Periskop.id - Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) mencatat tonggak baru dalam layanan kardiovaskular setelah berhasil melakukan implantasi Left Ventricular Assist Device (LVAD) CoreHeart 6, perangkat pompa mekanis yang diklaim sebagai salah satu alat bantu jantung paling kecil dan ringan di dunia.
Prosedur tersebut menjadi implantasi pertama CoreHeart 6 di Asia. Teknologi ini ditujukan untuk pasien gagal jantung stadium lanjut, terutama mereka yang fungsi pompanya sudah sangat rendah dan memiliki pilihan terapi terbatas.
Pasien pertama yang menjalani prosedur di RSCM merupakan perempuan berusia 45 tahun. Sebelum operasi, fungsi pompa jantung pasien dilaporkan hanya sekitar 14% dan ia telah berulang kali menjalani perawatan akibat gagal jantung.
Direktur Jenderal Kesehatan Lanjutan Kementerian Kesehatan Azhar Jaya mengatakan, teknologi LVAD dapat menjadi alternatif penting di tengah keterbatasan transplantasi jantung.
"Selama ini terapi utama gagal jantung stadium akhir adalah transplantasi jantung. Namun tantangannya sangat besar karena keterbatasan donor dan dokter dengan kompetensi khusus. Kehadiran teknologi LVAD memberi harapan baru untuk memperpanjang usia sekaligus meningkatkan kualitas hidup pasien," kata Azhar.
Berat Hanya 90 Gram
LVAD merupakan perangkat mekanis yang ditanam melalui operasi untuk membantu ventrikel kiri, ruang utama pemompa jantung, mengalirkan darah ke seluruh tubuh ketika kemampuan jantung sudah menurun drastis. Perangkat dapat digunakan sebagai dukungan jangka panjang maupun pada kondisi tertentu sebagai jembatan menuju transplantasi atau pemulihan.
Berdasarkan data Shenzhen Core Medical Technology, produsen perangkat tersebut, Corheart 6 memiliki diameter pompa sekitar 34 milimeter dan bobot hanya 90 gram. Produsen menyebut bobotnya sekitar 50% lebih ringan dibandingkan sejumlah perangkat sejenis di pasaran.
Ukuran tersebut menjadi salah satu keunggulan utama karena perangkat membutuhkan ruang implantasi yang lebih kecil. Kajian ilmiah mengenai Corheart 6 yang terbit pada 2026 juga menggambarkannya sebagai LVAD ultra-kompak dengan bobot 90 gram.
Beban gagal jantung sendiri masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Data Global Burden of Disease 2019 yang dikutip RSCM menunjukkan prevalensi gagal jantung di Indonesia diperkirakan sekitar 900 hingga 1.000 kasus per 100.000 penduduk, dengan tingkat kematian sekitar 34,1%.
Secara global, Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mencatat penyakit kardiovaskular menyebabkan sekitar 19,8 juta kematian pada 2022 atau sekitar 32% dari seluruh kematian dunia.
Pasien Lepas Ventilator dalam 24 Jam
Kepala Departemen Kardiovaskular RSCM Birry Karim mengatakan, implantasi CoreHeart 6 dilakukan melalui kerja tim multidisiplin yang melibatkan dokter jantung, dokter bedah jantung, anestesi, dokter intensif, perawat, serta tenaga kesehatan lainnya.
RSCM sendiri telah merintis layanan khusus gagal jantung sejak 2017. Program tersebut kemudian dikembangkan menjadi layanan terpadu untuk menangani pasien dengan gagal jantung stadium lanjut.
Perkembangan pasien pertama setelah operasi disebut cukup menggembirakan. Sekitar 24 jam setelah tindakan, pasien sudah dapat dilepas dari ventilator dan mulai menjalani latihan mobilisasi.
"Sejauh ini kondisi pasien terus membaik. Begitu pasien berhasil melewati fase kritis dan dapat dilepas dari ventilator, kami merasa sangat lega. Ini menjadi milestone penting bagi pengembangan layanan gagal jantung di Indonesia," ujar Birry.
Meski kondisi pasien terus membaik, tim medis masih melakukan pemantauan ketat terhadap sejumlah risiko pascaoperasi, termasuk infeksi, perdarahan, serta gangguan fungsi organ.
Bukan Teknologi LVAD Pertama di Indonesia
Keberhasilan RSCM perlu dibedakan dari penggunaan LVAD secara umum di Indonesia. Teknologi LVAD sebelumnya sudah diperkenalkan sebagai pilihan terapi gagal jantung, termasuk di Rumah Sakit Siloam Kebon Jeruk pada 2023. Karena itu, tonggak yang dicatat RSCM kali ini adalah implantasi CoreHeart 6 pertama di Asia, bukan kehadiran LVAD pertama di Indonesia.
Seminggu sebelum prosedur tersebut, RSCM juga telah mengumumkan pengembangan layanan LVAD yang disertai pelatihan tenaga medis. Tim RSCM menjalani pelatihan di Fuwai Hospital, Beijing, mulai dari seleksi pasien, teknik implantasi, penanganan pascaoperasi hingga pengembangan sistem layanan.
Pendiri HeartSpan.ai sekaligus Founder dan Chairman Borderless Healthcare Group Wei Siang Yu mengatakan, kerja sama tidak hanya berfokus pada pemasangan perangkat.
"Ini bukan sekadar menghadirkan perangkat medis, tetapi membangun ekosistem pelayanan gagal jantung yang berkelanjutan melalui pelatihan, inovasi, dan kolaborasi internasional," kata Wei.
Kolaborasi tersebut juga mencakup transfer pengetahuan dan pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI dalam pengembangan layanan gagal jantung. RSCM berharap kerja sama itu dapat berkembang hingga rumah sakit tersebut menjadi salah satu pusat pelatihan teknologi LVAD di kawasan Asia.
Direktur Utama RSCM Supriyanto Dharmoredjo menilai, keberhasilan implantasi tersebut menunjukkan meningkatnya kemampuan tenaga medis Indonesia dalam menguasai teknologi kardiovaskular berstandar internasional.
Azhar menegaskan pemerintah ingin penguasaan teknologi kesehatan canggih tidak berhenti pada penggunaan perangkat impor, tetapi turut mendorong pengembangan kompetensi dan inovasi di rumah sakit nasional.
"Kami tidak ingin rumah sakit nasional hanya menjadi penonton. Kami ingin menjadi pemain. Indonesia harus menjadi kebanggaan di bidang layanan kesehatan," tuturnya.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar