Periskop.id - Pernahkah kalian membuka daftar kontak di ponsel, lalu menyadari bahwa orang-orang yang dulu hampir setiap hari kita ajak mengobrol kini hanya sesekali bertukar kabar? Atau mungkin grup pertemanan yang dulu begitu aktif kini lebih sering sunyi, kecuali ketika ada undangan pernikahan atau kabar kelahiran anak. Bagi banyak perempuan, pengalaman seperti ini sering muncul ketika memasuki usia sekitar 25 tahun.
Perubahan tersebut kerap memunculkan pertanyaan. Apakah hubungan pertemanan mulai renggang? Apakah diri sendiri berubah? Atau memang kehidupan orang dewasa berjalan seperti itu?
Jawabannya cenderung mengarah pada yang terakhir. Berubahnya sirkel pertemanan setelah usia dewasa tertentu merupakan fenomena yang sangat umum terjadi. Bahkan, psikologi perkembangan dan berbagai penelitian sosial mengamini hal ini.
Memasuki fase hidup baru
Usia pertengahan 20-an sering disebut sebagai masa transisi menuju kedewasaan penuh. Pada fase ini, kita sebagai perempuan mulai menghadapi beragam perubahan besar dalam hidup.
Sebagian mulai meniti karier dengan tanggung jawab yang semakin tinggi. Sebagian lagi memilih melanjutkan pendidikan, membangun usaha, menikah, memiliki anak, atau mulai membantu merawat orang tua yang memasuki usia lanjut. Tidak sedikit pula yang sedang berusaha mencapai kestabilan finansial atau menemukan tujuan hidup yang lebih jelas.
Perubahan prioritas tersebut secara alami mengurangi waktu yang tersedia untuk mempertahankan semua hubungan sosial seperti saat kuliah atau masa remaja.
Jika sebelumnya akhir pekan hampir selalu diisi dengan berkumpul bersama teman, kini waktu luang sering kali digunakan untuk beristirahat, menyelesaikan pekerjaan, mengurus rumah, atau menghabiskan waktu bersama pasangan dan keluarga.
Dari memiliki banyak teman menjadi memilih teman
Semasa sekolah dan kuliah, jumlah teman sering kali menjadi ukuran luasnya kehidupan sosial. Bertemu setiap hari membuat hubungan terasa dekat tanpa memerlukan usaha yang besar.
Namun ketika memasuki usia 25 tahun, banyak dari kita mulai menyadari bahwa memiliki puluhan teman tidak selalu berarti memiliki sistem pendukung yang kuat.
Sebaliknya, mereka mulai menghargai hubungan yang memberikan rasa aman, saling mendukung, mampu mendengarkan tanpa menghakimi, serta hadir ketika benar-benar dibutuhkan. Akibatnya, lingkaran pertemanan memang menjadi lebih kecil, tetapi kualitas hubungan biasanya meningkat.
Fenomena ini sejalan dengan Socioemotional Selectivity Theory yang dikembangkan psikolog Laura L. Carstensen dari Stanford University. Teori tersebut menjelaskan bahwa ketika seseorang semakin dewasa, cara memandang waktu juga berubah.
Jika pada usia muda orang cenderung mengejar pengalaman baru dan memperluas jaringan sosial, maka ketika memasuki usia dewasa mereka mulai lebih memprioritaskan hubungan yang memberikan makna emosional.
Dengan kata lain, energi sosial tidak lagi dibagi kepada semua orang, melainkan difokuskan kepada mereka yang benar-benar penting. Pilihan tersebut bukan berarti menjadi antisosial, melainkan bentuk penyesuaian terhadap waktu, energi, dan kapasitas emosional yang semakin terbatas.
Pertemanan juga ikut “tumbuh dewasa”
Perubahan lain yang sering dirasakan adalah cara berteman yang ikut berubah.
Saat masih berusia belasan tahun, ukuran kedekatan sering diartikan sebagai intensitas bertemu atau saling berkirim pesan setiap hari.
Setelah usia 25 tahun, kedekatan lebih banyak diukur melalui kualitas komunikasi. Dua sahabat bisa saja hanya bertemu beberapa kali dalam setahun, tetapi ketika salah satunya menghadapi masalah, mereka tetap menjadi orang pertama yang saling menghubungi. Hubungan seperti ini justru banyak ditemukan pada persahabatan yang berhasil bertahan hingga dewasa.
