Periskop.id - Pasar air minum dalam kemasan Indonesia memasuki fase pertumbuhan baru. Berdasarkan riset Mordor Intelligence, nilai pasar air minum dalam kemasan (AMDK) di Indonesia mencapai US$3,92 miliar pada 2025.

Angka ini diperkirakan meningkat menjadi US$4,17 miliar pada 2026, dan terus tumbuh hingga US$5,7 miliar pada 2031, dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (compound annual growth rate/CAGR) sebesar 6,43% sepanjang periode proyeksi 2026 sampai 2031.

Pertumbuhan ini mencerminkan perubahan besar dalam perilaku konsumsi masyarakat Indonesia. Rumah tangga semakin meninggalkan sumber air konvensional dan beralih ke air minum bermerek maupun air isi ulang. 

Pergeseran ini didorong oleh urbanisasi yang cepat, meningkatnya kesadaran akan kesehatan, serta meluasnya jaringan distribusi di lebih dari 17.000 pulau di Indonesia.

Preferensi Konsumen

Riset ini juga menjelaskan sejumlah faktor utama yang mendorong pertumbuhan pasar. Pertama adalah berkembangnya segmen air minum premium dan fungsional yang berkontribusi sekitar 1,2% terhadap proyeksi CAGR, terutama di Jawa, Bali, dan pusat perkotaan nasional dalam jangka menengah.

Segmen ini kini mengubah dinamika pasar massal tradisional. Konsumen dengan daya beli lebih tinggi mulai melihat air minum sebagai bagian dari gaya hidup sehat, bukan sekadar kebutuhan dasar.

PT Sariguna Primatirta, misalnya, memasuki pasar air dengan pH tinggi melalui produk SuperO2 dan Vio8+. Merek lain seperti Pristine 8.6+ memfokuskan diri pada klaim manfaat kesehatan tertentu. Di sisi lain, merek niche seperti Kangen Water memanfaatkan pemasaran digital, khususnya media sosial, untuk menembus pasar perkotaan.

Strategi ini membuka sumber pendapatan baru bagi pemain besar sekaligus memberi ruang bagi merek kecil yang menyasar konsumen dengan kebutuhan spesifik.

Inovasi kemasan yang lebih praktis dan ramah lingkungan juga memberikan dampak tambahan sekitar 0,8%, dengan adopsi awal terlihat di Jakarta dan Surabaya.

Kemasan menjadi arena persaingan penting. MOUNTOYA memperkenalkan kemasan air minum tanpa label sebagai upaya mengurangi limbah plastik. 

Sementara itu, Coca-Cola melalui PT Amandina Bumi Nusantara meluncurkan botol PET yang sepenuhnya terbuat dari bahan daur ulang.

Langkah ini memperkuat komitmen menuju ekonomi sirkular, sejalan dengan target Coca-Cola untuk mencapai 50% kandungan rPET pada 2025. Namun, biaya tinggi masih menjadi tantangan, terutama bagi adopsi botol kaca yang meski tumbuh cepat, belum dapat menjangkau pasar massal.

Urbanisasi cepat turut menjadi pendorong terbesar, menambah 1,5% terhadap pertumbuhan konsumsi (AMDK), seiring meningkatnya kebutuhan hidrasi praktis bagi masyarakat urban.

Urbanisasi pesat mengubah pola konsumsi. Dengan jaringan Indomaret dan Alfamart yang memiliki lebih dari 36.000 gerai, air minum dalam kemasan semakin mudah diakses. Di kota seperti Medan, keterbatasan pasokan air bersih mendorong konsumen bergantung pada air kemasan.

Platform e-commerce juga berperan besar, membuka saluran distribusi baru sekaligus mendorong penjualan kemasan kecil dan multipack yang sesuai dengan gaya hidup pekerja urban dan pelajar.

Selain itu, adopsi teknologi pemurnian dan pembotolan yang lebih canggih, meningkatnya kesadaran kesehatan, serta ekspansi sektor pariwisata dan perhotelan ikut memperkuat permintaan nasional.

Produsen meningkatkan kualitas produk melalui adopsi teknologi pemurnian canggih. Teknologi nanofiltrasi serat berongga dari NX Filtration di Dumai dan sistem ozon serta UV oleh PT Tirta Sukses Perkasa menunjukkan bagaimana teknologi mampu menekan biaya sekaligus menjaga kualitas.

Sertifikasi ISO 22000:2005 kini menjadi standar umum. PT Sariguna Primatirta tercatat sebagai perusahaan air minum dalam kemasan pertama di Indonesia yang memperoleh sertifikasi tersebut.

Meski prospek cerah, pasar menghadapi tantangan. Kekhawatiran terkait mikroplastik dan nanoplastik diperkirakan menekan proyeksi CAGR sekitar -0,7% dalam jangka pendek. Penelitian menunjukkan botol PET yang terpapar matahari mengandung lebih banyak partikel mikroplastik.

Kelangkaan air dan isu keberlanjutan juga menjadi ancaman jangka panjang, terutama di Bali dan Jawa. Sensitivitas harga konsumen serta regulasi yang semakin ketat turut membatasi ruang ekspansi, khususnya bagi pelaku usaha kecil.

Analisis Segmen Produk

Pada 2025, air mineral tanpa rasa masih menguasai 88,15% pangsa pasar AMDK. Namun, air fungsional dan berperisa tumbuh lebih cepat, mencatat CAGR 8,32% hingga 2031, didorong milenial dan Gen Z.

Dari sisi kemasan, PET mendominasi dengan pangsa 88,68%, tetapi botol kaca tumbuh paling cepat dengan CAGR 8,05%. Kaleng dan aluminium juga mulai berkembang, terutama di segmen premium.

Segmen pasar massal masih menguasai 90,74% pangsa pasar pada 2025. Namun, segmen premium tumbuh dengan CAGR 7,79% hingga 2031, didorong naiknya kelas menengah Indonesia.

Saluran off-trade mendominasi distribusi dengan 77,95%, sementara on-trade tumbuh seiring pemulihan sektor perhotelan dan pariwisata. E-commerce, khususnya TikTok Shop, muncul sebagai kekuatan baru dalam distribusi.

Sebagai informasi, on-trade adalah penjualan minuman yang dikonsumsi langsung di tempat pembelian, seperti di restoran, kafe, atau hotel, sementara off-trade adalah penjualan minuman untuk dikonsumsi di tempat lain, biasanya di rumah, seperti yang dibeli di supermarket, minimarket, atau toko online.

Dari sisi merek, pasar didominasi oleh Danone AQUA, Le Minerale, dan Cleo. AQUA memanfaatkan jaringan distribusi luas dan komitmen keberlanjutan. Le Minerale mengandalkan sinergi dengan produk makanan ringan, sementara Cleo agresif berekspansi dengan belanja modal Rp600 miliar.