Periskop.id – PT Pertamina Hulu Indonesia mencatat produksi minyak dan gas bumi di atas target sepanjang semester I 2026. Produksi minyak mencapai 59,3 ribu barel per hari, sedangkan produksi gas berada di level 621 juta standar kaki kubik per hari.
Capaian minyak tersebut setara 116,1% dari target Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan 2026 atau melampaui sasaran sebesar 16,1%. Sementara produksi gas mencapai 105,4% dari target atau lebih tinggi 5,4%.
Direktur Utama PHI Muharram Jaya Pangurinseng mengatakan perusahaan akan terus menjaga keberlanjutan operasi hulu migas di Kalimantan.
"Perusahaan berkomitmen mendukung ketersediaan dan ketahanan energi Indonesia," ujar Muharram dalam keterangan tertulis yang diterima di Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, Selasa (4/8).
Teknologi Digunakan untuk Menahan Penurunan Produksi
Produksi di atas target ditopang sejumlah proyek dan penerapan teknologi pada lapangan migas yang telah beroperasi selama puluhan tahun. Lapangan tua umumnya menghadapi penurunan produksi secara alami sehingga membutuhkan pengeboran baru, intervensi sumur, serta teknologi peningkatan produksi.
Salah satu inovasi yang digunakan adalah Through-Tubing Electric Submersible Pump atau TTESP milik PT Pertamina Hulu Sanga Sanga. Pompa listrik berukuran ringkas tersebut dapat dipasang tanpa menggunakan rig dan diklaim mampu meningkatkan produktivitas sumur minyak hingga 150% di area selatan Wilayah Kerja Sanga Sanga.
Penerapan teknologi itu meningkatkan rata-rata produksi sumur dari sekitar 60 barel per hari menjadi 150 barel per hari. Proses pemasangannya juga lebih cepat dibandingkan metode konvensional sehingga dapat mengurangi waktu penghentian produksi.
"Perusahaan terus berinovasi dalam mengoptimalkan pemulihan (recovery rate) dari lapangan migas Regional-3 Kalimantan yang sudah berproduksi selama puluhan tahun (mature)," tambahnya.
Proyek Manpatu dan Sisi Nubi Perkuat Produksi Gas
Kinerja PHI juga didukung perkembangan proyek yang dikelola PT Pertamina Hulu Mahakam. Pada 27 Mei 2026, perusahaan menyelesaikan pemasangan jacket dan topside Platform Offshore Manpatu berbobot sekitar 1.000 ton.
Platform tersebut berada di kawasan lepas pantai South Mahakam, sekitar 35 kilometer dari pesisir Balikpapan. Proyek Manpatu dikembangkan dari temuan gas Sumur Manpatu-1X dan ditargetkan mulai berproduksi pada kuartal I 2027. Dengan demikian, pencapaian pada Mei merupakan penyelesaian pemasangan platform, bukan selesainya keseluruhan proyek.
PHM juga berhasil mengoperasikan platform keempat dalam Proyek Sisi Nubi Area of Interest pada Juni 2026. Proyek tersebut mencakup pembangunan enam platform baru, tiga perluasan fasilitas, jaringan pipa bawah laut sepanjang 22 kilometer, serta pengembangan 36 sumur.
Platform-platform yang telah beroperasi memberikan tambahan pasokan gas dari Wilayah Kerja Mahakam. Pengembangan Sisi Nubi menggunakan sejumlah inovasi, termasuk pemetaan target bawah permukaan berbasis pembelajaran mesin dan teknologi fondasi bawah laut yang mempercepat instalasi.
Dua Sumur Sejadi Tambah Produksi 1.865 Barel per Hari
Tambahan produksi minyak juga berasal dari dua sumur pengembangan PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur di Lapangan Sejadi, yakni SJ-6 dan SJ-4RD1.
Hasil pengujian menunjukkan Sumur SJ-6 menghasilkan 942 barel minyak per hari. Sumur SJ-4RD1 menghasilkan 923 barel minyak per hari dan gas sebesar 0,853 juta standar kaki kubik per hari.
Secara keseluruhan, kedua sumur tersebut menambah produksi minyak sekitar 1.865 barel per hari. Pengeboran diklaim dapat diselesaikan lebih cepat dengan biaya lebih rendah dibandingkan anggaran yang ditetapkan.
"PT Pertamina Hulu Kalimantan Timur (PHKT) juga mencatatkan hasil positif melalui dua sumur di Lapangan Sejadi," jelas Muharram.
Kepala Perwakilan SKK Migas Kalimantan dan Sulawesi Hariyanto Syafrie menilai pengembangan Lapangan Sejadi membuktikan lapangan eksisting masih dapat memberikan tambahan produksi.
"Keberhasilan pengeboran dan pengoperasian Sumur Sejadi SJ-6 dan SJ-4RD1 menunjukkan bahwa potensi peningkatan produksi masih dapat diwujudkan melalui penerapan teknologi yang tepat, pemahaman subsurface yang komprehensif, serta eksekusi operasi yang unggul. Tambahan produksi ini memberikan kontribusi positif terhadap pencapaian target produksi minyak nasional sekaligus memperkuat ketahanan energi Indonesia," ujar Hariyanto.
Keselamatan Operasi Tetap Dijaga
PHI mengelola operasi hulu migas Regional 3 Kalimantan yang meliputi Zona 8, Zona 9, dan Zona 10. Sepanjang semester I 2026, perusahaan mencatat 73,1 juta jam kerja selamat tanpa kecelakaan serta total recordable incident rate sebesar 0,03.
Aspek keselamatan menjadi penting karena kegiatan hulu migas memiliki risiko tinggi, terutama pada pengeboran lepas pantai, pemasangan platform, intervensi sumur, serta pengoperasian fasilitas yang telah berusia lama.
Secara lebih luas, Pertamina Hulu Energi mencatat produksi migas sebesar 935 ribu barel setara minyak per hari pada semester I 2026. Angka itu terdiri atas produksi minyak 459 ribu barel per hari dan produksi gas 2,756 miliar standar kaki kubik per hari.
Capaian PHI menjadi bagian dari upaya mengejar target nasional produksi minyak satu juta barel per hari dan gas 12 miliar standar kaki kubik per hari. Target tersebut ditempuh melalui optimalisasi lapangan eksisting, pengeboran sumur pengembangan, penerapan teknologi peningkatan perolehan minyak, dan eksplorasi sumber baru.
Selain kegiatan produksi, PHI bersama SKK Migas menjalankan program sosial dan lingkungan bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi.
"Program TJSL itu di bidang ekonomi, pendidikan, kesehatan, lingkungan, Infrastruktur, dan tanggap bencana," sebut Muharram Jaya Pangurinseng.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar