Periskop.id - PT Blue Bird Tbk (BIRD) membukukan kenaikan pendapatan hingga mencapai Rp2,97 triliun sepanjang Semester I 2026. Lonjakan kinerja keuangan ini terdorong oleh penguatan di seluruh lini bisnis serta tingginya mobilitas warga.

Direktur Utama PT Blue Bird Tbk Andre Djokosoetono menilai ekspansi yang solid di berbagai lini operasional sukses memicu pertumbuhan emiten transportasi ini. Menurutnya, perkembangan kebutuhan perjalanan masyarakat menjadi kunci utama dibalik capaian positif tersebut.

"Pada periode ini, Blue Bird membukukan pendapatan sebesar Rp2,97 triliun, tumbuh 11,3% dibandingkan semester pertama tahun lalu, dengan EBITDA mencapai Rp714 miliar dan laba bersih sebesar Rp323,8 miliar," kata Andre dalam keterangan di Jakarta, Selasa (4/8).

Ia menyampaikan bahwa capaian moncer tersebut membuktikan ketahanan model bisnis perusahaan. Dinamika global seperti fluktuasi nilai tukar rupiah hingga lonjakan biaya operasional dinilai berhasil diantisipasi secara tepat.

Langkah diversifikasi layanan dan konsistensi operasional disebut mampu menjaga kesehatan finansial perseroan. Menurutnya, strategi ini efektif memperkokoh fondasi pertumbuhan jangka panjang bisnis armada tersebut.

"Kami percaya kekuatan Bluebird terletak pada kemampuan menghadirkan berbagai solusi mobilitas yang saling melengkapi," ucapnya.

Andre menegaskan bahwa manajemen bakal terus menggelontorkan investasi di setiap lini usaha. Langkah ini diambil untuk mendongkrak kualitas operasional dan kapasitas sumber daya manusia demi memberikan nilai tambah bagi pelanggan.

Strategi investasi tersebut terefleksi langsung pada struktur pendapatan perusahaan, di mana armada taksi menyumbang porsi terbesar hingga 69%. Menurut data perseroan, segmen taksi berhasil tumbuh 11,4% jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Sementara itu, unit usaha non-taksi seperti layanan shuttle, sewa bus, dan rental mobil menyumbang porsi 31% dari total pendapatan. Kenaikan produktivitas armada serta optimalisasi aplikasi digital dinilai menjadi pendorong utama pada segmen ini.

Di antara lini non-taksi, layanan shuttle Cititrans dicatat sebagai unit bisnis dengan tingkat pertumbuhan paling cepat. Kondisi tersebut didukung oleh penambahan armada, penataan rute, dan tingginya lonjakan penumpang saat libur sekolah.

Layanan Bigbird juga mempertahankan kinerja positif lewat pesanan segmen korporasi serta rombongan wisata. Di sisi lain, bisnis rental terus mencatatkan tren stabil berkat tingginya penyewaan armada oleh pelanggan perusahaan.

Pengelolaan siklus hidup armada turut dioptimalkan perseroan sebagai bagian integral dari ekosistem bisnis. Penjualan mobil bekas operasional yang telah direkondisi dinilai sukses memberikan nilai tambah bagi aset perusahaan.

"Pendekatan ini mencerminkan efektivitas pengelolaan aset yang mendukung keberlanjutan bisnis secara menyeluruh," bebernya.

Guna mengimbangi ekspansi bisnis, program pengembangan kompetensi dan peningkatan kesejahteraan pengemudi terus dijalankan. Langkah ini dinilai penting untuk menjamin konsistensi kualitas layanan yang aman, nyaman, dan andal bagi penumpang.

Langkah penguatan portofolio dengan meluncurkan layanan baru siap dieksekusi perusahaan pada paruh kedua tahun ini. Menurutnya, peningkatan produktivitas armada dan disiplin operasional menjadi fokus utama untuk merespons kebutuhan pasar secara relevan.

"Memasuki paruh kedua tahun ini, kami akan terus memperkuat portofolio dengan layanan baru, meningkatkan produktivitas armada, serta menjalankan operasional secara disiplin agar dapat terus menghadirkan layanan yang relevan dengan kebutuhan pelanggan," tutup Andre.