Periskop.id - Ada perbandingan unik antara Joko Widodo dan Luis de la Fuente. Keduanya lahir pada tanggal yang sama, 21 Juni 1961.
Jokowi lahir di Surakarta, sementara De la Fuente lahir di Haro, La Rioja, Spanyol. Kesamaan tanggal lahir ini membuat perjalanan keduanya menarik untuk dibaca sebagai dua garis hidup yang berjalan beriringan, tetapi bergerak di arena yang sangat berbeda.
Satu orang membangun karier di panggung politik Indonesia. Satu lagi meniti jalan panjang di sepak bola Spanyol.
Jokowi dikenal sebagai presiden ke-7 RI yang sebelumnya menjabat Wali Kota Surakarta dan Gubernur DKI Jakarta. De la Fuente adalah mantan pemain yang kemudian merintis jalan panjang sebagai pelatih, mulai dari level usia muda hingga akhirnya menangani tim nasional senior Spanyol.
Perbandingan ini terasa semakin relevan setelah De la Fuente membawa Spanyol menjuarai Piala Dunia 2026. Reuters melaporkan Spanyol mengalahkan Argentina 1-0 lewat babak tambahan waktu, sekaligus menjadi gelar Piala Dunia kedua bagi La Furia Roja.
Kemenangan itu juga menegaskan posisi De la Fuente sebagai salah satu pelatih paling berhasil dalam sejarah modern sepak bola Spanyol, setelah sebelumnya membawa Spanyol menjuarai Euro 2024.
Berikut adalan rincian perbandingan kariernya.
2012
Tahun 2012 menjadi titik awal yang kontras. Di Indonesia, Jokowi sedang naik daun. Setelah dikenal melalui kepemimpinannya di Solo, ia resmi dilantik menjadi Gubernur DKI Jakarta pada Oktober 2012. Jabatan itu menjadi pintu besar menuju panggung politik nasional.
Di Spanyol, De la Fuente justru berada di fase yang jauh lebih sunyi. Karier kepelatihannya di klub tidak berjalan mulus. Ia sempat menangani Alavés sebelum akhirnya berpisah dari klub tersebut. Pada fase ini, namanya belum berada di radar besar sepak bola Eropa.
Dari sini, terlihat dua jalur yang berlawanan. Jokowi sedang memasuki sorotan nasional, sementara De la Fuente masih mencari pijakan baru setelah fase sulit di level klub.
2014
Dua tahun kemudian, perubahan besar terjadi. Jokowi melompat dari DKI Jakarta menuju level nasional setelah terpilih sebagai Presiden Republik Indonesia ke-7. Ia menjadi figur politik yang membawa citra pemimpin sipil, dekat dengan rakyat, dan lahir dari luar elite politik maupun militer tradisional.
Pada saat yang sama, De la Fuente justru membangun fondasi dari bawah. Ia mulai merintis karier bersama tim usia muda Spanyol. Jalan ini tidak secepat Jokowi yang langsung masuk Istana, tetapi justru menjadi fondasi penting bagi masa depan De la Fuente.
Dari level muda inilah ia mengenal banyak pemain, membangun gaya kepelatihan, dan membentuk reputasi sebagai pelatih yang kuat dalam pembinaan. Ia tidak langsung meledak, tetapi sedang menyiapkan jalan panjang.
2019
Tahun 2019 menjadi fase pembuktian bagi keduanya. Jokowi kembali menang dalam pemilihan presiden dan melanjutkan masa jabatan kedua sebagai Presiden RI. Dengan kemenangan itu, ia memasuki fase puncak karier politik elektoralnya.
Di sisi lain, De la Fuente juga mencapai puncak penting di level usia muda. Ia membawa Spanyol U-21 menjuarai Piala Eropa U-21. Gelar itu memperkuat reputasinya sebagai pelatih pembina generasi baru Spanyol.
Keduanya sama-sama sedang berada di titik validasi. Jokowi mendapatkan mandat politik kedua, sedangkan De la Fuente membuktikan kualitasnya sebagai pelatih yang mampu menghasilkan gelar.
2024
Tahun 2024 menjadi tahun transisi yang berbeda arah. Jokowi mengakhiri masa jabatan sebagai Presiden RI pada Oktober 2024 setelah dua periode memimpin Indonesia. AP News sebelumnya mencatat Jokowi akan menyelesaikan masa jabatan keduanya pada Oktober 2024 dan berencana kembali ke kota asalnya setelah tidak lagi menjabat presiden.
Sementara itu, De la Fuente justru naik ke panggung kejayaan senior. Ia membawa Spanyol menjuarai Euro 2024. Setelah bertahun-tahun berada di jalur pembinaan dan sempat diragukan saat ditunjuk sebagai pelatih tim senior, ia mulai membalik persepsi publik.
Di titik ini, narasinya seperti bertukar arah. Jokowi memasuki masa purnatugas sebagai presiden, sementara De la Fuente justru memasuki fase paling terang dalam karier kepelatihannya.
2026
Tahun 2026 membuat perbandingan ini semakin terasa seperti plot twist. Jokowi tidak lagi berada di Istana sebagai presiden, tetapi masih terlihat aktif dalam panggung politik.
Dalam Rakernas PSI di Makassar pada 31 Januari 2026, Jokowi menyatakan kesanggupannya untuk turun mendukung penguatan struktur partai hingga ke tingkat kecamatan jika diperlukan.
Pernyataan “saya masih sanggup” kemudian menjadi salah satu momen yang ramai dibicarakan di media sosial. Di satu sisi, ini menunjukkan bahwa Jokowi belum sepenuhnya hilang dari orbit politik. Ia tidak lagi memegang jabatan presiden, tetapi pengaruh politiknya masih menjadi sorotan.
Di sisi lain, De la Fuente mencapai puncak yang jauh berbeda. Pada usia yang sama dengan Jokowi, ia membawa Spanyol mengangkat trofi Piala Dunia 2026 setelah menang atas Argentina. Reuters bahkan mencatat De la Fuente menjadi pelatih tertua yang memenangi Piala Dunia pada usia 65 tahun.
Tinggalkan Komentar
Komentar