periskop.id - Harga emas produksi PT Aneka Tambang (Antam) Tbk kembali mencetak rekor tertinggi pada Senin, 12 Januari 2026. Berdasarkan data resmi Logam Mulia, harga naik Rp29.000 dari Rp2.602.000 menjadi Rp2.631.000 per gram, memperpanjang tren positif tiga hari beruntun dengan total kenaikan Rp61.000.
Lonjakan ini mencerminkan tingginya minat investor terhadap aset lindung nilai di tengah dinamika ekonomi global. Harga emas Antam diperkirakan akan terus menguat minggu ini seiring penguatan Emas Dunia.
“Pada saat resisten pertama di US$4.550 per troy ounce, harga Logam Mulia itu di Rp2.630.000. Jadi ada kemungkinan besar di hari Senin sampai sore, harga Logam Mulia tembus di Rp2.630.000. Kemudian sampai akhir pekan, ada kemungkinan besar harga Logam Mulia itu di Rp2.700.000,” ujar Pengamat pasar komoditas Ibrahim Assuaibi, dikutip Senin (12/1).
Pada penutupan akhir pekan lalu, emas dunia berada di US$4.504 per troy ounce, sedangkan logam mulia Antam di Rp2.602.000 per gram. Ibrahim memperkirakan support pertama Emas Dunia berada di US$4.472 per troy ounce, dan support kedua di US$4.418 per troy ounce.
“Apabila harga emas dunia turun dan berdampak terhadap penguatan rupiah, logam mulia akan mengalami koreksi,” tambahnya.
Menurut Ibrahim, pergerakan harga emas dipengaruhi data tenaga kerja Amerika Serikat dan gejolak geopolitik global.
“Yang mempengaruhi harga emas dunia dan logam mulia mengalami kenaikan antara lain data tenaga kerja Amerika yang naik, tapi tidak sesuai ekspektasi, serta ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan Eropa,” jelasnya.
Data tenaga kerja AS yang hanya bertambah 50.000 orang, padahal ekspektasi 60.000, membuat Federal Reserve cenderung berhati-hati menurunkan suku bunga.
Geopolitik juga menjadi pendorong kenaikan emas. Ketegangan bergeser ke Iran, dengan demonstrasi besar yang menewaskan lebih dari 200 orang, sementara Israel dan Amerika ikut campur, meningkatkan risiko konflik. Konflik Rusia-Ukraina juga memicu ketegangan, termasuk serangan Ukraina ke Moskow dan serangan balasan Rusia. Amerika memantau pergerakan minyak mentah global untuk menjaga harga US$50 per barrel, yang berdampak pada ekonomi dunia.
Selain itu, politik AS turut memengaruhi harga emas. Kuartal pertama akan ada pemilu sela DPR, yang bisa memengaruhi peluang impeachment terhadap Trump jika Partai Demokrat menang mayoritas. Perang dagang juga berpotensi menambah tekanan berupa penghentian perang dagang bisa merugikan AS hingga US$2 triliun.
“Gonjang-ganjing permasalahan geopolitik ini mempengaruhi kondisi ekonomi di dalam negeri,” jelasnya, meski cadangan devisa meningkat menunjukkan Bank Indonesia tidak terlalu agresif intervensi. Dengan proyeksi ini, masyarakat yang ingin membeli emas Antam disarankan memperhatikan level resisten dan support, serta dinamika geopolitik dan ekonomi global yang bisa memengaruhi harga dalam beberapa hari ke depan.
Tinggalkan Komentar
Komentar