periskop.id - Linimasa media sosial belakangan ini ramai oleh perbincangan tentang Broken Strings: Fragments of a Stolen Youth, memoar yang dibagikan gratis oleh Aurelie Moeremans. 

Membaca kisah Aurelie terasa seperti merangkai potongan teka-teki yang pahit namun perlu. Buku ini menunjukkan bahwa hubungan toxic jarang dimulai dengan kekerasan, melainkan dengan perhatian, rasa aman, dan janji cinta yang perlahan berubah menjadi kontrol.

Agar kita tidak terjebak dalam pola yang sama, berikut lima tanda bahaya utama yang terungkap dari kisah Aurelie, beserta penjelasan psikologis yang membantu kita mengenalinya sejak dini.

1. Grooming dan Ketimpangan Relasi Kuasa

Akar persoalan dalam kisah Aurelie terletak pada satu hal yang sering dianggap sepele, yaitu perbedaan usia yang timpang sejak awal hubungan. Saat itu Aurelie berusia 15 tahun, sementara pasangannya seorang pria dewasa berumur 29 tahun. Di sinilah red flag pertama muncul, ketimpangan relasi kuasa.

Dalam psikologi, pola ini dikenal sebagai child grooming. Pelaku tidak menggunakan kekerasan, melainkan membangun kedekatan emosional agar korban merasa aman, istimewa, dan lebih dewasa. Menurut National Society for the Prevention of Cruelty to Children (NSPCC), usia dan pengalaman pelaku kerap dipakai sebagai alat untuk memengaruhi dan mengendalikan korban secara halus.

2. Love Bombing

Sebelum mimpi buruk dimulai, sering kali ada fase yang terasa seperti surga, dikenal sebagai love bombing. Dalam bukunya, Aurelie menggambarkan awal hubungan yang dipenuhi perhatian intens, banjir pujian, janji manis, dan sikap yang tampak nyaris terlalu sempurna.

Namun fase ini bukan sekadar romantisme. Dilansir dari Cleveland Clinic, love bombing merupakan perilaku manipulatif yang menggunakan kasih sayang berlebihan di awal hubungan untuk membangun kontrol dan ketergantungan emosional. Ikatan yang tercipta begitu cepat membuat korban sulit bersikap objektif.

Akibatnya, ketika perilaku tidak sehat mulai muncul, korban cenderung memakluminya. Ada dorongan untuk memaafkan, dengan harapan pasangan akan kembali menjadi sosok ideal seperti di awal. Rasa berutang perasaan pun perlahan terbentuk dan membuka jalan bagi manipulasi lanjutan.

3. Isolasi

Setelah korban terjerat hatinya, langkah pelaku selanjutnya adalah memastikan tidak ada orang lain yang bisa menyadarkan korban. Inilah teknik isolasi. Aurelie menceritakan dengan pilu bagaimana ia dijauhkan dari orang tuanya. Narasi yang dibangun sangat manipulatif, seolah-olah orang tua adalah penghalang bagi cinta mereka.

Inilah pola klasik hubungan toxic. Pelaku tidak memutus semuanya sekaligus, melainkan pelan-pelan mengikis hubungan korban dengan orang-orang terdekatnya. Dengan cara ini, korban kehilangan sudut pandang yang objektif.

The National Domestic Violence Hotline menjelaskan bahwa isolasi merupakan salah satu taktik paling ampuh untuk mempertahankan kendali. Saat akses ke sistem pendukung terputus, korban tidak lagi punya tempat bercerita, mencari validasi, atau meminta bantuan selain kepada pelaku itu sendiri. Di titik inilah dunia korban menyempit, dan kontrol pelaku menjadi nyaris mutlak.

4. Gaslighting

Dilansir dari Government of Western Australia, gaslighting adalah tindakan ketika seseorang dengan sengaja membuat korban bingung, memanipulasi keadaan, atau merusak kepercayaan diri korban. 

Aurelie mengalami gaslighting dalam bentuk pengaburan rasa bersalah dan tanggung jawab pelaku. Setiap kali ia merasa tersakiti, marah, atau mempertanyakan perilaku pasangannya, perasaan itu justru diputarbalikkan. Ia dibuat percaya bahwa konflik terjadi karena dirinya yang terlalu sensitif, tidak pengertian, atau salah menafsirkan niat baik.

Pola ini membuat korban kehilangan arah. Ketika perasaan sendiri terus disangkal, korban belajar untuk tidak lagi mempercayai instingnya. Di titik inilah gaslighting bekerja paling efektif, bukan dengan kebohongan besar semata, tetapi dengan pengikisan perlahan atas keyakinan korban terhadap apa yang ia rasakan dan alami.

5. Trauma Bonding

Di saat yang sama, Aurelie juga terjebak dalam trauma bonding, ikatan emosional yang terbentuk dari pola hubungan berulang, disakiti, lalu diperlakukan manis, kemudian disakiti lagi. Pola ini membuat korban sulit pergi, meski sadar hubungan tersebut menyakitkan.

Dilansir dari wtopnews, trauma bonding berkaitan dengan respons biologis di otak. Pergantian antara rasa sakit dan kelegaan memicu pelepasan hormon seperti dopamin, yang menciptakan sensasi nyaman dan harapan palsu. 

Akibatnya, momen baik setelah konflik terasa sangat melegakan, seolah menjadi hadiah setelah penderitaan. Inilah yang membuat korban terus bertahan, menunggu fase manis itu kembali, meski siklus kekerasan terus berulang.