periskop.id - Industri hiburan kerap dianggap sebagai dunia yang penuh dengan bakat dan persaingan ketat. Namun, di balik gemerlap layar, istilah nepo baby masih menjadi isu yang sering dibicarakan. Nepotisme terjadi ketika seseorang mendapatkan peluang karier karena hubungan keluarga, bukan karena kemampuan semata.

Fenomena ini terlihat jelas saat anak atau kerabat figur terkenal di dunia hiburan memperoleh akses lebih mudah ke peran besar, kontrak eksklusif, atau sorotan media sehingga memunculkan pertanyaan tentang keadilan dan profesionalisme dalam industri tersebut.

Apa Itu Nepo Baby?

Istilah nepo baby pertama kali ramai dibicarakan setelah muncul dalam artikel New York Magazine pada Desember 2022. Artikel tersebut membahas fenomena keluarga selebritas lintas generasi serta dugaan praktik nepotisme yang sudah lama terjadi di industri hiburan Hollywood.

Nepo Baby merupakan singkatan dari nepotism baby. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), nepotism yang berarti ‘nepotisme’ berarti kecenderungan mengutamakan atau memberi keuntungan kepada sanak saudara, terutama dalam hal jabatan atau posisi tertentu. Sementara itu, kata baby dalam bahasa Inggris merujuk pada anak.

Dari pengertian tersebut, nepo baby bisa diartikan sebagai anak-anak yang memperoleh kemudahan atau keuntungan dalam berkarier karena memiliki hubungan keluarga dengan figur berpengaruh di suatu industri, termasuk dunia hiburan.

Meski tidak selalu berarti tidak berbakat, sebutan nepo baby sering memicu perdebatan karena dianggap mencerminkan ketimpangan kesempatan. Banyak orang menilai mereka memiliki akses lebih mudah ke audisi, proyek besar, hingga sorotan media dibandingkan talenta lain yang harus memulai dari nol.

Dampak Buruk Nepo Baby

Praktik nepotisme tidak hanya merugikan individu tertentu, tetapi juga berdampak luas pada masyarakat dan sistem secara keseluruhan. Berikut beberapa dampak negatif nepotisme.

1. Menghambat Pertumbuhan Ekonomi
Nepotisme membuat posisi strategis diisi oleh orang yang dipilih karena hubungan keluarga, bukan karena kompetensi. Akibatnya, kinerja organisasi menjadi tidak maksimal, produktivitas menurun, dan inovasi sulit berkembang. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat menghambat pertumbuhan ekonomi.

2. Melemahkan Sistem Pemerintahan yang Demokratis
Ketika kekuasaan dijalankan berdasarkan kepentingan keluarga atau kelompok tertentu, keputusan yang diambil cenderung tidak adil dan memihak. Hal ini merusak kepercayaan publik terhadap pemerintah serta menumbuhkan sikap sinis di masyarakat yang pada akhirnya menghambat terciptanya pemerintahan yang baik.

3. Mematikan Nilai Integritas dan Etika
Dalam beberapa budaya, nepotisme kerap dianggap wajar atas nama toleransi dan gotong royong. Jika tidak dikendalikan, pandangan ini dapat mengikis nilai kejujuran, profesionalisme, dan integritas sehingga perilaku tidak etis menjadi sesuatu yang dinormalisasi.

4. Menciptakan Konflik Internal
Nepotisme sering menimbulkan konflik kepentingan, terutama ketika seseorang memimpin atau mengawasi anggota keluarganya sendiri. Keputusan yang diambil berpotensi tidak objektif, memicu kecemburuan, dan menurunkan profesionalisme serta kualitas kerja.

5. Menghambat Kompetisi yang Sehat
Dengan adanya nepotisme, individu yang sebenarnya kompeten dan berbakat bisa kehilangan kesempatan untuk berkembang. Hal ini menciptakan ketidakadilan, mengurangi motivasi berprestasi, dan menghambat regenerasi sumber daya manusia yang berkualitas.

Praktik Nepotisme di Industri Hiburan

Secara umum, nepotisme bisa dipahami sebagai tindakan mengutamakan atau memberi keuntungan kepada orang terdekat, terutama anggota keluarga, tanpa benar-benar melihat kemampuan atau kompetensi yang dimiliki. Istilah ini biasanya digunakan untuk menggambarkan situasi ketika suatu posisi atau pekerjaan seharusnya diberikan berdasarkan kualitas dan prestasi, tetapi justru dipengaruhi oleh hubungan pribadi.

Dalam industri hiburan, praktik nepotisme cukup sering dibicarakan. Hal ini terlihat ketika anak, saudara, atau kerabat dari figur terkenal di dunia film, musik, atau televisi mendapat kesempatan besar lebih cepat, seperti peran utama, kontrak eksklusif, atau proyek bergengsi. Banyak pihak menilai peluang tersebut datang bukan semata karena kemampuan, tetapi juga karena kuatnya koneksi keluarga.

Contohnya bisa dilihat di industri hiburan global seperti Hollywood dan Bollywood. Tidak sedikit nama besar yang berasal dari keluarga selebritas ternama, misalnya keluarga Coppola di Hollywood atau keluarga Kapoor di Bollywood yang sejak awal kariernya sudah mendapat sorotan dan dukungan besar dari industri karena latar belakang keluarga mereka.