Periskop.id – Puskesmas Kecamatan Pademangan, Jakarta Utara, menjalankan program Pembinaan Unggul Pengendalian Anemia dan Dukungan Emosi Sehat atau Bunga Desa untuk mendampingi ibu hamil berusia remaja. Program ini dikembangkan setelah fasilitas kesehatan tersebut mencatat 101 kasus kehamilan remaja sepanjang 2024 dan 62 kasus hingga pertengahan 2025.

Kepala Puskesmas Kecamatan Pademangan Nur Rahmat mengatakan, data terakhir tersebut menunjukkan perlunya penanganan yang tidak hanya berfokus pada kondisi kandungan, tetapi juga kesehatan mental, kecukupan gizi, dan dukungan keluarga.

"Pada 2024 tercatat sebanyak 101 kasus kehamilan remaja di Kecamatan Pademangan, sedangkan hingga pertengahan tahun 2025 telah tercatat 62 kasus," kata Nur Rahmat di Jakarta, Selasa (28/7).

Program Bunga Desa dirancang sebagai pendampingan terpadu sejak masa kehamilan hingga persiapan persalinan. Remaja yang sedang hamil dinilai membutuhkan perhatian khusus karena masih berada dalam tahap perkembangan fisik, psikologis, dan sosial.

Nur mengatakan pendampingan harus memperhatikan rasa cemas, kesiapan menjadi orang tua, serta kemampuan peserta memahami kebutuhan kesehatan dirinya dan janin.

"Melalui program ini, kami tidak hanya fokus pada kesehatan fisik, tetapi juga memberikan dukungan psikososial agar mereka siap menjalani masa kehamilan hingga persalinan dengan sehat," terangnya.

Keluarga Dilibatkan dalam Pendampingan

Salah satu kegiatan dalam Bunga Desa adalah Kelompok Edukasi Pendampingan Ibu Hamil Remaja atau Kenanga. Peserta tidak datang sendirian, tetapi didampingi anggota keluarga agar edukasi dan perawatan dapat dilanjutkan di rumah.

Materi yang diberikan mencakup kehamilan sehat, persiapan persalinan, perawatan diri, pemenuhan gizi seimbang, dan kesiapan mental. Keterlibatan keluarga juga diharapkan mencegah remaja menjalani kehamilan tanpa dukungan dari lingkungan terdekat.

Puskesmas turut menyediakan media edukasi digital dan visual melalui platform Dahlia dan Teratai. Media tersebut digunakan untuk memperkuat komunikasi antara tenaga kesehatan dan ibu hamil sekaligus meningkatkan kepatuhan menjalani pemeriksaan kehamilan atau antenatal care.

Kementerian Kesehatan menetapkan pemeriksaan kehamilan sedikitnya enam kali selama sembilan bulan, yaitu sekali pada trimester pertama, dua kali pada trimester kedua, dan tiga kali pada trimester ketiga. Setidaknya dua pemeriksaan dilakukan oleh dokter menggunakan ultrasonografi untuk mendeteksi risiko kehamilan lebih awal.

Selain mendapatkan materi, peserta Bunga Desa mengikuti praktik menyusun menu bergizi menggunakan metode Isi Piringku dan alat peraga makanan. Mereka juga mengikuti sesi berbagi pengalaman bersama tenaga kesehatan.

"Kegiatan ini dilengkapi sesi berbagi pengalaman atau sharing session agar peserta memperoleh dukungan emosional secara langsung dari tenaga kesehatan," ucapnya.

Menurut hasil evaluasi internal puskesmas, rata-rata nilai pemahaman peserta dalam tes setelah kegiatan mencapai 100%. Capaian itu menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan, meski dampak jangka panjang program tetap perlu dilihat melalui kepatuhan pemeriksaan, kondisi anemia, dan hasil persalinan peserta.

"Kami berharap melalui pendekatan terintegrasi ini, ibu hamil remaja di Pademangan dapat menjadi ibu yang sehat secara fisik maupun mental. Semoga program ini melahirkan generasi yang sehat darahnya, kuat jiwanya, dan cerah masa depannya," imbuh Nur Rahmat.

Kehamilan Remaja Berisiko bagi Ibu dan Bayi

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mengategorikan remaja sebagai penduduk berusia 10 hingga 19 tahun. Pada fase tersebut, seseorang masih mengalami perkembangan fisik, kognitif, dan psikososial yang cepat.

WHO memperkirakan sekitar 21 juta remaja perempuan berusia 15–19 tahun di negara berpendapatan rendah dan menengah mengalami kehamilan setiap tahun. Sekitar separuhnya merupakan kehamilan yang tidak direncanakan dan diperkirakan menghasilkan 12 juta kelahiran.

Remaja yang hamil menghadapi risiko lebih tinggi mengalami eklampsia, infeksi setelah melahirkan, serta komplikasi lain dibandingkan perempuan berusia 20–24 tahun. Bayi yang lahir dari ibu berusia di bawah 20 tahun juga lebih berisiko mengalami kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, dan kondisi neonatal berat.

Anemia menjadi salah satu kondisi yang perlu diwaspadai. WHO menyebut anemia selama kehamilan berkaitan dengan peningkatan risiko persalinan prematur, berat badan bayi rendah, dan kematian ibu. Karena itu, pemeriksaan kadar hemoglobin, pemenuhan gizi, serta konsumsi tablet tambah darah menjadi bagian penting dalam pendampingan.

Dokter spesialis obstetri dan ginekologi konsultan fertilitas dr. Upik Anggraheni Sp.OG mengatakan kehamilan pada usia remaja tidak disarankan karena tubuh belum mencapai kematangan optimal untuk menghadapi kehamilan dan persalinan.

“Tulang panggul termasuk tulang belakang dan tulang ekor, masih bisa mengalami pertumbuhan hingga usia 20-21 tahun. Panggul yang belum berkembang sepenuhnya berisiko menyebabkan Disproporsi Sefalopelvik (CPD), yaitu ketidaksesuaian antara ukuran kepala bayi dan panggul ibu. Kondisi ini dapat menyebabkan persalinan lama dan meningkatkan kebutuhan untuk operasi sesar (SC),” bebernya. 

Angka Kelahiran Remaja Nasional Masih Perlu Ditekan

Secara nasional, angka kelahiran pada perempuan berusia 15–19 tahun tercatat 18 kelahiran hidup per 1.000 perempuan pada 2024. Angka tersebut telah menurun dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, tetapi pemerintah menilai upaya pencegahan dan pendampingan masih perlu diperkuat karena dampaknya menyentuh kesehatan, pendidikan, dan masa depan remaja.

Program Bunga Desa tidak hanya diarahkan untuk menangani risiko medis setelah kehamilan terjadi. Pendekatan keluarga, edukasi kesehatan reproduksi, dukungan psikologis, dan pemantauan berkelanjutan juga dibutuhkan untuk mencegah kehamilan berikutnya yang terlalu dekat serta membantu peserta melanjutkan pendidikan dan kehidupan sosialnya.

Seorang peserta bernama Nazwa mengaku pendampingan tersebut membantu mengurangi kecemasan dalam menjalani kehamilan pertamanya.

"Saya jadi tahu tentang makanan bergizi, ikut senam, serta menjalani pemeriksaan kesehatan. Ilmu yang saya dapat akan saya terapkan di rumah,” kata remaja berusia 18 tahun tersebut.