Periskop.id - Korban meninggal dalam gelombang migrasi besar-besaran dari Maroko menuju Ceuta, wilayah Spanyol di Afrika Utara, bertambah menjadi 94 orang.

Laporan terbaru Cadena SER menyebut otoritas Spanyol telah menemukan 72 jenazah, termasuk seorang bayi berusia beberapa bulan. Sementara itu, pihak berwenang Maroko menemukan 22 jenazah lainnya. Angka tersebut masih dapat berubah karena pencarian korban terus berlangsung.

Pemerintah Spanyol secara resmi mengonfirmasi 72 orang meninggal ketika mencoba mencapai pesisir Ceuta. Sebagian korban ditemukan setelah tenggelam, sedangkan lainnya meninggal akibat terjepit ketika berusaha melewati pemecah gelombang dan pagar perbatasan.

Lebih dari 50 Ribu Orang Masuk dalam Sehari

Gelombang terbesar terjadi pada Kamis, 30 Juli 2026. Pemerintah Spanyol memperkirakan sedikitnya 50 ribu orang memasuki Ceuta melalui jalur darat dan laut, sedangkan Presiden Ceuta Juan Jesus Vivas memperkirakan jumlahnya mencapai sekitar 60 ribu orang.

Jumlah tersebut mendekati tiga perempat populasi Ceuta yang dihuni sekitar 85 ribu orang. Besarnya arus kedatangan membuat fasilitas penerimaan, layanan darurat, dan aparat keamanan di wilayah kecil tersebut kewalahan.

Sebagian migran berenang mengitari pemecah gelombang Tarajal dan Benzú, menggunakan pelampung, atau berjalan melewati garis pantai ketika kondisi perbatasan melemah. Polisi, Garda Sipil, dan militer Spanyol kemudian dikerahkan untuk mengendalikan situasi.

Krisis kali ini jauh melampaui peristiwa serupa pada Mei 2021. Ketika itu, sekitar 10 ribu orang memasuki Ceuta dari Maroko dalam kurun beberapa hari.

Rumor Media Sosial Picu Gelombang Migrasi

Reuters melaporkan banyak anak muda Maroko terdorong menuju Ceuta setelah melihat unggahan media sosial yang menyebut perbatasan terbuka dan orang yang mencapai wilayah Spanyol melalui laut tidak akan langsung dipulangkan.

Informasi tersebut berkaitan dengan putusan Mahkamah Agung Spanyol yang membatasi pemulangan langsung migran yang dicegat di laut tanpa penghalang fisik. Namun, putusan itu tidak memberikan izin tinggal otomatis, karena pemulangan tetap dapat dilakukan melalui prosedur hukum biasa.

Tekanan ekonomi, pengangguran, rendahnya pendapatan, dan keinginan membantu keluarga juga menjadi pendorong utama. Data resmi yang dikutip Reuters menunjukkan sekitar seperempat warga Maroko berusia 15 sampai 24 tahun tidak sedang menempuh pendidikan, bekerja, maupun mengikuti pelatihan.

“Migrasi adalah tentang memperbaiki hidup kami. Kami sepakat akan mencoba menyeberang dan bertawakal kepada Allah,” kata remaja Maroko berusia 16 tahun, Ayoub El Abyad, kepada Reuters.

Namun, banyak migran kemudian memilih kembali ke Maroko setelah menghadapi kelaparan, kelelahan, keterbatasan tempat berlindung, dan ketidakpastian untuk melanjutkan perjalanan menuju daratan utama Spanyol.

Spanyol Pasang Penghalang Laut

Dalam 48 jam pertama, pemerintah Spanyol memperkirakan lebih dari 48 ribu migran telah kembali ke Maroko. Aparat tetap melakukan pemeriksaan di jalan-jalan Ceuta dan mempercepat proses pemulangan terhadap mereka yang masih bertahan.

“Di Ceuta, seperti yang bisa Anda lihat, jumlah orang yang tersisa jauh lebih sedikit daripada yang masuk. Sudah terjadi sangat banyak kepulangan,” kata Delegasi Pemerintah Spanyol di Ceuta Miguel Ángel Pérez Triano.

Spanyol juga memasang penghalang terapung sepanjang 500 meter di sekitar pemecah gelombang Tarajal. Perangkat tersebut dilengkapi deretan pelampung laut untuk mengurangi upaya penyeberangan sekaligus menyediakan jalur patroli bagi Garda Sipil.

Pemerintah menegaskan migran yang memasuki Ceuta tanpa izin tidak dapat langsung melanjutkan perjalanan menuju daratan utama Spanyol maupun negara lain di kawasan Schengen. Penumpang yang meninggalkan Ceuta melalui jalur udara dan laut tetap menjalani pemeriksaan identitas oleh polisi.

Gerbang Darat Uni Eropa dan Afrika

Ceuta merupakan wilayah otonom Spanyol yang berada di pesisir utara Afrika dan berbatasan langsung dengan Maroko. Bersama Melilla, wilayah tersebut menjadi satu-satunya perbatasan darat antara Uni Eropa dan Afrika.

Posisi geografis itu membuat keduanya menjadi jalur yang kerap digunakan warga Maroko maupun migran dari negara Afrika lainnya untuk mencoba memasuki wilayah Uni Eropa.

Tragedi Ceuta menambah panjang daftar korban di jalur migrasi dunia. Organisasi Internasional untuk Migrasi mencatat sedikitnya 7.667 orang meninggal atau hilang saat menempuh berbagai rute migrasi sepanjang 2025, setara sekitar 21 orang setiap hari.

Pencarian jenazah di perairan Ceuta dan pesisir Maroko masih dilanjutkan. Dengan proses identifikasi dan penyisiran yang belum selesai, jumlah korban dalam salah satu krisis migrasi terburuk di perbatasan Spanyol tersebut masih berpotensi bertambah.