Periskop.id - Keinginan untuk memiliki hunian pribadi kini bukan lagi sekadar persoalan pilihan hidup, melainkan tantangan sistemis yang kian berat.
Lonjakan harga rumah yang tinggi membatasi kemampuan masyarakat untuk menumpuk tabungan, menurunkan kualitas hidup, hingga memicu tekanan psikologis dan rasa kecewa terhadap kondisi sosial ekonomi.
Kondisi yang serba menghimpit ini berpotensi memperburuk ketidakamanan finansial jangka panjang.
Bahkan, tidak sedikit orang dewasa muda yang terdorong mengambil skema keuangan berisiko tinggi demi meraup untung instan, seperti berspekulasi di pasar kripto hingga menjajal pasar prediksi atau platform taruhan online.
Isu Multidimensi yang Mencekik Pembeli dan Penyewa
Laporan riset World Economic Forum (WEF) berjudul The Longevity Dividend: The Business Case for Linking Health and Wealth edisi Juni 2026 mengungkapkan bahwa masalah keterjangkauan tempat tinggal bersifat multidimensi.
Masalah ini menimpa pembeli rumah maupun penyewa, terjadi di sepanjang usia produktif seseorang, serta dialami oleh negara berkembang maupun negara berpendapatan tinggi.
Dampaknya menciptakan lingkaran setan. Hunian yang terlampau mahal memaksa orang tinggal di tempat berkualitas rendah, sempit, atau terisolasi jauh dari pusat kerja, pendidikan, dan layanan publik.
Rasa tidak aman atas tempat tinggal pada akhirnya mengganggu kesehatan fisik serta finansial, memicu pembengkakan biaya medis, dan menguras tabungan jangka panjang.
Tekanan ini diprediksi semakin berat seiring meningkatnya angka harapan hidup populasi lansia. Negara dituntut mampu mengelola keterjangkauan tempat tinggal bagi kelompok muda yang baru memulai karier sekaligus kelompok usia lanjut yang butuh kepastian tempat tinggal.
Indonesia Masuk Jajaran Paling Tidak Terjangkau di Dunia
Data WEF menempatkan Indonesia di posisi atas dalam daftar negara dengan biaya tempat tinggal paling tidak terjangkau.
Bagi masyarakat Indonesia, rata-rata cicilan rumah bulanan mencapai 265% dari rata-rata pendapatan bulanan individu. Angka ini jauh melampaui rata-rata global yang berada di angka 132% dan rata-rata negara OECD sebesar 72%.
Berikut adalah rincian data peringkat keterjangkauan cicilan rumah di berbagai negara berdasarkan persentase dari rata-rata penghasilan bulanan individu:
| Peringkat | Negara atau Wilayah | Cicilan Rumah (% dari Rata-Rata Gaji Bulanan) |
|---|---|---|
| 1 | Nigeria | 2.180% |
| 2 | Kolombia | 366% |
| 3 | India | 295% |
| 4 | Indonesia | 265% |
| 5 | Vietnam | 244% |
| 6 | Brasil | 199% |
| 7 | Meksiko | 195% |
| 8 | Thailand | 148% |
| 9 | Singapura | 94% |
| 10 | Malaysia | 93% |
| - | Rata-Rata Global | 132% |
| - | Rata-Rata OECD | 72% |
Opsi menyewa rumah pun tidak serta-merta menjadi solusi yang lebih aman bagi warga Indonesia. Biaya sewa rumah di dalam negeri tercatat menghabiskan sekitar 210% dari rata-rata penghasilan bulanan.
Posisi ini menempatkan Indonesia di peringkat kedua dunia dalam hal ketidakterjangkauan sewa tempat tinggal, tepat di bawah Nigeria.
Gambaran mengenai tingginya beban sewa rumah dibanding rata-rata pendapatan di beberapa negara dapat dilihat pada tabel berikut:
| Peringkat | Negara atau Wilayah | Sewa Rumah (% dari Rata-Rata Gaji Bulanan) |
|---|---|---|
| 1 | Nigeria | 325% |
| 2 | Indonesia | 210% |
| 3 | Meksiko | 172% |
| 4 | Brasil | 157% |
| 5 | India | 139% |
| 6 | Kolombia | 120% |
| 7 | Uni Emirat Arab | 107% |
| 8 | Vietnam | 107% |
| 9 | Thailand | 99% |
| 10 | Singapura | 76% |
| - | Rata-Rata Global | 92% |
| - | Rata-Rata OECD | 55% |
Tinggalkan Komentar
Komentar