periskop.id - Aktivitas mengonsumsi camilan atau ngemil sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari keseharian masyarakat Indonesia. Entah itu saat sedang lembur kerja, menonton film, atau sekadar berkumpul bersama teman, snack selalu hadir sebagai pelengkap suasana. Namun, cara kita memilih camilan ternyata sudah jauh bergeser. Kita tidak lagi asal mengambil bungkusan di rak minimarket hanya karena warna kemasannya yang menarik.
Berdasarkan laporan World Visualized Brand Report 2025, terdapat pergeseran perilaku konsumen yang cukup signifikan. Masyarakat kini lebih kritis dan memiliki standar tertentu sebelum memutuskan untuk membeli sebuah produk. Memahami faktor-faktor ini bukan hanya penting bagi produsen, tetapi juga menarik bagi kita sebagai konsumen agar lebih sadar akan apa yang kita konsumsi. Mari kita bedah satu per satu faktor yang membuat sebuah brandsnack begitu dicintai di tanah air.
1. Dominasi Rasa yang Tak Tergantikan
Faktor pertama dan yang paling utama tetap dipegang oleh rasa. Data menunjukkan bahwa 56% masyarakat Indonesia menempatkan rasa sebagai pertimbangan nomor satu. Hal ini sangat masuk akal karena fungsi utama snack adalah memberikan kepuasan instan pada lidah. Masyarakat kita memiliki keterikatan emosional dengan rasa yang khas, baik itu manis, asin, maupun pedas yang menggugah selera. Rasa yang konsisten menciptakan loyalitas yang sangat kuat terhadap sebuah brand.
Brand seperti Chitato dan SilverQueen berhasil menguasai pasar karena mampu mempertahankan profil rasa yang ikonik selama puluhan tahun. Ketika seseorang membeli cokelat SilverQueen, mereka sudah tahu pasti standar rasa manis dan tekstur kacang yang akan mereka dapatkan. Konsistensi inilah yang membuat konsumen merasa aman dan enggan berpindah ke lain hati. Di tengah banyaknya inovasi rasa baru yang bermunculan, rasa klasik yang otentik tetap menjadi pemenang di hati mayoritas penduduk Indonesia.
2. Peningkatan Kesadaran terhadap Kesehatan
Setelah urusan lidah terpenuhi, masyarakat mulai menoleh pada aspek kesehatan. Menariknya, laporan World Visualized mencatat bahwa 42,3% responden kini mempertimbangkan dampak kesehatan dari camilan mereka. Angka ini merupakan sinyal kuat bahwa tren gaya hidup sehat bukan lagi sekadar hobi segelintir orang, melainkan sudah menjadi arus utama. Konsumen mulai memperhatikan kandungan gizi, jumlah kalori, hingga proses pembuatan produk yang mereka beli.
Dalam kategori ini, Garuda Peanuts meraih angka 36,7%. Kacang-kacangan memang sering dianggap sebagai alternatif camilan yang lebih alami dibandingkan keripik olahan. Selain itu, brand seperti Dua Kelinci (33.3%) juga mendapatkan tempat tersendiri di mata konsumen yang mencari keseimbangan antara kelezatan dan manfaat kesehatan. Fenomena ini menunjukkan adanya kedewasaan konsumen di Indonesia yang mulai memikirkan investasi kesehatan jangka panjang, bahkan saat mereka sedang menikmati waktu santai dengan camilan favorit.
3. Kualitas Bahan sebagai Standar Kepercayaan
Bergeser dari aspek kesehatan umum, poin ketiga yang sangat menentukan adalah kualitas bahan baku. Masyarakat Indonesia saat ini tidak mudah tertipu oleh harga murah jika bahan yang digunakan diragukan kualitasnya. Kualitas bahan menjadi jembatan kepercayaan antara produsen dan pembeli. Bahan baku yang premium sering kali dikaitkan dengan rasa yang lebih enak dan keamanan produk untuk dikonsumsi dalam jangka waktu lama.
Dalam hal kualitas bahan, SilverQueen menempati posisi pertama dalam hal kualitas bahan dengan angka mencapai 52,7%. Pencapaian ini menempatkan mereka jauh di depan kompetitornya seperti Chitato yang berada di angka 44,5% dan Delfi dengan 44,2%. Fokus pada kualitas bahan secara otomatis menaikkan derajat sebuah brand di pasar yang semakin kompetitif. Konsumen merasa lebih dihargai ketika sebuah snack menyajikan produk dengan bahan-bahan pilihan, sehingga tercipta hubungan loyalitas yang saling menguntungkan.
4. Keunikan dan Karakter Brand yang Menarik
Faktor keempat yang tidak kalah penting adalah kepribadian atau karakter dari brand itu sendiri. Masyarakat cenderung memilih brand yang memiliki citra positif, seru, dan relevan dengan gaya hidup mereka. Brand yang dianggap memiliki kepribadian yang menyenangkan biasanya lebih mudah diingat dan sering direkomendasikan secara sukarela oleh para konsumen di jagat maya.
Brand seperti Tango, SilverQueen, dan Beng Beng dinilai sebagai brand yang paling menyenangkan di Indonesia. Keberhasilan ini tidak lepas dari strategi pemasaran mereka yang kreatif dan interaktif. Misalnya, bagaimana sebuah produk diposisikan sebagai teman saat sedang bermain game atau saat berkumpul bersama keluarga. Karakter brand yang kuat membuat konsumen merasa memiliki ikatan personal yang melampaui transaksi jual beli biasa.
5. Inovasi Variasi Produk
Faktor terakhir yang menutup daftar ini adalah keberagaman pilihan atau variasi produk. Dalam kategori variasi rasa, Yupi memimpin dengan 27,4%, diikuti Chitato (25,3%), Malkist Roma (24,6%), dan Kopiko (23,6%). Kebosanan adalah tantangan terbesar bagi industri makanan ringan. Masyarakat Indonesia sangat menyukai hal-hal baru, mulai dari kolaborasi antar brand hingga peluncuran rasa-rasa unik yang hanya tersedia dalam waktu terbatas. Kemampuan sebuah brand untuk terus berinovasi tanpa menghilangkan identitas aslinya menjadi nilai tambah yang sangat krusial di mata konsumen.
Banyak brand besar sekarang mulai bereksperimen dengan rasa-rasa lokal yang eksotis atau ukuran kemasan yang lebih fleksibel untuk berbagai kebutuhan. Variasi ini memberikan kebebasan bagi konsumen untuk memilih snack sesuai dengan suasana hati atau momen tertentu. Inovasi yang konsisten menunjukkan bahwa sebuah brand tetap relevan dan mengikuti perkembangan zaman. Tanpa adanya variasi, sebuah brand berisiko terlihat kuno dan ditinggalkan oleh generasi muda yang selalu haus akan pengalaman baru.
Tinggalkan Komentar
Komentar