Cerita tersebut kemudian ia unggah ke media sosial dan langsung menyedot perhatian publik. Beragam reaksi pun bermunculan, mulai dari yang membela Anita hingga yang menilai persoalan ini terlalu dilebih-lebihkan.

Situasi makin ramai setelah beredar kabar bahwa seorang petugas bernama Argi mendapat sanksi dan bahkan disebut-sebut terancam dipecat akibat laporan tersebut. Namun, PT Kereta Api Indonesia (KAI) menegaskan bahwa belum ada keputusan pemecatan dan proses pemeriksaan internal masih berlangsung untuk mengklarifikasi kejadian sebenarnya. Perdebatan pun melebar karena sebagian publik telanjur menilai bahwa petugaslah yang bersalah sebelum hasil investigasi resmi diumumkan.

Melihat dinamika kasus tersebut, terlepas dari kontroversi yang mengiringinya, menarik untuk menelisik bagaimana sebuah tumbler dapat memiliki makna yang begitu istimewa, bukan hanya bagi Anita Dewi sebagai sosok yang terlibat langsung, tetapi juga bagi banyak orang di kota-kota besar saat ini.

Tumbler dari Wadah Minum Menjadi Ikon Gaya Hidup

Kasus tersebut menunjukkan bahwa tumbler tidak lagi dipandang sebagai barang fungsional semata. Tumbler Kopi Tuku yang hilang itu bukan sekadar kehilangan biasa, karena bagi pemiliknya, barang tersebut memiliki nilai yang lebih dari fungsi. Nilai itu melekat pada merek, desain, dan citra yang diasosiasikan dengan identitas konsumennya.

Fenomena ini selaras dengan temuan artikel jurnal “Tumbler sebagai Simbol Gaya Hidup dan Status Sosial di Masyarakat Urban” yang menyebut bahwa tumbler telah berkembang menjadi representasi gaya hidup modern, mulai dari kesehatan, keberlanjutan, hingga tren konsumsi ramah lingkungan. Penggunaan tumbler meningkat seiring dengan kampanye pengurangan plastik dan penerapan prinsip Sustainable Development Goals (SDGs) pada bidang ekosistem lingkungan.

Namun, tumbler juga berperan dalam budaya konsumsi simbolik. Artikel “Konsumsi Media Sosial Bagi Kalangan Pelajar: Studi Pada Hyperrealitas TikTok” menyebut bahwa objek-objek gaya hidup yang sering dipamerkan di media sosial berubah menjadi penanda identitas. 

Tumbler dari brand tertentu, seperti Kopi Tuku, Janji Jiwa, Starbucks, atau edisi terbatas dari merek coffeeshop populer lainnya, dapat membentuk citra diri penggunanya di ruang sosial maupun digital. Desain menarik, logo merek yang ikonik, serta narasi kualitas menjadikan tumbler sebagai bagian dari fashion perkotaan.

Pada titik tertentu, tumbler mengalami perubahan makna. Ia bukan lagi sekadar wadah minum, tetapi menjadi bentuk statement sosial, berupa modern, mobile, sadar lingkungan, produktif, dan up-to-date. Inilah yang menjelaskan mengapa seseorang dapat memberikan respons emosional terhadap insiden hilangnya tumbler Kopi Tuku di KRL. Kasus yang semula sederhana berubah menjadi ruang negosiasi makna antara konsumen, pekerja layanan publik, dan komunitas digital.

Tumbler sebagai Produk Kapitalisme & Bentuk Identitas Baru

Sosiolog Anthony Giddens memberikan kerangka yang relevan untuk memahami fenomena ini. Dalam konsep modernitas reflektif, sebagaimana dikutip dalam artikel “The Globalizing of Modernity”, modernitas menciptakan masyarakat berisiko, yaitu ketika individu terus-menerus membentuk dan menegosiasi identitas melalui barang konsumsi. 

Tumbler, sebagai komoditas kapitalis, menjadi medium aksi individu, seperti memilih merek tertentu, memamerkan di media sosial, membawanya ke ruang publik, dapat membentuk makna sosial baru.

Konsep duality of structure Giddens, sebagaimana dijelaskan dalam artikel “Anatomi Teori Strukturasi dan Ideologi Jalan Ketiga Anthony Giddens”, itu tidak hanya membentuk perilaku individu, tetapi juga terbentuk dari apa yang individu lakukan setiap hari. Jadi hubungan keduanya dua arah. 

Contohnya pada penggunaan tumbler ketika orang memakai tumbler karena ingin hidup sehat atau peduli lingkungan. Namun, tanpa disadari, tindakan itu juga ikut memperkuat makna bahwa tumbler tertentu, misalnya yang bermerek atau edisi khusus, dianggap sebagai simbol gaya hidup atau status sosial. Jadi individu tidak hanya mengikuti tren, tapi juga ikut membuat tren itu makin kuat.

Artikel jurnal “Gaya Hidup Urban dan Konsumsi Simbolik: Fenomena Penggunaan Tumbler sebagai Simbol Status Sosial di Kalangan Mahasiswi Unsoed” memperjelas bahwa tumbler telah berubah makna dari barang fungsional menjadi simbol identitas. Pemilihan tumbler sering didorong oleh nilai estetis, eksklusivitas merek, dan strategi branding

Tumbler dari coffeeshop high-end atau edisi khusus dianggap memiliki nilai status tersendiri, terutama di kalangan muda urban yang ingin tampil modern.

Dengan demikian, viralnya kasus tumbler Kopi Tuku dan KRL bukan sekadar persoalan kehilangan barang. Ini adalah representasi bagaimana konsumen memaknai barang sehari-hari sebagai penanda identitas. Tumbler menjadi objek sosial yang memuat simbol gaya hidup, status kelas urban, dan refleksi konsumerisme modern. Karena itu, dapat memicu reaksi yang jauh lebih besar daripada nilai fungsionalnya.