Mengapa beberapa teman akhirnya menjauh?
Tidak semua pertemanan mampu bertahan menghadapi perubahan fase kehidupan. Ada teman yang pindah kota karena pekerjaan. Ada yang menikah lebih dulu dan fokus membangun keluarga. Ada pula yang memilih mengejar karier di luar negeri.
Selain faktor jarak, perubahan nilai hidup juga memainkan peran penting. Saat masih muda, kesamaan hobi mungkin cukup untuk membangun persahabatan. Namun seiring bertambahnya usia, banyak perempuan mulai mencari teman yang memiliki nilai hidup serupa, mampu menjaga kepercayaan, menghormati batasan pribadi, dan memberikan dukungan yang sehat.
Perbedaan cara pandang terhadap pekerjaan, keuangan, keluarga, atau gaya hidup kadang membuat hubungan perlahan merenggang tanpa adanya konflik besar.
Perempuan mengutamakan kualitas hubungan
Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa perempuan umumnya membangun persahabatan dengan tingkat keterbukaan emosional yang lebih tinggi dibanding laki-laki. Kita lebih sering berbagi cerita pribadi, mendiskusikan masalah kehidupan, serta mencari dukungan emosional melalui hubungan pertemanan.
Karena investasi emosional tersebut cukup besar, perempuan juga lebih sensitif terhadap hubungan yang terasa tidak seimbang.
Hubungan yang dipenuhi drama, persaingan tidak sehat, gosip, atau kurangnya dukungan sering kali mulai ditinggalkan ketika memasuki usia dewasa. Bukan karena menjadi lebih egois, tetapi karena menjaga kesehatan mental mulai menjadi prioritas.
Media sosial membuat semuanya terlihat berbeda
Ironisnya, media sosial terkadang membuat seseorang merasa dirinya kehilangan banyak teman.
Melihat unggahan teman lama yang masih sering berkumpul dapat memunculkan kesan bahwa semua orang memiliki kehidupan sosial yang lebih menyenangkan. Padahal, media sosial hanya memperlihatkan momen-momen terbaik.
Seseorang yang tampak memiliki banyak teman belum tentu memiliki hubungan yang benar-benar dekat. Sebaliknya, perempuan yang hanya memiliki dua atau tiga sahabat bisa saja memperoleh dukungan emosional yang jauh lebih kuat.
Karena itu, membandingkan kualitas hubungan berdasarkan unggahan media sosial sering kali tidak mencerminkan kondisi sebenarnya.
Kabar baiknya, usia 25 tahun bukan akhir dari kesempatan memiliki teman baru. Justru banyak perempuan menemukan sahabat terbaiknya setelah memasuki dunia kerja, bergabung dengan komunitas olahraga, kelas hobi, organisasi sosial, hingga komunitas profesional.
Pertemanan yang terbentuk pada fase ini sering kali lebih stabil karena dibangun atas dasar kesamaan nilai, tujuan hidup, dan kedewasaan dalam berkomunikasi.
Hubungan yang lahir pada masa dewasa biasanya juga lebih realistis. Tidak ada tuntutan untuk selalu bertemu setiap minggu, tetapi ada komitmen untuk tetap hadir ketika dibutuhkan.
Tidak perlu takut jika sirkel mengecil
Banyak orang menganggap berkurangnya jumlah teman sebagai sesuatu yang menyedihkan. Padahal, bagi sebagian besar perempuan, perubahan tersebut justru menjadi tanda bahwa hidup sedang bergerak menuju fase yang baru.
Energi mulai dialokasikan untuk hubungan yang benar-benar memberikan rasa nyaman, mendukung pertumbuhan diri, dan membawa ketenangan. Persahabatan tidak lagi diukur dari seberapa ramai grup percakapan atau seberapa sering berkumpul, melainkan dari siapa yang tetap ada ketika kehidupan sedang tidak baik-baik saja.
Jadi, jangan pernah merasa kehilangan teman saat semua tengah bermetamorfosis, lebih baik mulai memahami siapa saja yang layak dipertahankan. Dalam perjalanan menuju kedewasaan, kualitas hubungan perlahan menggantikan kuantitas. Dan bagi banyak perempuan, itulah salah satu bentuk pertumbuhan yang paling berharga.
as a preferred
Tinggalkan Komentar
Komentar