periskop.id - Pernahkah Anda merasa ragu saat mendengar janji manis politisi di televisi, atau mungkin merasa was-was saat berurusan dengan birokrasi? Tenang, Anda tidak sendirian.

Kepercayaan adalah hal paling berharga dalam interaksi sosial. Tanpa kepercayaan, tatanan masyarakat bisa goyah. Namun, data terbaru menunjukkan bahwa di Indonesia, ada beberapa profesi yang sedang mengalami krisis kepercayaan yang cukup serius.

Pada Oktober 2024 lalu, lembaga riset Ipsos merilis laporan tahunan Global Trustworthiness Index 2024. Hasilnya, ada kabar baik, namun ada juga "pekerjaan rumah" besar bagi para pemegang kekuasaan di negeri ini. Mari kita bedah datanya.

Juara Ketidakpercayaan: Politisi dan Pejabat

Jika kita berbicara tentang siapa yang paling membuat masyarakat Indonesia skeptis, jari telunjuk mayoritas responden mengarah ke satu kelompok, yaitu para pemegang kekuasaan.

Berdasarkan survei tersebut, politisi menduduki peringkat pertama sebagai profesi yang paling tidak dipercaya, dengan angka ketidakpercayaan mencapai 45%. Hampir separuh masyarakat kita merasa ragu akan integritas mereka.

Tidak jauh di belakangnya, ada pejabat kabinet/kementerian dan polisi. Kedua profesi ini kompak mencatatkan tingkat ketidakpercayaan sebesar 41%.

Mengapa angkanya setinggi ini? Meski survei tidak merinci alasannya secara kualitatif, kita bisa menafsirkan bahwa isu transparansi, akuntabilitas, dan komunikasi publik yang kurang efektif menjadi pemicu utamanya. Ini adalah sinyal keras bahwa masyarakat merindukan bukti nyata, bukan sekadar janji.

Influencer: Populer, tapi Diragukan?

Nah, ini yang menarik. Di era media sosial, sosok influencer atau pemengaruh sering kali terlihat lebih mendominasi layar kaca handphone kita dibandingkan pejabat negara. Namun, apakah popularitas berbanding lurus dengan kepercayaan? Ternyata tidak selalu.

Data Ipsos menunjukkan 25% masyarakat Indonesia tidak percaya pada influencer. Angka ini menempatkan mereka di posisi yang cukup rawan setelah politisi dan aparat. Selain itu, profesi pegawai pemerintah dan pengacara juga mencatat angka ketidakpercayaan masing-masing sebesar 24%, disusul oleh hakim dengan 23%.

Meskipun angkanya lebih rendah dibandingkan politisi, ini tetap menjadi catatan penting bahwa popularitas dan jabatan tidak otomatis membeli kepercayaan publik.

Plot Twist, Kita Masih Lebih Optimis dari Negara Maju

Setelah mencermati deretan angka tersebut, kesan pertama mungkin mengarah pada gambaran suram soal kepercayaan publik di tanah air. 

Tunggu dulu. Di sinilah letak paradoks yang menarik. Meskipun angka ketidakpercayaan terhadap politisi dan polisi kita tinggi, ternyata masyarakat Indonesia masih jauh lebih optimis dan menaruh harapan dibandingkan negara-negara maju, bahkan negara tetangga.

Coba bandingkan data kepercayaan (trust) berikut ini:

  • Politisi: Tingkat kepercayaan di Indonesia masih 25%. Bandingkan dengan Jerman, Belanda, dan Belgia yang hanya 17%.
  • Polisi: Kepercayaan kita pada polisi sebesar 28%, ternyata lebih tinggi daripada Korea Selatan (25%).
  • Pejabat Kementerian: Tingkat kepercayaan kita mencapai 25% jauh lebih percaya pada pejabat kita dibanding masyarakat Jepang yang sangat skeptis (11%) atau Korea Selatan (16%).

Artinya, masyarakat Indonesia sebenarnya memiliki karakter yang pemaaf dan penuh harap. Kita kritis, tetapi tidak apatis total seperti fenomena yang terjadi di banyak negara maju.

Potret Kontras Kepercayaan Publik di Indonesia

Jika politisi dan polisi ada di zona merah, lantas siapa yang menjadi pemegang tahta kepercayaan tertinggi?

Jawabannya adalah para pahlawan tanpa tanda jasa. Guru menjadi profesi paling dipercaya dengan angka 74%, disusul Dokter (73%) dan Ilmuwan (70%).

Ada satu fakta membanggakan, Indonesia menjadi negara dengan tingkat kepercayaan tertinggi di dunia terhadap Jurnalis, yaitu mencapai 51%. Di saat dunia global mengalami krisis kepercayaan terhadap media, masyarakat Indonesia justru melihat jurnalis sebagai pilar informasi yang kredibel.

Data dari Ipsos ini bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan cerminan hati nurani masyarakat. Indonesia punya potensi besar, masyarakatnya masih mau percaya, masih punya harapan, dan sangat menghargai profesi yang bekerja dengan hati, seperti guru dan dokter.

Bagi profesi yang masih memiliki rapor merah, terutama politisi, pejabat, dan polisi, ini adalah momentum untuk refleksi. Kepercayaan publik tidak bisa diminta, ia harus diperjuangkan melalui transparansi dan kerja nyata.