Periskop.id - Hajar Aswad merupakan batu yang menjadi tujuan utama jutaan umat Islam saat menunaikan ibadah haji maupun umrah di Tanah Suci Makkah.
Setiap tahun, para jemaah akan rela mengantre berjam jam dalam kerumunan yang padat hanya untuk mendapatkan kesempatan mencium atau sekadar mengusap batu hitam yang terletak di sudut tenggara Ka'bah tersebut.
Keberadaannya bukan sekadar ornamen bangunan, melainkan simbol ketaatan yang memiliki sejarah panjang dalam peradaban Islam.
Dalam narasi tradisional Islam, dikisahkan bahwa pada awalnya batu tersebut berwarna putih bersih dan bahkan mampu memancarkan sinar yang terang.
Namun, seiring berjalannya waktu, terjadi perubahan warna yang drastis pada batu tersebut hingga menjadi hitam pekat. Keyakinan umum yang berkembang di kalangan umat menyebutkan bahwa perubahan warna ini terjadi karena batu tersebut menyerap dosa dosa umat manusia di bumi.
Perspektif Agama
Keagungan Hajar Aswad telah ditegaskan dalam berbagai literatur Islam. Hajar Aswad, batu hitam yang menjadi pusat perhatian jutaan jemaah haji dan umrah di Ka'bah, selama ini diyakini umat Islam sebagai batu dari surga.
Penjelasan ini diperkuat oleh landasan hadis yang kuat. Dalam sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan At-Tirmidzi.
“Hajar Aswad adalah batu dari batu-batuan surga,” HR Tirmidzi.
Landasan ini juga merujuk pada sabda Rasulullah SAW lainnya yang memberikan gambaran visual mengenai kondisi awal batu suci ini sebelum terpapar kehidupan dunia.
“Rasulullah SAW bersabda ‘Hajar Aswad turun dari surga berwarna lebih putih dari susu, lalu menjadi hitam akibat dosa-dosa Bani Adam’,” HR Tirmidzi.
Riwayat dari Imam Ath-Thabari juga mencatat momen bersejarah ketika Nabi Ibrahim AS sedang membangun Ka'bah. Saat itu, Nabi Ismail AS sedang mencari batu untuk melengkapi konstruksi, namun Nabi Ibrahim AS ternyata sudah meletakkan Hajar Aswad di posisinya. Saat ditanya mengenai asalnya, beliau menjawab bahwa batu itu dibawa oleh Jibril dari langit.
Penjelasan Sains
Kisah luar biasa mengenai Hajar Aswad mendorong para ilmuwan untuk mencari tahu jawaban sains terhadap misteri batu tersebut. Sudah sejak lama para ilmuwan membuat teori ihwal jenis batuan Hajar Aswad.
Kini, sejumlah penelitian ilmiah justru memberi temuan menarik di mana batu tersebut kemungkinan besar memang berasal dari luar bumi atau merupakan benda antariksa yang jatuh ke permukaan bumi.
Salah satu studi yang paling sering dirujuk adalah karya E. Thomsen yang berjudul New Light on the Origin of the Holy Black Stone of the Ka'ba yang diterbitkan pada tahun 1980.
Thomsen menceritakan bahwa pada tahun 1932, seorang peneliti bernama Philby menemukan sebuah kawah tumbukan meteor di wilayah Al-Hadidah yang kemudian dikenal sebagai kawah Wabar. Kawah ini memiliki ukuran yang sangat besar, yakni lebih dari 100 meter, dan di sekitarnya ditemukan banyak pecahan meteor yang tersebar di gurun pasir.
Pecahan meteor di Wabar ini memiliki karakteristik yang unik. Secara garis besar, pecahan tersebut terbentuk dari peleburan pasir dan silika yang bercampur dengan unsur nikel.
Seiring waktu, menurut Thompson, campuran zat tersebut memunculkan lapisan warna putih dari bagian dalam, namun di bagian luar terbungkus oleh cangkang hitam yang keras.
Warna hitam pekat ini dihasilkan dari nikel yang diperoleh melalui proses ledakan nikel dan ferum atau besi di luar angkasa sebelum jatuh ke bumi.
Beranjak dari pengamatan mendalam ini, Thomsen menyebut bahwa ciri-ciri pecahan meteor Wabar sangat sesuai dengan gambaran fisik Hajar Aswad yang dikenal umat Islam. Sebagai contoh, warna putih yang dahulu disebut dipancarkan oleh Hajar Aswad mungkin berasal dari paparan bagian dalam inti hasil campuran zat kimia meteorit tersebut.
Menurut penelitian ilmiah, lapisan warna putih pada jenis batuan meteor ini bersifat sangat rapuh dan tidak tahan lama jika terpapar lingkungan luar secara terus menerus. Atas dasar inilah, bagian putih tersebut terlindungi di dalam lapisan batuan berwarna hitam yang menyelimutinya.
Hal ini memberikan penjelasan rasional bahwa batuan berwarna putih itu tidak abadi dan bisa menghilang atau terkikis seiring waktu, sehingga pada akhirnya hanya tersisa bagian luar yang berwarna hitam saja.
Oleh karena itu, dalam narasi Hajar Aswad terkait perubahan warna memang benar bisa ada penjelasannya secara sains. Berarti, dalam konteks penelitian ini, fenomena perubahan warna tersebut bukan disebabkan oleh penyerapan dosa dosa manusia, melainkan proses oksidasi dan karakteristik kimiawi batuan meteorit. Sementara itu, bintik bintik putih yang masih terlihat pada Hajar Aswad saat ini diyakini merupakan sisa-sisa kaca dan batu pasir yang terbentuk saat proses benturan meteor ribuan tahun silam.
Meskipun teori ini tampak sangat logis, namun bukan berarti tanpa celah. Teori Hajar Aswad berasal dari batu meteor juga punya kelemahan. Peneliti lain menyebutkan bahwa secara umum batu meteor tidak memiliki sifat mengapung di air, tidak mudah pecah menjadi bagian bagian kecil yang halus, serta memiliki struktur yang sulit menahan erosi dalam jangka waktu ribuan tahun.
Akan tetapi, terlepas dari perdebatan tersebut, sejauh ini teori yang dianggap paling dekat dan masuk akal untuk menjelaskan asal usul fisik Hajar Aswad adalah teori meteorit.
Menurut Thomsen, akan jauh lebih tepat bagi para peneliti masa depan untuk memfokuskan studi pada material yang berasal dari meteor guna mengungkap tabir misteri batu paling suci di dunia ini.
Tinggalkan Komentar
Komentar