Periskop.id - Industri otomotif Indonesia sedang menghadapi tantangan besar yang jarang disadari oleh publik luas. Meskipun kapasitas produksi otomotif nasional telah mencapai angka yang impresif yaitu sekitar 2,35 juta unit per tahun, daya serap pasar domestik terhadap mobil gres justru menunjukkan tren yang memprihatinkan.

Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) yang dihimpun oleh LPEM FEB UI dalam riset bertajuk “Studi Pasar Otomotif dan Kebijakan Elektrifikasi di Indonesia”, terjadi penurunan drastis pada volume penjualan mobil baru. 

Jika pada puncaknya di tahun 2013 penjualan mampu menyentuh angka 1,22 juta unit, pada tahun 2024 angka tersebut merosot tajam menjadi hanya sekitar 866 ribu unit saja.

Pergeseran Drastis ke Pasar Mobil Bekas

Fenomena yang paling mencolok dalam satu dekade terakhir adalah migrasi besar besaran konsumen dari mobil baru ke mobil bekas. Pada tahun 2013, pangsa pasar mobil baru masih mendominasi dengan angka 70%, sementara mobil bekas hanya 30%. 

Namun, pada tahun 2024, situasinya berbalik secara ekstrem. Pangsa mobil baru menyusut hingga tersisa 32%, sedangkan pangsa mobil bekas melonjak hingga menguasai 68% pasar.

Penurunan daya beli masyarakat menjadi faktor kunci di balik fenomena ini. Pesatnya kenaikan transaksi mobil bekas sejak tahun 2020 mengindikasikan bahwa masyarakat mulai kesulitan menjangkau harga mobil baru yang terus melambung.

Harga Mobil Baru yang Tidak Proporsional

Salah satu temuan paling mengejutkan dari riset LPEM FEB UI adalah ketimpangan antara harga kendaraan dengan pendapatan per kapita masyarakat. Sebagai contoh, harga satu unit Toyota Avanza di Indonesia setara dengan 354% terhadap produk domestik bruto (PDB) per kapita nasional. 

Angka ini sangat jauh jika dibandingkan dengan Malaysia, di mana harga mobil serupa hanya setara dengan 161% dari PDB per kapita mereka.

Kondisi ini menegaskan bahwa harga mobil baru di Indonesia sudah tidak proporsional. Kenaikan pendapatan masyarakat tidak mampu mengejar kecepatan kenaikan harga mobil, sehingga memiliki mobil baru kini dianggap sebagai beban finansial yang sangat berat bagi sebagian besar penduduk.

Mengapa Masyarakat Memilih Mobil Bekas?

Survei yang dilakukan terhadap 767 responden pemilik mobil bekas mengungkapkan bahwa pertimbangan finansial adalah alasan utama yang mendominasi keputusan mereka. Berikut adalah rincian alasan mengapa konsumen lebih memilih mobil bekas:

  • Harga terjangkau: 42%
  • Pajak tahunan yang lebih rendah: 23%
  • Tingkat depresiasi (penyusutan harga) yang lebih rendah: 10%
  • Ketersediaan model mobil tertentu: 8%
  • Biaya asuransi yang lebih murah: 6%
  • Penggunaan yang tidak untuk jangka panjang: 6%
  • Alasan lainnya: 5%

Ironisnya, dari ratusan pemilik mobil bekas tersebut, hanya 224 responden atau sekitar 29% yang berencana membeli mobil baru dalam lima tahun ke depan. 

Dari jumlah yang sedikit itu, 17% berniat membeli untuk mengganti mobil lama, sementara 12% lainnya bertujuan untuk menambah unit kendaraan.

Solusi Diskon dan Proyeksi Masa Depan

Riset ini juga menunjukkan bahwa diskon harga memiliki pengaruh, meskipun terbatas. Ditemukan bahwa sekitar 27% pembeli mobil bekas bersedia beralih ke mobil baru jika harga mobil baru turun sebesar 10%. 

Sebaliknya, 15% pembeli mobil bekas akan beralih ke unit baru jika harga mobil bekas mengalami kenaikan 10%.

Melihat ke depan, LPEM FEB UI melakukan proyeksi penjualan. Dengan asumsi pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,5%, penjualan mobil diperkirakan meningkat dari 930 ribu unit pada 2026 menjadi 1,32 juta unit pada 2030. S

ayangnya, angka ini masih jauh di bawah target pemerintah yang membidik angka 2 juta unit per tahun. Terdapat selisih sekitar 681 ribu unit atau kurang 34% dari target nasional.

Jika pemerintah melakukan intervensi dengan menurunkan harga mobil baru sebesar 10 persen, penjualan pada tahun 2030 diprediksi bisa naik menjadi 1,62 juta unit. Meski angka ini 23% lebih tinggi dari proyeksi awal, tetap saja hasil tersebut masih kurang sekitar 379 ribu unit atau 19% dari target nasional. 

Hal ini menunjukkan bahwa diperlukan kebijakan yang lebih komprehensif daripada sekadar potongan harga untuk menggairahkan kembali industri otomotif tanah air.