Periskop.id - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyakini, konflik yang berlangsung di Venezuela tak berdampak signifikan ke harga minyak dunia maupun perdagangan minyak dunia.

“Tidak ada dampak signifikan terhadap kondisi perdagangan minyak dan harga,” ujar Juru Bicara Kementerian ESDM Dwi Anggia ketika dihubungi Antara dari Jakarta, Selasa (6/10.

Anggia menjelaskan, meskipun cadangan minyak Venezuela merupakan yang terbesar di dunia, produksi rata-rata masih di bawah 1 juta barel minyak per hari (barel oil per day/BOPD). Angka tersebut, lanjut dia, relatif kecil dibandingkan dengan rasio cadangannya.

Kondisi di Venezuela berbeda dengan kawasan Timur Tengah, kata dia. Konflik di kawasan Timur Tengah menyebabkan harga minyak sangat dinamis. Ini lantaran di kawasan Timur Tengah banyak terdapat negara OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries/Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak Bumi).

“Jadi, harga minyak bisa menjadi sangat dinamis,” ucap Anggia.

Peningkatan produksi minyak nasional merupakan salah satu langkah antisipasi Indonesia, terhadap gejolak geopolitik, termasuk gejolak politik yang terjadi di Venezuela.

“Sebagai antisipasi, kami harus terus meningkatkan cadangan strategis minyak nasional, optimalisasi produksi,” serunya. 

Dampak Langsung
Seperti dikabarkan sebelumnya, Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Laode Sulaeman mengatakan, pemerintah belum melihat dampak langsung dari situasi di Venezuela terhadap pasokan maupun harga BBM pada saat ini.

“Kita sumber crude-nya itu bukan dari sana. Jadi dari wilayah lain. Jadi masih stabil,” kata Laode usai penutupan Posko Nasional Sektor ESDM Nataru 2025-2026 di Jakarta, Senin (5/1).

Laode menambahkan pemerintah tetap melakukan langkah antisipasi dan pemantauan perkembangan situasi, termasuk potensi dampaknya terhadap harga minyak dunia. “Antisipasi itu selalu ada,” ujar dia.

Pernyataan-pernyataan tersebut merespons gejolak politik yang berlangsung di Venezuela. Media internasional memberitakan AS menyerang secara militer ibu kota Venezuela, Caracas, Sabtu (3/1).

Dalam pernyataannya, Presiden AS Donald Trump mengatakan pasukan AS telah menangkap Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya. Segera setelah itu, pemerintah Venezuela mengumumkan negaranya berada dalam kondisi darurat nasional. Beberapa negara sudah mengeluarkan pernyataan resmi terkait serangan unilateral AS tersebut.

Presiden Kolombia Gustavo Petro menyerukan pertemuan darurat PBB untuk menegaskan prinsip penghormatan terhadap kedaulatan, larangan penggunaan kekerasan, dan penyelesaian sengketa secara damai. Rusia dan Iran, yang dikenal dekat dengan Venezuela, juga mengecam serangan militer AS itu.

Ekspor Lumpuh

Asal tahu saja, ekspor minyak Venezuela lumpuh di tengah operasi militer AS di negara tersebut, menurut laporan Reuters mengutip empat sumber yang tidak bersedia disebutkan namanya.

Ekspor minyak Venezuela, yang anjlok hingga jumlah minimum di tengah blokade Presiden AS Donald Trump terhadap semua kapal tanker yang dikenai sanksi, kini lumpuh. Para kapten pelabuhan belum menerima permintaan izin keberangkatan bagi kapal-kapal bermuatan.

Sejumlah kapal pengangkut minyak mentah di Venezuela, yang dijadwalkan akan dikirim ke Amerika Serikat dan Asia, juga belum berlayar, menurut laporan kantor berita tersebut, mengutip data dari layanan pelacakan kapal TankerTrackers.

Beberapa kapal tanker lain yang dijadwalkan akan memuat bahan bakar meninggalkan negara itu dalam keadaan kosong. Secara spesifik, tidak ada kapal tanker yang diisi muatan di pelabuhan minyak utama negara itu di Jose pada Sabtu.

Dengan mengutip beberapa sumber yang tidak disebutkan namanya, Reuters mencatat, penghentian ekspor semacam itu dapat memaksa negara tersebut untuk mengurangi produksi minyak.

Sebelumnya, dengan mengutip data pelacakan kapal dan pialang maritim, Wall Street Journal melaporkan, sebuah kapal tanker yang menuju Venezuela untuk mengangkut minyak telah mengubah haluan dan saat ini menuju Nigeria. Sementara, empat kapal lainnya telah berhenti berlayar setelah Venezuela diserang oleh AS.

Pasar Global
Meski begitu, Ekonom yang juga Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira menilai, gejolak politik di Venezuela belum berdampak signifikan terhadap pergerakan harga minyak dunia.

Bhima, di Jakarta Senin, menuturkan hingga awal 2026, harga minyak mentah masih berada di level rendah dengan koreksi mencapai 22% dalam satu tahun terakhir, tanpa tanda-tanda rebound.

Meskipun Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, Bhima menyebut kondisi geopolitik yang biasanya memicu lonjakan harga komoditas energi kali ini belum tercermin di pasar global. Menurut Bhima, gejolak geopolitik biasanya tercermin dari peralihan minat investor ke dolar AS sebagai aset aman (safe haven).

“Indeks dolar AS terhadap mata uang lain masih fluktuatif di level 98. Belum terlihat kepanikan investor global karena kejadian di Venezuela,” ujar Bhima.

Lebih lanjut, Bhima menilai, imbas terhadap Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia juga relatif kecil. Krisis di Venezuela, menurutnya, belum memicu bonanza atau lonjakan harga komoditas global, sehingga Indonesia tidak bisa mengandalkan tambahan penerimaan dari ekspor minyak, gas, batu bara, dan nikel hingga akhir 2026.