periskop.id - Dilansir dari berbagai sumber, pada Senin (15/12), menjadi momen mengejutkan bagi warga Guaíba, Brasil. Di pelataran parkir sebuah gerai Havan, sebuah replika Patung Liberty setinggi sekitar 35 meter roboh diterjang angin kencang yang dilaporkan mencapai 80—90 km/jam.
Video amatir yang beredar di media sosial menunjukkan patung itu patah tepat di bagian bawahnya dan menghantam tanah dengan suara keras, memicu kekagetan sekaligus kekhawatiran warganet.
Beruntungnya, tidak ada korban jiwa. Area parkir yang sepi karena peringatan cuaca buruk membuat insiden ini tidak menimbulkan luka serius. Patung tersebut, meski mirip sang ikon di New York, dibangun sebagai replika dan tidak dirancang untuk menahan angin ekstrem seperti badai.
Menarik untuk dibandingkan dengan Patung Liberty asli di New York yang berdiri sejak 1886. Patung asli ini telah menghadapi berbagai badai, termasuk Badai Sandy pada 2012 dengan kecepatan angin jauh lebih tinggi tanpa runtuh, meski fasilitas sekitarnya sempat terdampak. Perbandingan ini menunjukkan bahwa ketahanan struktur sangat tergantung pada teknik rekayasa dan material, bukan sekadar keberuntungan.
Kejadian di Brasil ini menjadi pengingat bahwa replika, sekaya dan setinggi apa pun, tidak bisa langsung meniru ketahanan monumen asli. Mari kita bedah lebih dalam, mengapa sang peniru gagal total sementara sang asli justru bersahabat dengan badai.
Ini Alasan Rekayasa di Balik Robohnya Replika Patung Liberty
Untuk memahami mengapa replika Patung Liberty di Guaíba roboh, kita perlu melihatnya dari kacamata rekayasa struktur, bukan sekadar menyalahkan cuaca. Struktur tinggi dengan permukaan luas memang sangat rentan terhadap beban angin lateral, apalagi jika tidak dirancang khusus menghadapi badai.
Angin hingga 90 km/jam bukan hanya mendorong patung, tetapi menciptakan tekanan dinamis yang menumpuk sepanjang ketinggian struktur. Tekanan ini memicu gaya lentur terbesar di bagian bawah patung, titik yang secara teknis paling rentan mengalami kegagalan.
Berbeda dengan monumen bersejarah yang dirancang untuk bertahan puluhan bahkan ratusan tahun, banyak replika komersial dibangun untuk fungsi visual semata. Tanpa fleksibilitas struktur atau sistem peredam beban, kegagalan mendadak menjadi risiko nyata.
Rekaman video menunjukkan patahan terjadi tepat di atas alas, tanda klasik kegagalan akibat beban lateral berlebih. Artinya, patung ini runtuh bukan karena angin semata, melainkan karena struktur yang tak mampu beradaptasi dengan kekuatan alam.
Rahasia yang Jarang Diketahui: Gustave Eiffel di Balik Ketahanan Patung Liberty
Setelah melihat kegagalan struktur kaku, mari kita beralih ke New York. Banyak orang mengenal Frederic Auguste Bartholdi sebagai pematung yang mendesain wajah dan jubah Liberty. Namun, pahlawan tanpa tanda jasa yang membuat patung ini bisa berdiri kokoh adalah Alexandre Gustave Eiffel.
Ya, Anda tidak salah baca. Dia adalah insinyur jenius yang sama yang merancang Menara Eiffel di Paris. Sebelum Menara Eiffel dibangun, Gustave Eiffel menerapkan prinsip rekayasa revolusionernya pada kerangka dalam (internal framework) Patung Liberty.
Dilansir dari THEB1M, Eiffel menyadari bahwa patung setinggi itu tidak bisa dibangun seperti tembok batu yang padat dan kaku. Ia menciptakan sistem struktur yang disebut dinding tirai (curtain wall). Ini adalah konsep yang sangat maju pada zamannya dan menjadi cikal bakal gedung pencakar langit modern. Idenya sederhana, tapi brilian. Kulit luar patung (jubah tembaga) tidak menanggung beban berat patung itu sendiri. Kulit tersebut hanya berfungsi sebagai "baju" yang digantungkan pada kerangka pusat.
Di bagian dalam Liberty, terdapat pylon (menara) pusat yang terbuat dari baja. Dari pylon ini, menjulur ribuan batang besi sekunder yang terhubung ke kulit tembaga. Namun, sambungan ini tidak dikunci mati atau dilas kaku. Eiffel menggunakan batang besi fleksibel dan pelana logam (saddles) yang memungkinkan kulit tembaga untuk bergerak sedikit, memuai, dan menyusut tanpa merusak kerangka utamanya. Struktur ini tidak melawan gaya dari luar, melainkan mendistribusikan beban tersebut secara merata ke pusat, lalu menyalurkannya ke tanah. Inilah alasan mengapa kerangka Liberty disebut sebagai salah satu karya teknik paling elegan di abad ke-19.
The Art of Sway: Seni Bergoyang Melawan Angin
Salah satu rahasia ketahanan Patung Liberty justru terletak pada kemampuannya untuk tidak sepenuhnya diam. Saat badai besar melanda New York, patung ini memang bergoyang dan itulah yang menyelamatkannya. Data dari National Park Service (NPS) Amerika Serikat mencatat bahwa Statue of Liberty mampu bergoyang hingga sekitar 3 inci dan bagian obor hingga 6 inci saat diterpa angin kuat sekitar 50 mph. Ini menunjukkan bahwa fleksibilitas struktur adalah bagian dari desainnya.
Kerangka internal rancangan Gustave Eiffel dibuat cukup fleksibel untuk mengakomodasi tekanan angin dan perubahan suhu. Dengan memberi ruang bagi struktur untuk bergerak sedikit, energi dari badai tidak menumpuk pada satu titik berbahaya. Secara sederhana, patung ini tidak “melawan” angin secara kaku, melainkan membiarkan sebagian energi tersebut dilepaskan melalui gerakan halus. Prinsip ini kerap dianalogikan dengan bambu yang melengkung saat diterpa angin kencang, alih-alih patah seperti pohon tua yang kaku.
Kemampuan bergoyang inilah yang membuat Patung Liberty mampu bertahan lebih dari satu abad menghadapi badai besar, termasuk cuaca ekstrem. Sebaliknya, struktur replika yang dibangun tanpa fleksibilitas serupa cenderung mengalami kegagalan mendadak saat batas kekuatannya terlampaui. Dalam pertarungan antara rekayasa yang adaptif dan kekuatan alam, Patung Liberty membuktikan bahwa bertahan bukan soal melawan, melainkan soal menyesuaikan diri.
Tinggalkan Komentar
Komentar