Periskop.id - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengkaji peluang industri manufaktur panel surya generasi baru berteknologi Silicon Heterojunction (SHJ/HJT) dan Tandem PV di dalam negeri. Langkah ini ditujukan untuk mempercepat pengembangan energi terbarukan sekaligus pemanfaatan energi bersih di Indonesia.
Peneliti Pusat Riset Teknologi Konversi Energi BRIN Oo Abdul Rosyid memaparkan, perkembangan teknologi panel surya bergerak cepat. Menurutnya, pasar global kini beralih dari teknologi berbasis silikon konvensional menuju teknologi berefisiensi lebih tinggi seperti HJT dan Tandem PV berbasis perovskite-silikon.
"Teknologi SHJ telah menunjukkan efisiensi lebih dari 27 persen, sedangkan teknologi tandem berbasis perovskite-silikon berpotensi mencapai efisiensi lebih dari 30 persen pada skala laboratorium," kata Oo Abdul Rosyid di Jakarta, Selasa (4/8).
Selain efisiensi tinggi, kedua teknologi itu disebut mampu mempertahankan kinerja optimal pada suhu tinggi. Karakteristik tersebut, menurut Rosyid, cocok diterapkan di wilayah beriklim tropis seperti Indonesia.
Potensi pasar panel surya nasional dinilai sangat besar dan beragam. Rosyid menyebutkan, mulai dari pemanfaatan di atap gedung, pembangkit listrik tenaga surya skala besar, hingga PLTS terapung di atas danau dan waduk.
Kapasitas perakitan modul surya dalam negeri pun terus tumbuh signifikan. Sayangnya, sebagian besar komponen utama seperti sel surya dan bahan baku masukan masih bergantung pada pasokan impor, kata Rosyid.
Melalui hasil riset dan pengalaman kolaborasi di Jerman, BRIN melihat peluang strategis bagi industri nasional melakukan lompatan teknologi atau leapfrog. Ketimbang terus bergantung pada teknologi lama yang mulai ditinggalkan pasar global, Rosyid menilai Indonesia berpeluang langsung mengambil peran dalam rantai pasok manufaktur panel surya generasi baru.
"Pengembangan teknologi HJT merupakan pijakan penting menuju masa depan industri panel surya Tandem. Dengan membangun kemampuan manufaktur generasi baru ini, kita tidak sekadar menjadi konsumen atau pasar, tetapi juga mampu memproduksi panel surya secara mandiri yang efisien, hemat bahan baku, dan berdaya saing global," ujarnya.
Hasil kajian yang dilakukan Rosyid di Forschungszentrum Jülich, Jerman, ditargetkan menjadi dasar penyusunan peta jalan nasional. Kajian tersebut juga diharapkan menghasilkan rekomendasi strategis bagi pemerintah dan pelaku industri agar ekosistem industri panel surya dalam negeri terbangun secara holistik.
"Ke depan, penguasaan teknologi panel surya generasi baru ini diharapkan mampu mempercepat terwujudnya kemandirian energi hijau Indonesia serta memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat," tutur Oo Abdul Rosyid.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar