Periskop.id – Bek kiri tim nasional Spanyol Marc Cucurella akhirnya menepati janji unik yang dibuatnya sebelum Piala Dunia 2026. Setelah La Roja keluar sebagai juara, Cucurella menato wajah pelatih Luis de la Fuente pada lengan kirinya.

Tato tersebut tidak hanya menampilkan wajah sang pelatih, tetapi menggambarkan De la Fuente sedang mengangkat trofi Piala Dunia dengan logo turnamen sebagai latar. Cucurella memperlihatkan proses pembuatannya melalui media sosial, Selasa (28/7).

"Janji ditepati," tulisnya sebagai keterangan unggahan di media sosial seperti dikutip Rabu (29/7).

Aksi itu dilakukan sembilan hari setelah Spanyol mengalahkan Argentina 1-0 dalam final di New York New Jersey Stadium pada 19 Juli 2026. Kemenangan tersebut mengantarkan La Roja meraih gelar Piala Dunia kedua setelah sebelumnya menjadi kampiun pada 2010.

Tato Ditempatkan di Bagian yang Mudah Terlihat

Sebelum turnamen dimulai, Cucurella berjanji akan mengabadikan wajah De la Fuente di tubuhnya apabila Spanyol menjadi juara dunia. Setelah mengangkat trofi, pemain berusia 28 tahun itu memastikan dirinya tidak akan mengingkari ucapan tersebut.

Seusai pertandingan final, Cucurella mengaku sempat belum menentukan lokasi tato. Namun, ia ingin menempatkannya pada bagian tubuh yang mudah dilihat karena banyak orang akan menanyakan janjinya.

"Saya belum tahu. Saya belum memutuskannya. Saya masih harus memikirkan di bagian mana tato itu akan dibuat," kata Cucurella kepada ESPN.

"Orang-orang pasti akan bertanya kepada saya tentang hal itu, jadi tato tersebut harus berada di tempat yang mudah terlihat. Bagaimanapun juga, perjalanan kami masih panjang. Saya berharap banyak orang memberi saya ide. Saya akan memikirkannya terlebih dahulu, lalu baru membuatnya."

Pilihan akhirnya jatuh pada lengan kiri. Reuters melaporkan Cucurella menampilkan potret De la Fuente yang sedang memegang trofi Piala Dunia. Desain tersebut dibuat oleh seniman tato Ganga, yang mengerjakannya bersama Cucurella setelah perayaan gelar Spanyol.

De la Fuente Bangga Cucurella Pegang Janji

De la Fuente sebelumnya telah menagih janji tersebut dalam konferensi pers selepas final. Pelatih berusia 65 tahun itu mengaku tidak tertarik membuat tato, tetapi yakin para pemainnya akan bertanggung jawab atas perkataan mereka.

"Saya sudah tidak berada di usia untuk membuat tato. Tidak, sekarang sudah bukan lagi waktunya," ujarnya. "Namun mereka telah membuat janji, dan mereka adalah orang-orang yang serius sehingga pasti akan menepatinya. Saya bahkan sudah bertanya kepada mereka, 'Apa kalian yakin tidak salah?' Memang mereka membuat janji itu, tetapi mereka akan menikmatinya.

"Saya tidak terlalu jelek sampai-sampai mereka harus menaruh tato itu di tempat yang tidak bisa dilihat siapa pun! Tapi hal itu membuat saya tertawa, dan saya bangga mereka menepati janjinya. Yang terpenting, jika Anda sudah mengatakan sesuatu, Anda harus menepatinya. Karena itu, saya juga merasa senang."

Di luar kisah tato, Cucurella menjadi salah satu pemain penting dalam perjalanan Spanyol menuju gelar. Ia tampil sebagai starter dalam seluruh delapan pertandingan La Roja dan membantu tim mencatatkan tujuh laga tanpa kebobolan.

Gelar dunia tersebut juga memperkuat keberhasilan De la Fuente bersama timnas Spanyol. Sebelum membawa La Roja menjuarai Piala Dunia 2026, ia lebih dahulu mempersembahkan gelar Piala Eropa 2024.

Pemain Spanyol Ramai-Ramai Tunaikan Janji

Cucurella bukan satu-satunya pemain Spanyol yang membuat janji menjelang keberhasilan di Piala Dunia. Sejumlah penggawa La Roja juga berkomitmen melakukan hal unik apabila mereka membawa pulang trofi.

Pedro Porro menyerahkan medali juaranya kepada sang kakek. Pedri berjanji mengubah warna rambutnya menjadi putih atau pirang, sedangkan Gavi memilih warna merah muda. Ferran Torres, pencetak gol kemenangan di final, juga berjanji mencukur rambutnya.

Namun, janji Cucurella menjadi salah satu yang paling menyita perhatian karena bersifat permanen. Tato itu kini tidak hanya menjadi penghormatan kepada De la Fuente, tetapi juga penanda keberhasilan Spanyol meraih bintang kedua dalam sejarah Piala Dunia.