Periskop.id - Bank Jakarta memperkuat investasi pada sumber daya manusia di bidang teknologi untuk menopang transformasi digital perusahaan. Melalui Officer Development Program (ODP) Information Technology Batch I 2026, bank milik Pemprov DKI Jakarta itu menyiapkan talenta yang akan bekerja di tengah perkembangan kecerdasan artifisial, data analytics, cloud computing, hingga ancaman keamanan siber yang semakin kompleks.
Program bertema Building Future Digital Leaders for a Smarter, Safer, and Stronger Bank Jakarta tersebut resmi dimulai pada Kamis (7/8) melalui kerja sama dengan BINUS University. Sebanyak 17 peserta dipersiapkan untuk mengembangkan kompetensi teknis sekaligus pemahaman terhadap bisnis dan operasional perbankan.
Kolaborasi dengan BINUS sebenarnya telah dimulai sejak proses pencarian kandidat. Pada April 2026, Bank Jakarta menggelar campus hiring untuk ODP IT Batch I di BINUS @Senayan sebagai bagian dari perekrutan talenta muda di sektor digital banking.
Direktur Utama Bank Jakarta Agus H. Widodo mengatakan, pengembangan SDM teknologi tidak berdiri sendiri, tetapi menjadi bagian dari transformasi perusahaan yang mencakup bisnis, operasional, manajemen risiko hingga budaya kerja.
Bank Jakarta, lanjutnya, saat ini tengah menjalankan transformasi secara menyeluruh yang mencakup aspek bisnis, operasional, manajemen risiko, teknologi informasi, hingga pengembangan people and culture sebagai satu kesatuan yang saling memperkuat.
"Kami meyakini bahwa kemampuan untuk terus beradaptasi dan berinovasi merupakan fondasi utama agar Bank Jakarta mampu tumbuh secara berkelanjutan di tengah perubahan industri yang semakin dinamis. Oleh karena itu, melalui Officer Development Program Information Technology ini, kami menyiapkan talenta digital yang akan menjadi bagian penting dalam mengakselerasi transformasi tersebut," ujar Agus.
AI hingga Keamanan Siber Jadi Tantangan Bank
Kebutuhan terhadap tenaga teknologi semakin besar ketika layanan perbankan berpindah ke kanal digital. Bank tidak hanya dituntut mengembangkan aplikasi yang cepat dan mudah digunakan, tetapi juga harus menjaga ketersediaan layanan, keamanan transaksi serta pengelolaan risiko.
Direktur Teknologi & Operasional Bank Jakarta Daniel Setiawan Subianto menuturkan, perkembangan artificial intelligence (AI), big data, data analytics, cloud computing hingga modernisasi arsitektur teknologi membuka peluang baru sekaligus menciptakan tantangan bagi industri.
Kondisi tersebut membuat tenaga teknologi di bank tidak cukup hanya memahami aspek teknis. Mereka juga perlu mengetahui proses bisnis agar dapat menerjemahkan teknologi menjadi solusi yang relevan.
Melalui ODP Information Technology, kata Daniel, peserta dipersiapkan untuk memiliki kapabilitas teknis di berbagai bidang teknologi informasi yang relevan dengan kebutuhan industri perbankan masa kini dan masa depan. "Selain penguasaan aspek teknologi, mereka juga dibekali pemahaman mengenai bisnis dan operasional perbankan sehingga mampu menghadirkan solusi digital yang inovatif, memperkuat ketahanan sistem, meningkatkan efisiensi operasional, serta mendukung akselerasi transformasi Bank Jakarta secara berkelanjutan," jelas Daniel.
Isu tersebut juga menjadi perhatian regulator. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada Februari 2026 bersama Bank Indonesia menginisiasi Pusat Inovasi Digital Indonesia atau PIDI untuk memperkuat inovasi sekaligus pengembangan talenta digital sektor jasa keuangan. Program itu antara lain melibatkan mentoring, pembekalan dan jejaring dengan industri agar talenta digital mampu menghasilkan solusi yang dapat diterapkan.
