periskop.id - Keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan keluarga bagi ibu bekerja bukan sekadar soal manajemen waktu. Menurut psikolog Cecilia Helmina E., M.Psi., faktor dukungan keluarga, pembagian peran yang adil, serta kualitas interaksi dengan anak menjadi penentu utama.

Cecilia, yang berpraktik di RS Mitra Keluarga, menegaskan bahwa tantangan terbesar ibu bekerja adalah menjalankan dua peran sekaligus: sebagai profesional di kantor dan pengasuh di rumah. 

“Tekanan tersebut kerap lebih besar dibandingkan yang dirasakan ayah,” ujarnya dilansir dari Antara, Selasa (30/12).

Ia menambahkan berbagai studi menunjukkan ibu cenderung merasakan tuntutan emosional yang lebih tinggi karena harus memastikan urusan pekerjaan dan pengasuhan berjalan seimbang. Untuk itu, disarankan agar ibu bekerja tidak ragu meminta bantuan. Dukungan pasangan, anggota keluarga lain, atau tenaga profesional dalam mengelola pekerjaan rumah tangga dapat meringankan beban.

Menurutnya, pembagian peran yang jelas dan adil sangat penting. Tanpa hal tersebut, beban pengasuhan dan pekerjaan domestik sering kali hanya bertumpu pada satu pihak, biasanya ibu.

Selain pembagian tugas, kualitas interaksi dengan anak menjadi juga menjadi kunci. 

“Kualitas interaksi tidak ditentukan oleh seberapa lama ibu bersama anak, tetapi bagaimana kehadiran ibu itu dirasakan,” kata Cecilia.

Ia menekankan pentingnya kehadiran penuh saat bersama anak, misalnya dengan berbincang saat makan bersama atau sebelum tidur. Kehadiran yang utuh lebih bermakna dibandingkan lamanya waktu kebersamaan.

Tak lupa juga, ibu bekerja harus mampu membatasi pekerjaan kantor saat berada di rumah. Hal ini untuk menjaga agar waktu bersama keluarga tetap terjaga dan tidak terganggu oleh urusan profesional.

Fenomena ibu bekerja di Indonesia terus meningkat. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menunjukkan jumlah tenaga profesional perempuan mencapai 50%, naik sekitar dua persen dibandingkan tahun 2020.

Tren ini sejalan dengan laporan International Labour Organization (ILO) yang menyebutkan partisipasi perempuan di dunia kerja Asia Tenggara meningkat signifikan dalam satu dekade terakhir, meski tantangan keseimbangan peran tetap tinggi.