periskop.id - Harga emas dunia kembali melonjak tajam pada perdagangan Selasa, setelah sempat tertekan dan menyentuh level terendah hampir satu bulan pada sesi sebelumnya. Kenaikan ini terjadi di tengah kekhawatiran pelaku pasar terhadap minimnya rilis data ekonomi Amerika Serikat akibat penutupan sebagian pemerintahan (partial shutdown).
Melansir Reuters, Selasa (3/2), harga emas spot tercatat naik 3,7% menjadi US$4.837,16 per ons pada pukul 01.20 GMT. Sehari sebelumnya, emas sempat jatuh ke posisi terendah hampir satu bulan. Meski demikian, logam mulia tersebut masih berada dekat level tertingginya, setelah mencetak rekor harga US$5.594,82 per ons pada Kamis lalu.
Sementara itu, emas berjangka AS untuk pengiriman April juga menguat lebih tajam, naik 4,5% ke level US$4.859,30 per ons.
Kenaikan harga emas terjadi di tengah ketidakpastian pasar menyusul keputusan Bureau of Labor Statistics (BLS) AS yang menyatakan bahwa laporan ketenagakerjaan Januari tidak akan dirilis pada Jumat ini. Penundaan tersebut disebabkan oleh penutupan sebagian pemerintahan federal AS.
Pemerintah Amerika Serikat mulai mengalami partial shutdown sejak Sabtu, setelah Kongres gagal menyepakati anggaran untuk membiayai sejumlah lembaga, termasuk Departemen Tenaga Kerja. Meski Senat AS telah meloloskan paket belanja pada Jumat, Dewan Perwakilan Rakyat (House of Representatives) saat itu tidak berada di Washington.
House dijadwalkan mulai membahas rancangan undang-undang tersebut pada Senin, dengan pemungutan suara final diperkirakan berlangsung Selasa. Ketua DPR AS Mike Johnson menyampaikan optimisme bahwa penutupan pemerintahan akan berakhir dalam beberapa hari ke depan.
Di sisi lain, dolar AS masih bertahan di level penguatannya pada Selasa. Data ekonomi AS yang relatif positif serta perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan Federal Reserve (The Fed) dinilai lebih dominan dibandingkan kekhawatiran akibat partial shutdown.
Penguatan dolar ini sejatinya menjadi faktor penekan bagi emas, karena emas yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi investor pemegang mata uang lain.
Meski demikian, pasar masih memperkirakan setidaknya dua kali pemangkasan suku bunga The Fed pada 2026. Dalam kondisi suku bunga rendah, emas yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset) cenderung lebih diminati oleh investor.
Dari sisi geopolitik dan perdagangan, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Senin mengumumkan kesepakatan dagang dengan India. Dalam kesepakatan tersebut, tarif AS atas barang-barang asal India dipangkas menjadi 18% dari sebelumnya 50%, sebagai imbalan atas komitmen India untuk menghentikan pembelian minyak dari Rusia serta menurunkan hambatan perdagangan.
Tak hanya emas, harga logam mulia lainnya juga mencatat kenaikan signifikan. Perak spot melonjak 5,9% ke US$84,09 per ons, meski masih di bawah rekor tertingginya US$121,64 per ons yang tercapai pada Kamis lalu.
Platina spot turut menguat 3% menjadi US$2.183,64 per ons, setelah sebelumnya sempat menyentuh rekor US$2.918,80 per ons pada 26 Januari. Sementara itu, paladium naik 2,7% ke level US$1.765,75 per ons.
Tinggalkan Komentar
Komentar