Periskop.id – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memastikan dua jembatan penyeberangan orang di Jalan H.R. Rasuna Said, Jakarta Selatan, akan dihubungkan setelah keberadaannya menjadi sorotan publik. Dua JPO itu berdiri berdampingan, tetapi pengguna harus turun dan berjalan memutar karena keduanya tidak memiliki akses penghubung.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan persoalan tersebut akan segera dibahas untuk menentukan langkah penyambungan kedua fasilitas.
“Kami akan segera memutuskan untuk menghubungkannya (dua JPO itu),” kata Pramono di Jakarta, Selasa (4/8).
Pramono mengaku baru mengetahui kedua JPO tersebut tidak saling terkoneksi setelah persoalannya ramai diperbincangkan. Pemprov DKI kemudian menjadwalkan pembahasan khusus mengenai rancangan penyambungan dan pengelolaan fasilitas tersebut.
“Besok kami ada rapat paripurna khusus untuk itu. Jadi, JPO Rasuna Said segera akan dihubungkan supaya fasilitas tersebut terkoneksi dengan baik,” kata dia.
Dibangun pada waktu dan untuk fungsi berbeda
Dinas Bina Marga DKI Jakarta menjelaskan kedua JPO tidak dibangun dalam satu proyek. JPO pertama merupakan fasilitas milik Pemprov DKI yang lebih dahulu berdiri untuk melayani penyeberangan masyarakat umum.
Sementara itu, JPO kedua dibangun oleh pihak LRT Jabodebek sebagai fasilitas integrasi antarmoda. Struktur tersebut menghubungkan Stasiun LRT Jabodebek dengan Halte Transjakarta Rasuna Said.
Sebelum Halte Transjakarta dipindahkan ke bawah stasiun terintegrasi, JPO lama milik Pemprov DKI juga digunakan sebagai akses menuju halte. Setelah pemindahan dilakukan, akses penumpang dialihkan ke JPO integrasi yang dibangun pihak LRT Jabodebek.
Kepala Pusat Data dan Informasi Dinas Bina Marga DKI Jakarta Siti Dinarwenny menegaskan JPO integrasi tetap dapat digunakan warga yang tidak menggunakan layanan LRT maupun Transjakarta.
“JPO integrasi terdapat area tidak berbayar (unpaid area) sehingga dapat digunakan oleh masyarakat umum untuk menyeberang. Fasilitas ini telah dilengkapi dengan lift untuk memudahkan akses masyarakat, khususnya penyandang disabilitas, lansia, ibu hamil, serta pengguna lainnya yang membutuhkan kemudahan akses,” ujar Dinar.
Penyambungan terbentur perbedaan ketinggian
Meski Pemprov DKI telah memutuskan kedua JPO akan dihubungkan, rancangan penyambungannya masih membutuhkan kajian teknis bersama LRT Jabodebek sebagai pemilik dan pengelola JPO integrasi.
Berdasarkan pemeriksaan awal Dinas Bina Marga, lantai kedua JPO memiliki perbedaan elevasi sekitar 75 sentimeter. Sementara jarak horizontal di antara kedua struktur hanya sekitar 60 sentimeter. Jarak tangga turun dari masing-masing JPO juga mencapai sekitar 50 meter.
Jarak yang sempit dan perbedaan ketinggian tersebut membuat tangga atau jalur landai tidak dapat langsung dibangun tanpa rancangan baru yang memenuhi standar keselamatan dan aksesibilitas.
“Kondisi tersebut tidak memungkinkan untuk membangun tangga maupun ramp yang memenuhi persyaratan keselamatan, keamanan, kenyamanan, serta standar aksesibilitas bagi pengguna,” ujar Siti.
Karena salah satu bangunan berada di bawah pengelolaan LRT Jabodebek, penyambungan juga memerlukan koordinasi antarlembaga. Kajian dibutuhkan untuk memastikan perubahan struktur tidak mengganggu operasional stasiun, halte, ataupun pergerakan pengguna transportasi umum.
Warga mengaku bingung dan harus memutar
Kondisi dua JPO yang berdekatan tetapi tidak terhubung membuat sejumlah pengguna Transjakarta kebingungan. Sebagian pengguna mengira JPO lama masih menjadi jalur langsung menuju halte, tetapi mereka harus kembali turun dan berpindah ke JPO integrasi.
Seorang pengguna Transjakarta bernama Anna berharap kedua fasilitas segera disambungkan agar perjalanan menuju halte lebih singkat dan tidak membingungkan pengguna baru.
“Disambungin lagi, paling itu sih. Ya mungkin bisa disambungin lagi sih. Soalnya kalau misalkan orang yang nggak tahu daerah sini juga bakalan bingung kan? Kayak dia udah terlanjur naik di situ, mikirnya udah masuk ke TJ, tapi ternyata dia harus muter lagi, naik lagi ke sini untuk nyambung ke TJ gitu. Jadi kayak bikin bingung aja,” tutur Anna.
Penyambungan juga dinilai dapat mengurangi penumpukan pengguna LRT dan Transjakarta pada satu akses, terutama saat jam berangkat dan pulang kerja.
Rencana ini menjadi bagian dari upaya lanjutan penataan kawasan Rasuna Said. Sebelumnya, Pemprov DKI telah menata koridor tersebut sepanjang 3,8 kilometer melalui perbaikan trotoar, penyesuaian elevasi jalur cepat dan jalur lambat, serta pembongkaran 109 tiang monorel. Proyek itu menghabiskan biaya sekitar Rp91 miliar.
Penyambungan dua JPO diharapkan tidak hanya menyelesaikan kebingungan pengguna, tetapi juga memperkuat konektivitas antara fasilitas pejalan kaki, Transjakarta, dan LRT Jabodebek di salah satu kawasan bisnis utama Jakarta.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar