Periskop.id - Wabah Ebola di Republik Demokratik (RD) Kongo semakin mengkhawatirkan. Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) mencatat sedikitnya 330 anak meninggal dunia akibat penyakit tersebut, sementara penyebaran virus mulai melumpuhkan berbagai layanan kesehatan dasar di wilayah terdampak.
Hingga 2 Agustus 2026, sebanyak 743 kasus Ebola terkonfirmasi ditemukan pada anak berusia 17 tahun ke bawah dan 330 di antaranya meninggal. UNICEF menyebut wabah kali ini telah menjadi yang terburuk yang pernah tercatat di RD Kongo sekaligus wabah Ebola dengan pertumbuhan tercepat yang pernah didokumentasikan.
"Meskipun anak-anak mencakup hampir satu dari empat kasus terkonfirmasi, mereka menyumbang hampir satu dari tiga kematian. Anak-anak berusia di bawah lima tahun menjadi kelompok yang paling terdampak, dengan tingkat kematian kasus lebih dari dua kali lipat dibandingkan orang dewasa," kata organisasi tersebut dikutip Jumat (7/8).
Data UNICEF menunjukkan tingkat kematian pada anak berusia di bawah lima tahun bahkan mencapai lebih dari 60% dari kasus terkonfirmasi. Sebagai perbandingan, tingkat kematian pada pasien dewasa berusia 18 tahun ke atas berada di bawah 30%.
Kasus Ebola Kini Tembus 4.000
Situasinya terus berkembang cepat. Data terbaru Institut Kesehatan Masyarakat RD Kongo yang dilaporkan Reuters pada Jumat (7/8) menunjukkan jumlah kasus terkonfirmasi telah mencapai 4.053 kasus dengan 1.850 kematian. Angka ini memperbarui data sebelumnya yang mencatat 3.973 kasus dan 1.801 kematian.
Kasus telah ditemukan di lima provinsi, yakni Ituri, Kivu Utara, Kivu Selatan, Haut-Uélé, dan Tshopo. Namun, Ituri masih menjadi pusat utama penyebaran wabah.
Wabah tersebut secara resmi diumumkan pada 15 Mei 2026. Namun, penelitian yang dikutip Reuters menunjukkan virus kemungkinan sudah beredar sejak Januari atau bahkan lebih awal di sekitar wilayah Ituri. Lebih dari 500 kasus suspek diperkirakan telah muncul sebelum pemerintah secara resmi menyatakan wabah Ebola.
Kecepatan penyebarannya jauh melampaui epidemi sebelumnya. Reuters melaporkan pejabat kesehatan memperkirakan wabah kali ini berkembang sekitar lima kali lebih cepat dibandingkan wabah Ebola terdahulu pada tahap yang sama. Epidemi 2018-2020 membutuhkan waktu lebih dari 10 bulan untuk melewati 2.000 kasus, sementara wabah 2026 mencapai jumlah tersebut hanya dalam sekitar dua bulan.
Layanan Kesehatan Anak Ikut Terpukul
Ancaman Ebola tidak hanya berasal dari infeksi langsung. Wabah juga membuat keluarga semakin enggan membawa anak maupun anggota keluarga lainnya ke fasilitas kesehatan karena khawatir tertular.
UNICEF mencatat penggunaan layanan kesehatan esensial di empat pusat wabah, yakni Bunia, Mongbwalu, Nizi, dan Rwampara, anjlok 42% sepanjang April hingga Juni 2026. Secara keseluruhan di Provinsi Ituri, pemanfaatan layanan kesehatan turun sekitar 13%.
Dampak besar juga terlihat pada imunisasi. Vaksinasi rutin anak turun lebih dari separuh di wilayah pusat wabah. Di Mongbwalu, yang menjadi episentrum Ebola, pemberian dosis pertama vaksin campak merosot 69%. Fasilitas kesehatan di Ituri juga memberikan lebih dari 23.000 dosis vaksin rutin anak lebih sedikit pada Mei dan Juni dibandingkan April.

Layanan kesehatan ibu ikut terganggu. Persalinan yang dibantu di fasilitas kesehatan turun sekitar 13% di seluruh Ituri, sementara kunjungan antenatal pertama di sejumlah wilayah pusat wabah merosot sekitar 28%.
"Wabah Ebola sangat mengganggu seluruh sistem kesehatan, dengan konsekuensi yang tidak terelakkan terhadap penanganan kasus malaria, diare, dan penyakit lain yang dapat diobati dan merupakan penyebab utama kematian pada anak-anak," kata John Agbor, perwakilan UNICEF di RD Kongo.
Virus Bundibugyo Jadi Tantangan Besar
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut wabah kali ini disebabkan oleh virus Ebola spesies Bundibugyo. Berbeda dengan spesies Zaire yang telah memiliki vaksin dan pengobatan tertentu, untuk Bundibugyo belum tersedia vaksin yang disetujui maupun terapi spesifik yang terbukti efektif.
Kondisi tersebut membuat upaya penanggulangan menjadi lebih sulit. Reuters mencatat keterlambatan mendeteksi kasus, kewalahan sistem pengawasan, konflik bersenjata, pergerakan penduduk yang tinggi hingga keterbatasan vaksin dan pengobatan turut mempercepat penyebaran. Sekitar 80% infeksi baru pada Juli juga diperkirakan muncul di luar rantai penularan yang sebelumnya sudah diketahui.
Doctors Without Borders atau Médecins Sans Frontières (MSF) memperingatkan, situasi di bagian timur RD Kongo kini "lebih kritis dari sebelumnya". Organisasi tersebut menilai wabah menyebar pada tingkat yang mengkhawatirkan dan belum pernah terjadi sebelumnya serta "tidak menunjukkan tanda-tanda akan melambat."
MSF mengatakan, pusat-pusat penanganan menghadapi tekanan berat. Di Ituri, hanya sekitar 59% kontak pasien yang berhasil ditelusuri, sementara sekitar 90% pasien yang masuk ke pusat perawatan Ebola MSF di Bunia sebelumnya tidak tercatat sebagai kontak kasus yang sudah diketahui.
Untuk memperkuat respons, UNICEF bersama pemerintah RD Kongo, WHO dan Africa CDC telah melatih sekitar 13.000 pekerja serta tokoh masyarakat. Upaya tersebut telah menjangkau lebih dari 2,4 juta orang dengan informasi pencegahan dan deteksi dini Ebola serta mencakup lebih dari 505.000 kunjungan rumah.
Namun kebutuhan pendanaan masih besar. UNICEF memperkirakan membutuhkan US$113,45 juta untuk memperluas respons dari 21 menjadi 51 zona kesehatan terdampak dan berisiko tinggi. Hingga awal Agustus, baru US$23,5 juta yang berhasil dihimpun sehingga masih terdapat kesenjangan pendanaan sekitar US$89,9 juta.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar