periskop.id - Mari kita awali pembahasan ini dengan sebuah ironi. Di satu sisi, kita merayakan Artificial Intelligence (AI) sebagai revolusi teknologi yang memudahkan hidup. Namun, di sisi lain, data terbaru dari UN Women menyingkap fakta yang sangat meresahkan, 99% individu yang menjadi target pornografi deepfake adalah perempuan. 

Laporan tersebut menyoroti bahwa 98% dari total video deepfake yang beredar di internet merupakan konten pornografi. Parahnya lagi, hampir seluruh konten ini diproduksi tanpa izin atau non-consensual. Bayangkan betapa mengerikannya situasi ini, wajah seorang perempuan bisa dicuri dari media sosial, lalu ditempelkan secara digital ke tubuh orang lain dalam adegan seksual, kemudian disebarluaskan ke seluruh dunia hanya dalam hitungan menit.

UN Women mengategorikan fenomena ini sebagai bentuk kekerasan berbasis gender yang difasilitasi teknologi. Pelaku menggunakan kecanggihan AI bukan untuk inovasi positif, melainkan sebagai senjata untuk mempermalukan, mengintimidasi, dan membungkam perempuan di ruang publik. Kita tidak bisa lagi menutup mata dan menganggap AI sebagai entitas yang netral karena di tangan yang salah, ia berubah menjadi alat teror yang sangat spesifik menargetkan gender tertentu.

Ketika Teknologi Dibangun Tanpa Perspektif Perempuan

Jika kita telusuri ke belakang layar, alasan teknologi ini menjadi begitu bias sebenarnya cukup ironis. Masalahnya terletak pada siapa yang menciptakannya. Laporan UN Geneva menyoroti bahwa mayoritas alat deepfake ini dikembangkan oleh tim yang didominasi laki-laki sehingga perspektif perlindungan terhadap perempuan sering kali luput. 

Bukti paling nyata dari ketimpangan ini adalah fakta bahwa beberapa perangkat lunak tersebut bahkan tidak akan berfungsi jika diberi foto laki-laki, sistemnya memang didesain secara spesifik untuk menargetkan perempuan.

Situasi ini diperparah oleh “topeng” dunia maya. Fasilitas anonimitas membuat para pelaku merasa seolah-olah memiliki kekebalan hukum. Mereka bisa dengan leluasa menyerang, mempermalukan, dan membungkam korban dari balik layar, tanpa perlu takut identitas aslinya terungkap atau mendapat hukuman.

Kekerasan Digital yang Menyusup ke Kehidupan Nyata

Banyak dari kita yang masih terlena dengan anggapan bahwa kekerasan di dunia maya itu tidak nyata, seolah-olah semua masalah akan hilang begitu kita menekan tombol keluar. Padahal, pandangan ini sangat menyesatkan. 

Aktivis Laura Bates, sebagaimana dikutip dalam laporan tersebut, menegaskan bahwa pemisahan antara dunia online dan offline hanyalah ilusi. Teror digital tidak pernah terkurung di dalam layar, ia memiliki cara untuk merembes keluar dan menginvasi kehidupan sehari-hari.

Dampaknya sangat nyata di kehidupan fisik.

1. Karier dan Pendidikan: Korban deep fake pornografi bisa kehilangan pekerjaan atau terpaksa putus sekolah karena rasa malu dan stigma (seperti slut-shaming).

2. Keselamatan Fisik: Kekerasan digital sering kali menjadi pintu masuk bagi penguntitan (stalking) hingga kekerasan fisik di dunia nyata.

3. Pembungkaman Suara: Para pemimpin perempuan, jurnalis, dan aktivis menjadi sasaran utama. Data menunjukkan 1 dari 4 jurnalis perempuan melaporkan pernah menerima ancaman pembunuhan secara daring.

Langkah Nyata Menciptakan Ruang Digital yang Aman

Membaca fakta-fakta di atas mungkin membuat kita geram, tapi marah saja tidak cukup. Kita perlu aksi nyata. Kabar baiknya, kontribusi terbesar untuk menciptakan internet yang aman justru datang dari langkah-langkah praktis yang bisa kita lakukan detik ini juga.

1. Jadilah Pemutus Rantai Penyebaran

Kendalinya ada di ujung jari kita. Saat menemukan konten yang mencurigakan atau melanggar privasi seseorang, tahan dorongan untuk membagikannya. Jangan beri panggung kepada pelaku. Sebaliknya, segera gunakan fitur pelaporan agar konten tersebut bisa diturunkan dan tidak memakan korban lain.

2. Berikan Empati, Bukan Penghakiman 

Sering kali korban justru makin terpuruk karena komentar negatif warganet. Kita perlu menyadari bahwa meskipun jejak digital itu kejam, ketidakpedulian dan sikap menghakimi kita justru jauh lebih melukai. Mari berdiri di sisi korban dengan memberikan dukungan, bukan stigma.

3. Tuntut Tanggung Jawab Platform 

Kita bisa mendesak perubahan dengan cara selektif. Dukunglah platform teknologi yang terbukti serius menangani moderasi konten dan responsif terhadap laporan pelecehan.