Kebutuhan SDM semakin penting dari sisi keamanan. OJK pada April 2026 menegaskan teknologi keamanan harus diimbangi kompetensi manusia, disiplin operasional serta kesiapan prosedur menghadapi insiden siber. Regulator bahkan mendorong konsep human firewall, yakni menempatkan karyawan sebagai salah satu garis pertahanan awal dalam mendeteksi ancaman seperti phishing dan malware.
“Keamanan siber bukan lagi sekadar isu teknis, melainkan prasyarat utama bagi keberlanjutan industri keuangan digital,” ujar Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan OJK Adi Budiarso.
Teknologi Jadi Tulang Punggung Transformasi Bank Jakarta
Pengembangan talenta IT melengkapi sejumlah agenda digital yang tengah dilakukan Bank Jakarta.
Pada Maret 2026, Pemprov DKI menyebut infrastruktur teknologi sebagai tulang punggung transformasi Bank Jakarta. Penguatan sistem, pengembangan infrastruktur dan persiapan layanan mobile banking generasi baru ditempatkan sebagai bagian penting dalam agenda tersebut.
“Investasi di bidang teknologi perbankan merupakan kebutuhan yang tidak dapat ditawar,” ucap Wakil Gubernur DKI Jakarta Rano Karno.
Bank Jakarta sendiri, terus mengembangkan JakOne Mobile menjadi platform layanan keuangan digital. Pada 5 Agustus 2026, Agus menyatakan, perusahaan akan melanjutkan pengembangan aplikasi tersebut sebagai platform layanan keuangan modern, sementara peningkatan kualitas pengalaman pengguna, keandalan sistem dan keamanan transaksi menjadi bagian dari fokus pengembangannya.
Transformasi juga merambah layanan fisik. Pada Juli 2026, Bank Jakarta membuka KCP Kebayoran Park dengan konsep future branch yang menggabungkan proses bisnis terdigitalisasi dengan interaksi langsung antara petugas dan nasabah. Sebelumnya, pada Januari, bank juga meluncurkan Kartu Debit Visa yang dapat digunakan dalam jaringan internasional sebagai bagian dari perluasan layanan ke tingkat global.
Langkah tersebut menunjukkan transformasi perbankan tidak hanya membutuhkan investasi pada perangkat keras, perangkat lunak atau aplikasi, tetapi juga orang yang mampu mengoperasikan, mengembangkan dan menjaga sistem tersebut.
BINUS Tekankan Talenta Digital Tak Cukup Jago Teknis
Melalui kerja sama dengan BINUS University, peserta ODP IT tidak hanya diarahkan mengembangkan kemampuan teknologi, tetapi juga kompetensi manajerial dan soft skills.
Direktur Utama Creates by BINUS Prof. Firdaus Alamsjah mengatakan, transformasi digital membutuhkan tenaga yang adaptif, mampu berkolaborasi dan berani mengeksplorasi pendekatan baru.
“Melalui program ini, kami berharap 17 peserta dapat mengembangkan kompetensi teknis dan manajerial secara seimbang, sekaligus memahami pentingnya inovasi produk dan layanan serta budaya korporat dalam menjawab kebutuhan industri yang terus berkembang. Kami juga mendorong para peserta untuk tidak takut bertanya dan aktif mengeksplorasi berbagai perspektif selama proses pembelajaran. Rasa ingin tahu, keberanian untuk belajar, dan kemampuan berkolaborasi merupakan bagian penting dari kesiapan talenta masa depan,” kata Prof Firdaus.
Pengembangan talenta seperti yang dilakukan Bank Jakarta juga mencerminkan arah industri secara lebih luas. OJK menilai pengembangan SDM dan inovasi teknologi harus berjalan bersama tata kelola, manajemen risiko serta perlindungan konsumen agar transformasi digital sektor keuangan tidak hanya cepat, tetapi juga aman dan berkelanjutan.
Bagi Bank Jakarta, ODP IT menjadi salah satu investasi jangka panjang untuk memastikan ekspansi digital memiliki dukungan tenaga yang memadai. Tantangannya bukan sekadar melahirkan programmer atau ahli teknologi, tetapi menyiapkan talenta yang memahami bagaimana AI, data, keamanan siber dan infrastruktur digital dapat diterjemahkan menjadi layanan perbankan yang aman, efisien dan relevan bagi nasabah.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar