periskop.id - Akhir tahun 2025 menjadi momen krusial untuk menengok kembali performa Kabinet Merah Putih di bawah kepemimpinan Prabowo-Gibran. Bagi generasi muda, kinerja pemerintah bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan dampak nyata yang dirasakan sehari-hari.
Baru-baru ini, Muda Bicara ID merilis hasil Survei Nasional Q4 yang memotret persepsi kelompok muda terhadap para menteri. Survei yang dilaksanakan pada periode 10 November hingga 10 Desember 2025 ini melibatkan 800 responden yang tersebar di seluruh Indonesia. Hasilnya cukup mengejutkan dan menunjukkan kedewasaan berpikir anak muda dalam menilai prioritas kebijakan.
Siapa saja menteri yang berhasil mencuri hati dan kepercayaan anak muda? Mari kita bedah temuannya dalam empat sorotan utama berikut ini.
Fondasi Masa Depan Dipertaruhkan, Dua Menteri Ini Puncaki Penilaian
Tidak bisa dipungkiri, isu ekonomi dan pendidikan menjadi perhatian utama generasi muda saat ini. Hal ini tercermin jelas dari dua nama yang menduduki puncak klasemen menteri berkinerja terbaik.
Posisi pertama ditempati oleh Purbaya Yudhi Sadewa selaku Menteri Keuangan dengan perolehan suara 16,34%. Tingginya apresiasi ini mengindikasikan bahwa anak muda sangat menaruh harapan pada stabilitas ekonomi makro dan kebijakan fiskal yang pro-rakyat. Di tengah tantangan ekonomi global, sosok pengelola keuangan negara yang mampu memberikan rasa aman dan kepastian menjadi idola baru bagi mereka yang sedang merintis karier atau usaha.
Menyusul di posisi kedua adalah Abdul Mu’ti selaku Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) dengan angka 14,06%. Kehadiran beliau di posisi runner-up menegaskan bahwa generasi muda sangat peduli pada reformasi pendidikan. Gebrakan kebijakan yang menyentuh akar rumput, perbaikan kurikulum, hingga kesejahteraan guru tampaknya menjadi poin plus yang dirasakan langsung dampaknya. Dominasi dua menteri ini mengirimkan sinyal kuat bahwa anak muda menginginkan fondasi ekonomi yang kuat dan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni.
Infrastruktur dan Kerukunan Sosial Jadi Sorotan Generasi Muda
Setelah urusan ekonomi dan pendidikan, perhatian responden beralih pada arah pembangunan dan ketenangan sosial. Di sini kita melihat peran strategis dari sektor infrastruktur dan agama.
Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) sebagai Menteri Koordinasi (Menko) Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, berhasil mengamankan posisi ketiga dengan 12,51%. Angka ini menunjukkan bahwa anak muda mengapresiasi upaya pemerintah dalam meratakan pembangunan hingga ke pelosok. Bagi generasi yang gemar traveling dan membutuhkan mobilitas tinggi, infrastruktur yang baik bukan lagi kemewahan, melainkan kebutuhan dasar.
Menariknya, di posisi keempat ada Nasaruddin Umar selaku Menteri Agama dengan 10,05%. Di era digital yang sering kali riuh dengan perdebatan, sosok yang mampu membawa narasi moderasi beragama dan kesejukan sangat dihargai. Anak muda cenderung menyukai pendekatan keagamaan yang inklusif, toleran, dan damai. Kehadiran Nasaruddin di lima besar membuktikan bahwa isu kerukunan umat beragama tetap menjadi prioritas penting bagi stabilitas sosial di mata kaum muda.
Lampu Kuning dari Generasi Muda untuk Sektor Tertentu
Beranjak ke papan tengah, kita menemukan kombinasi menarik antara sosok teknokrat berpengalaman, figur populer, dan loyalis.
Teddy Indra Wijaya sebagai Sekretaris Kabinet (Seskab) menempati posisi kelima dengan 7,24%. Popularitas personal dan kedekatannya dengan Presiden kemungkinan besar turut mendongkrak persepsi publik terhadap kinerjanya dalam mengelola manajemen kabinet. Di bawahnya, ada politisi senior Airlangga Hartanto selaku Menko Perekonomian dengan 7,06% yang menunjukkan bahwa pengalaman panjang dalam menjaga stabilitas ekonomi tetap dihargai meski bersaing dengan wajah-wajah baru.
Daftar ini kemudian dilengkapi oleh Andi Amran Sulaiman (Menteri Pertanian - 5,39%), Yusril Ihza Mahendra (Menko Hukum, HAM dan Imipas - 5,21%), Sugiono (Menteri Luar Negeri - 5,03%), dan Budi Gunadi Sadikin (Menteri Kesehatan - 4,25%).
Meskipun persentasenya di bawah 10%, kehadiran nama-nama ini menunjukkan bahwa kinerja sektoral tetap diperhatikan. Namun, angka yang lebih kecil pada sektor Hukum, HAM, dan Kesehatan bisa jadi merupakan "lampu kuning" atau kritik halus dari anak muda yang merasa capaian di bidang tersebut belum seoptimal bidang ekonomi dan pendidikan.
Apa Makna di Balik Angka Ini?
Melihat data di atas secara keseluruhan, kita bisa menarik benang merah tentang karakter generasi muda Indonesia di akhir tahun 2025.
Pertama, pola pikir anak muda sangat logis dan realistis. Mereka lebih mengutamakan menteri yang mengurusi kebutuhan pokok mereka secara langsung, seperti masalah ekonomi dan pendidikan. Kedua, meskipun faktor popularitas tetap berpengaruh, kemampuan kerja dan keahlian nyata dalam memberikan solusi jauh lebih diutamakan.
Penting juga dicatat bahwa terdapat 12,87% responden yang memilih "Menteri/Kepala Badan lainnya". Angka ini cukup besar, bahkan lebih tinggi dari posisi ketiga. Hal ini menandakan bahwa apresiasi anak muda sebenarnya tersebar luas dan tidak hanya terkonsentrasi pada 10 nama teratas saja. Ada menteri-menteri lain yang kinerjanya juga dilihat. Namun, mungkin belum terekspos secara masif.
Tinggalkan Komentar
Komentar