Periskop.id - Para pengamat langit di seluruh dunia akan disuguhi pemandangan menakjubkan pekan ini. Bulan purnama terbesar kedua tahun 2025, yang dikenal sebagai Cold Supermoon, akan terbit di ufuk timur saat senja dan tampak berada lebih tinggi di langit malam dibanding bulan purnama lainnya sepanjang tahun. Fenomena ini bukan sekadar tontonan visual, melainkan juga membawa implikasi signifikan terhadap kondisi perairan di wilayah pesisir Indonesia.

Supermoon Tertinggi dan Puncak Visual Astronomi

Dilansir dari Live Science, Bulan akan mencapai fase purnama secara resmi pada Kamis (4/12) pukul 18.14 waktu Eastern Standard Time (EST), atau setara pukul 6.14 Waktu Indonesia Barat (WIB), dan akan terbit di timur dalam rasi bintang Taurus. Cold Supermoon ini merupakan supermoon ketiga dari empat supermoon berturut-turut, dan menjadi yang terbesar kedua tahun ini setelah Beaver Moon di bulan November.

Supermoon terjadi ketika fase bulan purnama bertepatan dengan jarak Bulan yang paling dekat dengan Bumi, yang disebut perige. Kombinasi ini membuat Bulan terlihat sekitar 10% lebih besar dari ukuran rata-rata dan cahayanya lebih terang. Walaupun titik purnama terjadi pada senja tanggal 4 Desember, Cold Moon juga akan tampak cerah dan penuh sehari sebelum dan sesudahnya, terutama pada Jumat (5/12) ketika Bulan terbit sekitar satu jam setelah matahari terbenam. Waktu ini ideal bagi para pengamat langit.

Keunikan lain dari bulan purnama Desember adalah posisinya. Menjelang titik balik musim dingin (winter solstice) pada 21 Desember di Belahan Bumi Utara, matahari berada pada posisi terendah di langit pada siang hari. Sebagai kebalikannya, bulan purnama, yang secara definisi berada tepat berlawanan dengan matahari, mencapai posisi tertingginya pada malam hari.

Bulan purnama berikutnya adalah Wolf Moon pada 3 Januari 2026, yang juga menjadi supermoon keempat sekaligus terakhir dalam rangkaian empat supermoon berturut-turut. Wolf Moon akan menjadi bulan purnama pertama dari total 13 bulan purnama pada tahun 2026, karena akan ada Blue Moon, yaitu bulan purnama kedua dalam satu bulan kalender pada Mei 2026.

Cold Moon: Julukan dari Masyarakat Adat Amerika

Lantas, mengapa disebut sebagai Cold Moon? Dilansir dari Forbes, Cold Moon atau bulan purnama dingin, merupakan purnama terakhir dari rangkaian 12 bulan purnama yang muncul sepanjang tahun 2025.

Nama ini berasal dari masyarakat Mohawk, salah satu suku asli Amerika, yang mengaitkannya dengan datangnya udara dingin menjelang winter solstice, yakni titik balik Matahari di musim dingin. 

Sementara itu, suku Mohican menyebutnya Long Night Moon atau Bulan Malam Panjang. Julukan ini merujuk pada periode ketika belahan bumi utara mengalami siang paling singkat dan malam paling panjang dalam setahun, fenomena yang muncul karena Bumi bagian utara berada pada kemiringan maksimal yang menjauh dari Matahari.

Saat mencapai posisi tertinggi di langit, Cold Moon akan membentuk pola segitiga menawan bersama gugus bintang Pleiades dan Aldebaran, bintang terang di rasi Taurus.

Waktu Pengamatan Optimal dan Peringatan BMKG

Merujuk pada informasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Supermoon atau Purnama Perige terjadi ketika Bulan berada pada posisi perige (terdekat dengan Bumi) yang bersamaan waktunya dengan fase Bulan Purnama.

Meski Supermoon akan mencapai fase puncak (purnama) pada pukul 6.14 WIB (pagi hari), BMKG menyebut fase puncak ini tidak akan terlihat terlalu jelas di Indonesia karena bertepatan dengan waktu pagi. Oleh karena itu, fase puncak ini dapat diamati secara jelas dari wilayah Bumi yang masih berada di waktu malam.

Meskipun puncak purnama terjadi pagi hari, Bulan terlebih dahulu mencapai posisi perige pada 4 Desember 2025 pukul 18.05 WIB. Karena itu, Bulan sudah tampak besar sejak malam sebelumnya, dan kondisi visual paling optimal bagi pengamat Indonesia adalah pada malam 4 Desember dan dini hari 5 Desember ketika Bulan masih berada di langit.

Ancaman Banjir Pesisir (Rob) di 21 Wilayah Indonesia

Fenomena fase perige dan Bulan Purnama yang terjadi pada tanggal 4 Desember 2025 ini membawa dampak signifikan bagi wilayah pesisir. Sebagaimana press release BMKG, kombinasi ini berpotensi meningkatkan ketinggian air laut maksimum.

Berdasarkan pantauan data water level dan prediksi pasang surut, banjir pesisir (rob) berpotensi terjadi di total 21 wilayah pesisir Indonesia, di antaranya mencakup:

  • Pesisir Aceh, Sumatera Utara, Sumatra Barat, Jambi, Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, dan Lampung.
  • Pesisir Banten, Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Bali.
  • Pesisir Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur.
  • Pesisir Kalimantan Utara, Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah.
  • Pesisir Sulawesi Utara dan Maluku.

BMKG mengingatkan, potensi banjir pesisir ini secara umum berdampak pada aktivitas masyarakat di sekitar pelabuhan dan pesisir, seperti aktivitas bongkar muat di pelabuhan, aktivitas di pemukiman pesisir, serta aktivitas tambak garam dan perikanan darat.

Masyarakat dihimbau untuk selalu waspada dan siaga untuk mengantisipasi dampak dari Pasang Maksimum Air Laut serta memperhatikan update informasi cuaca maritim dari BMKG melalui Call center 021-6546315/18 atau 196, situs http://maritim.bmkg.go.id, serta follow akun Twitter dan Instagram @BMKGmaritim, atau dapat langsung menghubungi kantor BMKG terdekat.