Periskop.id - Pemerintah Afrika Selatan secara resmi menetapkan status bencana nasional pada Minggu (18/1), menyusul terjangan hujan deras dan banjir bandang yang melanda wilayah utara negara tersebut.
Melansir dari laporan AP News pada Senin (19/1), bencana alam ini telah mengakibatkan sedikitnya 30 orang meninggal dunia serta menyebabkan kerusakan masif pada ribuan rumah, jalan, hingga jembatan.
Keputusan penetapan status bencana ini diambil oleh kepala Pusat Manajemen Bencana Nasional dan diumumkan langsung oleh pihak pemerintah. Dengan adanya status bencana nasional, pemerintah pusat kini memiliki wewenang penuh untuk mengoordinasikan seluruh sumber daya dalam respons penanganan bencana secara terpadu.
Provinsi Limpopo dan Mpumalanga di bagian utara menjadi wilayah yang menderita dampak paling parah, di mana seluruh korban jiwa sejauh ini terlaporkan berasal dari kedua daerah tersebut.
Meski demikian, Kementerian Tata Kelola Koperasi dan Urusan Tradisional menyatakan bahwa terdapat sedikitnya tiga provinsi lainnya yang turut terdampak oleh cuaca ekstrem tersebut.
Krisis ini tidak hanya melanda Afrika Selatan. Negara tetangga seperti Mozambik dan Zimbabwe juga telah mengalami hujan lebat selama berminggu-minggu.
Kondisi geografis yang berdekatan menyebabkan banjir parah di wilayah tengah dan selatan Mozambik serta Afrika Selatan bagian utara. Sejak hujan mulai turun pada akhir tahun lalu, total korban meninggal dunia di ketiga negara tersebut telah melampaui angka 100 orang.
Kerusakan Infrastruktur dan Kerugian Ekonomi
Besarnya skala kerusakan digambarkan oleh Perdana Menteri Provinsi Limpopo yang menyebutkan bahwa cuaca ekstrem ini telah menyebabkan kerugian materi sekitar US$240 juta di wilayahnya saja. Banyak bangunan dan pemukiman warga dilaporkan hanyut sepenuhnya diterjang arus air yang sangat kuat.
Di tengah situasi darurat ini, tim penyelamat masih berupaya keras melakukan pencarian terhadap empat orang yang dinyatakan hilang.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah Siyanda Baloyi, seorang anak berusia 5 tahun yang diduga terseret banjir saat rumahnya di Provinsi Limpopo terendam pada Kamis pekan lalu.
Selain itu, otoritas berwenang juga melaporkan hilangnya seorang pejabat pemerintah dari Munisipalitas Ekurhuleni, sebelah timur Johannesburg, bernama Andile Mngwevu. Kendaraan yang ia tumpangi terseret banjir saat berada di Mozambik, dan hingga kini ia beserta penumpang lainnya belum ditemukan.
Salah satu cagar alam terbesar di dunia, Taman Nasional Kruger, turut terdampak signifikan. Banjir memaksa otoritas setempat menutup taman tersebut untuk sementara waktu serta melakukan evakuasi darurat terhadap ratusan wisatawan dan staf dari kamp kamp yang terendam banjir ke area yang lebih aman.
Taman yang memiliki luas sekitar 2.000 hektare atau 7,7 mil persegi ini berbatasan langsung dengan Mozambik dan Zimbabwe.
Meskipun mengalami kerusakan parah akibat hujan deras yang menewaskan lebih dari 20 orang di sekitar Provinsi Mpumalanga dan Limpopo, pihak pengelola menjadwalkan pembukaan kembali taman nasional tersebut setelah sebelumnya mengevakuasi lebih dari 300 orang.
Bencana banjir bandang ini menambah daftar panjang tragedi serupa yang menghantam Afrika Selatan dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2022, lebih dari 400 orang tewas akibat banjir di Provinsi KwaZulu-Natal bagian timur.
Sementara pada tahun lalu, tercatat lebih dari 100 orang meninggal dunia akibat banjir di Provinsi Eastern Cape yang terletak di bagian selatan negara tersebut.
Tinggalkan Komentar
Komentar